Pergi

burung, bebas, pergi

Pergi bukan hanya soal menyiapkan apa yang akan di bawa ke tempat tujuan, tapi juga merapikan apa yang akan ditinggalkan.

***
Tentu kau tahu ini bukan tentang kamar berantakan yang biasa kubiarkan sebelum melancong berpetualang. Toh apapun yang berserakan bisa kutumpuk di atas kasur dan kututupi dengan selimut. Lagipula aku bisa mengunci rapat rapat pintunya agar tak ada seorang pun yang masuk.

Ini soal kenangan. Hal yang tak bisa kurapikan hanya dengan menumpuk semuanya, lalu menutupinya dengan dalih-dalih pelampiasan. Seberapapun rapatnya aku mengunci hati, kenangan bukan sesuatu yang mudah dikurung. Ia menjulur pelan melalui celah-celah perasaan yang tersisa. Ia tumbuh bersama harapan yang menyemai.

Lalu bagaimana aku pergi? Tak mungkin aku melangkah jauh bila beban berat menggunung penuh di punggung. Melepas apa yang telah rekat tentu akan membuat luka. Namun mau tak mau ada yang harus kutinggalkan.  Aku hanya berharap waktu akan memudarkan luka itu.

Relakan. Biarkan aku bebas. Jangan kau cegah aku dengan sedu sedan. Aku tak ingin jalanku terhambat karna tersandung rindu.

Kemana aku pergi? Entahlah. Aku hanya menitipkan hati pada tiupan angin. Biarkan ia terbang bersama serbuk bunga yang berhamburan. Akan ada putik yang menunggu, tangan yang menengadah, atau tanah lapang yang menjadi tempat untuk ‘jatuh lagi’.


Tidakkah aku kembali? Aku janji akan menemuimu lagi, namun dengan pemahaman yang lebih rapi. Kisah kita akan terus lanjut dan berantai. Tak selamanya pergi adalah batas ujung penandai usai. Barangkali itu juga berarti awal untuk memulai.




Nerima, 20-03-15




gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu