Posts

Showing posts from January, 2015

Kesal

Image
Percuma sudah hangat mentari pagi ini, saat kutatap kau yang diam – membiarkan kicau burung ditelan angin. Apa susahnya membalas rekahan sinarnya dengan rekahan senyum yang serupa? Sepertinya beramah-ria sudah menjadi barang mahal.
Buyar sudah cerah-ceria pagi ini, saat kutanya kabar, kau hanya membeku. Apa susahnya berbasa-basi dan sekadar mengatakan baik-baik saja? Aku sulit mengerti orang yang memperumit salam-sapa.
Saat kusodorkan potongan biskuit keju yang biasanya membuatmu girang, lagi-lagi kau bertingkah dingin. Agaknya kesal apa yg menyumpal mulutmu? Sehingga kau lewatkan semua ini dengan masam.
Kembalikan aku pada pagi kemarin. Saat ada sapa yg bisa kubalas ramah. Bukan menenggak kopi dengan tatapan murammu. Cukup secangkir itu saja yang pahit, jangan kau buat yang lain juga.
Berhentilah menatapku kesal. Aku bukan karung tinju: bongkah tak berdaya yang kau gantung sendiri, lalu kau jadikan sasaran atas endapan amarah. Pukul aku tapi berikan alasan, agar aku tahu mengapa kau men…

Angkat Tangan

Image
Angkat tangan, berlutut, jangan ada yang bergerak: Merekalah para penjahat yang dicari-cari
Angkat tangan, pinggul bergoyang, ikuti irama : Merakalah para penikmat dangdut yang riang gembira
Angkat tangan, regangkan badan, hitung sampai delapan: Merekalah insan yang peduli dengan jasmaninya
Angkat tangan, jangan berebut, silakan bertanya: Merekalah para penyimpan keingintahuan yang tak terbendung
Angkat tangan, jangan panik, lambaikan ke kamera: Merekalah para pemberani yang telah sampai pada batasnya
Angkat tangan, ulurkan, pastikan berada di atas tangan yang lain: Merekalah filantropis yang membuang jauh egonya
Angkat tangan, buang ke depan, lalu dilipat: Merekalah anak-anak TK yang siap memulai pelajaran
Angkat tangan, tekuk ke dalam dada, rasakan detak yang menggebu: Inilah hati yang sedang jatuh cinta
Angkat tangan, ketuk pintu langit, bisikkan doa tulus pada-Nya: Itulah namamu yang sedang aku sebut
Angkat tangan, tatap mataku, bentangkan telunjuk dan jari tengah: Mengakulah, kau juga melakukann…

Dunia yang Sibuk

Image
Dunia ini terlalu sibuk, untuk menikmati mentari yang merekah hangat di ufuk timur. Sedang cahanya terpantul pada tiap butir embun - menggantung pada daun pepohonan di pinggir jalan. Orang-orang di luar sana mengambil langkah cepat berjalan di trotoar bersama ratusan lainnya. Tak ada yang menggubris nyanyian merdu burung perkutut yang menyapa pagi.
Dunia ini terlalu sibuk, untuk menyeruput hangatnya secangkir teh manis. Waktu santai untuk sekadar menghirup udara segar dan menenangkan pikiran dipangkas habis. Orang-orang di luar sana rela mengantri demi sepaket breakfast di kafe-kafe borjuis. Lalu mereka biarkan meja-meja melompong tanpa ada obrolan ringan. Sepertinya menikmati sarapan di meja kerja dengan tumpukan tugas menjadi agenda rasional sepanjang pekan.
Dunia ini terlalu sibuk, untuk menyapa orang yang paling berharga: ia yang selalu menyambut pagi dengan rindu dan doa semalam. Sementara ada senyum penuh ikhlas yang kita abaikan. Orang-orang di luar sana berkutat pada notifikasi …

Hujan Sore Itu

Image
Banyak orang yang tidak suka hujan. Lihat saja di sekelilingmu, mereka menyerapah pada rintik air yang tidak tahu menahu urusan mereka. Jemuran yang gagal kering, rapat yang tertunda, lantai beranda yang becek, dan banyak lagi alasan untuk menyalahkan hujan. Adapula yang sudah menggertu saat mendung mulai merambati lapis-lapis awan. Padahal mendung belum tentu hujan, bukan?
Aku juga tidak suka hujan, bahkan sejak aku kecil. kuhabiskan masa kanak-kanak menatap teman-temanku berhujan-hujanan dari balik jendela rumah. Kupikir menghabiskan waktu dibawah guyuran air hanya membuang-buang waktu. Mandi saja kalau ingin basah. Lagipula tubuhku saat itu memang rentan sakit. Menyeduh susu coklat sepertinya lebih menyenangkan – dan tentunya menghangatkan.
Biar kuberitahu, aku memang benci hujan, tapi tidak sampai sore itu. Bagaimana mungkin aku membenci hujan bila rintiknya mempertemukanku dengan dia. Dari sekian banyak tempat berteduh, langkah kami menentukan satu titik tempat yang sama. 

Aku tepat…

Mengulang Kembali

Image
Bila kau punya kekuatan mengarungi waktu,
apakah kau akan kembali ke masa lalu?
Menemui ia di ujung koridor itu, menatap matanya, berkenalan, menerima bantuannya, dan bertemu lagi di keesokan harinya. Kau akan bahagia dengan menjalani kisah-kisah yang sering kau ceritakan padaku.

Sekali lagi kau akan duduk di meja makan itu bersamanya: menikmati hidangan demi hidangan sembari bercengkrama. Sekali lagi kau akan habiskan cerah pagi bersamanya: menyeruput secangkir kopi untuk ceritakan hari kemarin. Sekali lagi kau akan menyusuri bibir pantai itu bersamanya: menjejakkan tapak-tapak yang akan kau kenang. 

Bila kau punya kekuatan mengarungi waktu,
apakah kau ingin kembali ke masa lalu?
Menemukan suratnya tanpa tahu kepergiannya, berpisah, meratapinya, dan menghabiskan malam dengan sesengguk hampa pada sosok yang telah hilang. Kau jelas-jelas tahu bahwa kembali berarti sama saja dengan menyulut bom waktu: mengulang rantai cerita hingga kau merasa sakit nantinya. 

Mungkin ada kenangan manis yang bi…