Kau dan Pagi



Karena kau, aku bisa menghabiskan pagi dengan hanya diam – merenungi apa yang tidak kumengerti. Lalu berantai hingga membekukan hiruk-pikuk di lorong kantor, bahkan sampai matahari kembali merapat ke peraduannya.

Kau dan pagi, entah mengapa seringkali mengganjalku pergi. Sementara rindu semalam malah membekapku lebam. Dan hujan pagi ini membuat diamku menjadi-jadi, mendramatisir bercokolnya kemelut hati. Inginku lenyap melesat jauh, tapi tak sejengkal pun kaki kecilku beranjak melangkah.

Seperti seorang penulis skenario, kubuat dialog-dialog khayalan. Maka terucaplah canda-gurau antara dua insan, namun pemerannya hanya aku seorang. Aku, sampai sepenggal kata ini, tak lebih dari pecandu drama yang sejatinya hanya monolog kosong. Kiranya kegundahan membuat seseorang tak ubahnya seperti orang gila.

Kadang aku menggerutui nasib yang memaksaku menjadi perempuan, makhluk perasa yang sibuk mengurai benang kusut di hatinya. Padahal semuanya begitu jelas. Tak ada benang biru yang bisa kusulam jadi kelambu, tak juga kulihat benang merah yang bisa kutarik dari gelagatmu. Yang ada hanya gulunngan benang katung yang dimainkan kucing.

Asal kau tahu, di satu sisi perempuan memang tercipta layaknya bongkah berlian: sebuah perhiasan yang berkilau indah dan mewah. Namun di sisi lain perempuan juga bak cermin: bilah berkilau yang sejatinya rapuh. Sekalinya retak, jangan berharap ia bisa menyatu kembali dengan mudah.

Rasanya kini aku benar-benar seperti cermin. Tidakkah kau tahu siapa yang kau lihat saat menghadapku? Lalu keraguan apa yang masih menghalangimu? Jika kau masih menutup mata (dan) hatimu pecahkan saja cermin itu.

Dulu aku senang denganmu yang selalu perhatian – menanyakan kabar, menemani bicara, atau sekadar memastikan aku baik-baik saja. Namun jelas aku bukan mesin penjawab pesan singkatmu. Saat kau masih terus menanyakan hal-hal sepele itu di situlah aku justru menanyakan keseriusanmu.

Pagi datang bersama pilihan: meneruskan didup dengan pemahaman yang bijak atau terjebak pada penyesalan tak berkesudahan. Mendung tak berarti hujan, cerah kadang berujung panas menyengat. Bagaimanapun langit menampakkan wajahnya, ke manapun angin menentukan arahnya, aku tak boleh diam. Aku harus beranjak.



kapuk, 13/2/2015



gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Berhentilah Berbaik Hati