Posts

Showing posts from March, 2015

Pergi

Image
Pergi bukan hanya soal menyiapkan apa yang akan di bawa ke tempat tujuan, tapi juga merapikan apa yang akan ditinggalkan.
*** Tentu kau tahu ini bukan tentang kamar berantakan yang biasa kubiarkan sebelum melancong berpetualang. Toh apapun yang berserakan bisa kutumpuk di atas kasur dan kututupi dengan selimut. Lagipula aku bisa mengunci rapat rapat pintunya agar tak ada seorang pun yang masuk.
Ini soal kenangan. Hal yang tak bisa kurapikan hanya dengan menumpuk semuanya, lalu menutupinya dengan dalih-dalih pelampiasan. Seberapapun rapatnya aku mengunci hati, kenangan bukan sesuatu yang mudah dikurung. Ia menjulur pelan melalui celah-celah perasaan yang tersisa. Ia tumbuh bersama harapan yang menyemai.
Lalu bagaimana aku pergi? Tak mungkin aku melangkah jauh bila beban berat menggunung penuh di punggung. Melepas apa yang telah rekat tentu akan membuat luka. Namun mau tak mau ada yang harus kutinggalkan.  Aku hanya berharap waktu akan memudarkan luka itu.
Relakan. Biarkan aku bebas. Jangan…

SMT: Sebuah Janji (part 2)

Image
Esok harinya saya datang ke International Office FEB UI. Ternyata benar yang saya takut-takutkan: saya belum berkesempatan untuk ke Jepang. Berkas aplikasi saya sudah diterima dulu di IO sebelum surat dari departemen sampai, sehingga nama sayalah yang keluar di pengumuman sebelumnya. Sebenarnya Deartemen Ilmu Ekonomi merekomendasikan saya ke Ritsumeikan University, bukan Waseda University. Namun di International office, ternyata kursi untuk waseda ternyata sudah ada yang menduduki. Alhasil, saya tidak jadi ke mana-mana. Walaupun sudah diterangkan secara jelas dan saya telah berkata faham, tetap saja rasanya ada yang mengganjal. Ikhlas itu susah, bro. Bahkan saat menuliskan ini sedikit rasa kesal itu masih ada. Di situ saya merasa…. Entahlah.
Sekembali dari kantor IO, saya pulang dengan lunglai. Kelas asistensi yang mestinya ada di sore hari saya lewati. Siapa pula yang bisa konsentrasi dengan kondisi seperti ini. Rencana-rencana yang saya susun rapi ambruk begitu saja. R-e-m-u-k.
Entah …

SMT: Sebuah Janji (part 1)

Image
Saya sudah memendam keinginan pergi ke Jepang sejak kecil. Selain kegemeran saya pada anime dan manga, barangkali keinginan ini tumbuh karena ingin mengikuti ayah yang sempat belajar ke sana. Bahkan saya masih menyimpan komik (Derective Conan vol 12) oleh-olehnya. Dari situ saya berpikir suatu saat akan berangkat ke Jepang, bertemu karakter idola, dan membeli komik sendiri. Yah, namanya juga kepengen, hehe…
Di penghujung masa SMA saya mendapatkan pengumuman tentang kesempatan berkuliah di Jepang melalui program beasiswa Indonesia Leadership Award dari kerjasama Kemdiknas dengan dengan Lembaga Nanunggul Indonesia (LNI). Tanpa piker panjang saya pun mendaftar. Sebenarnya tidak ada jurusan yang benar-benar saya minati (Ilmu Ekonomi), namun pada akhirnya saya memilih jurusan civil engineering, Kyoto University. Di jurusan tersebut saya dapat mengambil konsentrasi urban planning yang cukup menarik bagi saya. Yah siapa tahu bakal jadi ahli tata kota.
Tes seleksi pertama (MIPA) dan kedua (Engl…

Sebelum Matahari Terbit

Image
Sebelum matahari terbit, terjaga aku pada bait malam yang terakhir. Sepoi angin menabrak kaca jendela – menyisakan suara syahdu yang memanjakan. Sementara butir embun mulai bermunculan di ujung-ujung daun. Kulipat enggan demi waktu yang sangat berharga ini, yakni saat Engkau turun ke langit dunia untuk mendengar keluh, harapan, serta permohonan ampun dari mereka yang ingin menghadap-Mu.
Kupaksakan kakiku untuk berlutut, menengadahkan tangan dengan penuh kepasrahan. Saat yang lain belum membuka mata, aku justru tak tahan membendung derai tangis. Jika sesak dadaku untuk berbisik, tak bisakah air mataku berucap?
Ya Allah, Engkau ciptakan kami bermacam-macam bangsa, suku, ras, budaya beserta bahasanya. Tak lain karena Kau ingin agar kami saling mengenal, maka pertemukanlah kami agar kami saling memahami. Ingin kutunjakkan nafas agama-Mu itu menyejukkan: mengusung perdamaian dengan cinta-kasih.
Jelas kami berbeda. Itulah yang membuat dunia ini dinamis. Walaupun kecil, aku menggenapi miliaran …

Bangsa Tempe dan Tata Kelola Kedelai

Image
“Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe!”  Sindiran Bung Karno dalam pidato kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1963 tersebut kiranya menjadi lecutan bagi kondisi pertanian dalam negeri kini. Pasalnya, Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya mengonsumsi tempe masih terjerat dalam permasalahan defisit kedelai. Produksi kedelai dalam negeri belum mencukupi kebutuhan industri pengolahan kedelai. Inikah yang dikhawatirkan Soekarno?
Kebutuhan kedelai sekitar 3 juta ton setiap tahunnya. Namun 69,5% pemenuhan kebutuhan tersebut di datangkan dari asing (Depkeu, 2013). Hal ini mengakibatkan stabilitas harga kedelai dipengaruhi oleh produksi di tingkat global. Konsumsi tempe yang telah ada sejak abad 16 tidak menjadikan Indonesia sadar untuk mengembangkan pertanian kedelainya.
Bukan berarti Indonesia harus mengambil posisi anti-impor. Indonesia juga perlu melindungi konsumen dengan menjamin ketercukupan barang (sufficiency) dan keterjangkauan harga (affordability) melalui perdagangan internas…

Ada Saatnya

Image
Ada saatnya aku tak perlu lagi menulis prosa dan elegi kegundahan. Tak usah lagi kubahasakan hujan untuk membasahi keronta hati. Aku berhenti mengawangmu yang bak bidadari jelita nan anggun, namun sejatinya hanya siluet tak teraba.
Ada saanya aku tak perlu menghabiskan malam dengan getir kesepian. Karena nyatanya di bawah cahaya rembulan, tak ada yang benar-benar sendiri. Entah ruang atau waktu yang memisahkan, aku yakin sekarang kita sedang bersama.
Ada saatnya aku berhenti samarkan dirimu dengan kata ganti, karna pasti akan kutemukan sebuah nama. Yakni nama yang muncul sebagai jawaban atas doa-doa khusyuk-ku. Walau gamang, aku mencoba percaya bahwa yang baik hanya untuk yang baik.
Sampai saat itu tiba, yang bisa kulakukan hanya bersabar, sampai aku bisa bertanggung jawab atas perasaanku. Sebab perasaan bukan hanya soal mencari kesenangan, tapi juga kedamaian hati. Dan untuk meraih kedamaian, kadang kita memang harus berperang, setidaknya melawan diri kita sendiri.
Barangkali kita meman…