Dunia yang Sibuk


Dunia ini terlalu sibuk, untuk menikmati mentari yang merekah hangat di ufuk timur. Sedang cahanya terpantul pada tiap butir embun - menggantung pada daun pepohonan di pinggir jalan. Orang-orang di luar sana mengambil langkah cepat berjalan di trotoar bersama ratusan lainnya. Tak ada yang menggubris nyanyian merdu burung perkutut yang menyapa pagi.

Dunia ini terlalu sibuk, untuk menyeruput hangatnya secangkir teh manis. Waktu santai untuk sekadar menghirup udara segar dan menenangkan pikiran dipangkas habis. Orang-orang di luar sana rela mengantri demi sepaket breakfast di kafe-kafe borjuis. Lalu mereka biarkan meja-meja melompong tanpa ada obrolan ringan. Sepertinya menikmati sarapan di meja kerja dengan tumpukan tugas menjadi agenda rasional sepanjang pekan.

Dunia ini terlalu sibuk, untuk menyapa orang yang paling berharga: ia yang selalu menyambut pagi dengan rindu dan doa semalam. Sementara ada senyum penuh ikhlas yang kita abaikan. Orang-orang di luar sana berkutat pada notifikasi di gadget, bahkan sejak membuka mata dari bunga tidur. Seakan-akan langit bakal runtuh bila tidak segera ditanggapi. Padahal mereka hanya menawarkan raut wajah semu pada simbol-simbol  digital.

Sebenarnya apa yang kita cari? Bukankah semua ini semua tentang mengejar kebahagiaan: hidup untuk sujud-sembah dengan penuh rahmat-Nya. Lantas apa yang kita cari di luar sana? Sebab kebahagiaan tersimpan dalam diri masing-masing.

Jangan jangan kita berkutat dengan segala macam kesibukan untuk menutupi kekosongan yang tidak kita mengerti. Tak perlu memaksa hal-hal di luar sana untuk membuat kita tersenyum bahagia. Lengkungkan senyum kita terlebih dahulu, lalu temukan sejumput kebahagiaan di sudut sudutnya. Kembangkanlah sampai merebah ke orang-orang di sekeliling kita. Bantu mereka untuk menemukan senyum-senyumnya – kebahagiaan-kebahagiaannya.

Biarkan aku duduk di beranda rumah ini – menyelonjorkan kaki di kursi kayu dan menghadap pekarangan yang ditumbuhi bunga sepatu. Karena untuk menikmati pagi, tidak ada kombinasi yang lebih pas dari hangat mentari, secangkir teh manis, dan lengkung senyummu.



Jetis, 1/11/15

gambar dari sini

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Luka

Memperjuangkan

Rembulan Malam Ini