Posts

Showing posts from 2015

Di Balik Ketidakjujuran

Berita mengenai penipuan, korupsi, ataupun tindakan kriminal lainnya sudah seperti sarapan pagi untuk masyarkat. Setiap hari, melalui koran, televisi, maupun jaringan internet, kita disuguhi kabar perilaku ketidakjujuran ( dishonesty ) yang bahkan terkadang diluar nalar. Walaupun sudah seperti hal yang lazim, ketidakjujuran tentu bukan untuk dimaklumkan. Sistem norma yang ada dalam masyarakat menentang tindakan kecurangan, baik dari sisi agama, hukum, maupun etika sosial. Para pelanggar itu sebenarnya juga tahu bahwa ada batasan dan konsekuensi berupa sanksi. Meskipun demikian perilaku tersebut tidak hilang begitu saja. Lantas apa yang mendasari tindakan ini terjadi? Gery Becker adalah ekonom pertama yang mencoba menjabarkan motif tindakan ketidakjujuran dari sudut pandang ilmu ekonomi. Dalam teori Simple model of Rational Crime (SMORC), Becker (1974) menjelaskan bahwa tindakan kriminal (yang juga bisa diasosiasikan dengan ketidakjujuran) didasarkan atas perhitungan untung rugi

Belajar Mencintai

Sebuah pepatah Jawa berbunyi, “ Awiting trisno jalanan soko kulino - tumbuhnya cinta itu karena kebiasaan”. Pepatah ini menjadi salah satu nilai yang dipegang sebagian masyarakat Jawa, bahwa perasaan – dalam ilmu ekonomi biasa diasosiasikan dengan istilah preferensi – bisa  dipelajari dengan pembiasaan yang didasari kerelaan. Preferensi tidak seketika terbentuk begitu saja dan tidak pula diwariskan dari garis keturunan. Anggapan bahwa preferensi merupakan bawaan lahir tidak tepat, sebab preferensi merupakan konstruksi kumulatif dari pengaruh berbagai macam faktor dan bisa terus diperbarui. Pemikiran bahwa preferensi merupakan default dari perilaku masing-masing orang muncul dari ketidakmengertian atas alasan keputusan pilihan yang tampak terjadi secara natural. Inilah yang mendasari mengapa seringkali terdengar ungkapan ‘memang dari sananya’. Misalkan, seorang perempuan cenderung menyukai warna pink ketimbang laki-laki, padahal semestinya warna tidak bisa diasosiasikan dengan f

Baik Baik Saja

Image
Revisi karya akhir tertolak lagi. Pembimbing jebolan the ivy league ini memang suka nyinyir kalau sudah menyangkut pengolahan data dan pendalaman analisis. ‘Variabelnya nggak stasioner dan pengambilan sudut pandangnya kurang seksi’ katanya. Andai dia bisa melihat bagaimana bentuk bibirnya saat mengomel itu, ia juga harus merevisi definisinya tentang stasioner dan seksi. Cuaca buruk dan serangan hama menjadi kombinasi yang paling pas untuk menghembuskan kabar gagal panen. Ditambah menipisnya persediaan di pasar, peristiwa ini membawa harga komoditas pertanian melambung tinggi. Sesuai dugaanku, warung langganan sebelah juga tak mau kalah dalam mengatrol harganya. Setidaknya ia tidak menagih wi-fi gratisan yang bisa kuakses dari sudut kamar. Kasus korupsi dalam salah satu badan usaha milik negara terendus. Proyek percepatan pembangunan pembangkit listrik digerogoti hingga triliunan rupiah. Nama-nama yang diduga kuat terlibat dalam kebusukan ini terkuak satu per satu, tidak

Di Balik Payung

Image
 Di balik payung itu, tersembunyi wajah sendu – menatap hampa genang air yang merekam langkah-langkah dingin. Ia berjalan namun tak beranjak. Ingin pergi tapi tak ada tempat berpijak. Di permukaan wajah itu, mengalir air mata – menjalar ke bawah tapi tak benar benar rela untuk jatuh. Ada jerat yang menarik di ujung retina. Lebam kenangan mengikat gulana. Lewat air mata itu, terwakili perasaan yang terpendam – berkecamuk dalam tempayan yang rapuh. Entah ke mana harus dibawa, entah bagaimana bisa bermuara. Dalam perasaan itu, tersimpan sosok bisu – menjelma siluet gelap yang tak teraba. Ia ingin melupa namun tak seujung kuku ia berdaya. Di ujung lengan sosok itu, tergenggam sebuah payung – menampis butir air yang digelincirkan langit. Begitu cemburu ia pada hujan: berulangkali jatuh tanpa pernah merasa runtuh. Di balik payung itu, ia basah kuyup. Tapi bukan karena hujan. pdeb, 12/12/15 gambar dari sini

Yang tak tersampaikan

Image
Entah harus berapa kali kukatakan bahwa aku tidak akan menyampaikannya, setidaknya belum untuk saat ini. Kata hanya rangkaian aksara – medium  penerjemah apa yang diraba indra. Bagaimana mungkin ia menjelaskan sesuatu tanpa rupa? Jelas mulut dan telinga bukan ahlinya. Sementara, rasa tak terdeskripsi abjad, bersemayam dalam bisik misteri dari abad ke abad, berhembus bersama kabut yang pekat. Karenanya, akan selalu ada jarak antara yang tersurat dan tersirat. Bukankah itu egois bila harus mengucapkan apa yang ingin disampaikan, sebab tak ada jaminan atas apa yang terungkapkan dapat dipahami. Sementara lidah tak punya tulang untuk menarik kalimat kembali. Memang diam tak akan merubah apapun, tak pula ada yang bisa dimengerti, tapi angkat bicara tak berarti mendekatkan pada kesepahaman yang sama. Awan memang menyapa bumi lewat hujan. Bulan pun tak mau ketinggalan utarakan kilaunya. Namun aku manusia yang tak mengerti bahasa langit. Lagipula, di dunia ini ba

Tolong jaga dia

Image
Dalam rapal doa yang didesiskan sebelum cahaya, Terulang kembali pinta dari rindu kemarin sore. Tolong jaga dia, agar aku bisa menjaga diriku. Dari dunia yang dipenuhi berlian, Kau angkat ia sebaik-baik perhiasan. Tolong jaga dia, agar bisa kucium bau surga. Atas peluh yang menetes bak embun, alirkan kebaikan yang mengusap daki. Tolong jaga dia, atau terus kuketuk pintu langit. Untuk sekian purnama yang terlewat, bersama kasih tanpa pamrih. Tolong jaga dia, karna surgaku di bawah telapak kakinya. liman, 26/10/15 gambar dari sini

Jarak dalam Depa

Image
Apalah guna jarak diukur dalam satuan depa? Jika saat bertemu tak sekalipun lemparkan sapa. Kita berjalan mendekat hanya untuk kemudian berpapasan. Lalu kaki kita melangkah ke arah yang berlawanan. Masihkah arti kata ‘kita’ mewakilkan lakon ganda? Sementara aku dan kau terdikotomi pada ruas jalan yang berbeda.Tak ada harapan yang terikat, tak pula ada janji yang terucap. Aku tak tak yakin kita berada dalam titik jeda, sebab tak kunjung kulihat tanda-tanda kalimat selanjutnya. Padahal dari bibir yang terkatup itu, ada jawaban yang pernah ditunggu. Rupanya sia-sia selama ini kumenyimpan tanda tanya. Aku tahu, diammu bukan tanpa makna. Sorot mata itu tidak tak seperti dulu. Memang masih sendu, tapi jelas bukan untukku. Biarkan demikian… Tak ada yang bisa dipaksakan bila masing-masing berpihak pada keegoisan. Lalu apalagi yang harus dilakukan kalau bukan meniti jalan sendirian. Maka kuteguhkan diri untuk tidak menoleh kembali. Sudah saatnya aku beranjak, merentangkan jarak

Melepas Rindu

Image
  Pada sebongkah bantal, ditekuknya perasaan yang jadi teman mimpi. Lalu ia bersihkan kelopak matanya dari kesal yang mengganjal. Bersama hilangnya petang, ia sapu rindunya pada sudut ufuk, berharap hari ini terlewat dengan nafas lega. Ia ingin melupa. Melepas rindu, bukan sekepal keinginan untuk bertemu. Sebab rindu bukan hasrat untuk dipuaskan, namun wujud tabah sebuah kerelaan. Melepas tak juga berarti membiarkan. Sebab rindu perlu diikat, dengan doa dan kepercayaan, agar ia penuh penjagaan. Pada secangkir kopi, disesapnya keihklasan yang menguatkan diri. Lalu ia bangun dari kelembaman yang memberatkan badan. Sudah saatnya ia beranjak. kapuk, 7/10/15 gambar dari sini

Sang Cendekiawan Sudah Lelah

Sang cendekiawan sudah lelah Tergeletak kaca matanya di sudut meja Tak dilihatnya langit senja, tak serupa subuhnya kala Buminya dikangkangi beton dan besi, mengencingi jemari sungai hingga muara Bau amis sepanjang jalan protokol tangan menengadah pada cucuran luber, untuk ganjal mulut atau menutup perut Sang cendekiawan berbaring manja  Ia telanjang, lucut tanpa pena Menatap buku usang tanpa aksara ia lupa cara berbicara Bukan karena bisu ia hanya diam tersumpal suap sendok para mandor tersulam benang pesanan para kontraktor Doktrinnya muncrat berbusakan dalil meludahi wajah para jelata dekil Walaupun di luar nalar, kebenaran milik para pembayar cerobong asap di kota-kota mengepul bersama cerutu, dihisap sang penjuntai kaki di kursi goyang ia hanya diam NB: dibacakan dalam lomba puisi Econtal-FEBUI 2015 (Juara 2)

Dungu

Image
Di depan cermin aku berseringai malu, menatap wajah lugu yang tadi begitu bingung menyembunyikan gugup, hanya karena bertemu denganmu. “Hai, apa kabar?” tanyamu. Suara gemetarku hanya mampu melepas kata ‘baik’. Lalu tercekat sudah  untuk tidak bertanya balik. Aku diam tanpa tahu harus bagaimana memasang mimik. Sekian detik setalah itu lahirlah kebisuan di antara kita. Aku (dan barangkali kamu) menghayati peran sebagai patung. Walaupun jemari kakiku menggeliat mencari kesibukan. Sementara dirimu di situ, menjiplak diamku dengan ekspresi yang tak kumengerti. Hingga pada titik yang sudah kita duga, seperti biasa, salah satu dari kita merapal salam perpisahan. “ee… duluan ya.” Lalu bersambut dengan kepura-puraan, “aku juga mau pergi”. Tapi sore tadi kedua-duanya terucap bersamaan. Tentunya aku jadi semakin salah tingkah. Kutolehkan pandanganku tanpa alasan, namun seketika kembali padamu. Sekali lagi mata kita bertatapan sebelum melambaikan tangan deng

Pendamping Tanpa Bunga

Image
Sungguh kau tak perlu kebingungan mencari pendamping wisuda, kawan. Tak usah gelisah bila sosok yang kau dambakan tak jadi menggandeng tanganmu selepas keluar dari altar pengukuhan hasil studi. Jangan memelas, apalagi mencari-cari joki pengganti di situs lelang bebas. Akan datang padamu, pendamping tanpa bunga – menatap kagum dirimu yang berdiri tegak mengenakan toga. Barangkali mereka tak sempat bawakan cinderamata lantaran tergesa-gesa ingin menemuimu. Tapi kawan, sungguh kau juga harus bangga mengakui mereka adalah: orang tuamu. Jauh-jauh hari, pada kalender kusam yang tergantung di dinding rumah, mereka lingkari tanggal wisudamu dengan spidol merah. Bersejingkat dari hari ke hari, waktu yang mereka lalui adalah penantian tanpa rasa lelah, untuk melihatmu menjadi sarjana yang berprestasi. Kemungkinan besar mereka tak begitu mengerti lantunan gaudeamus igitur yang mengiringi prosesi khidmat itu. Tapi jelas keberadaan mereka di situ menyorakkan keberhasilanmu dan

Jatuh

Image
Jatuh Berdebum Buah durian yang dinanti matangnya Seketika mereka berebut sesamanya Jatuh Terjembab Kurs rupiah yang dikhawtirkan selama ini Seketika panik para pemangku kebijakan Jatuh Tersungkur Bocah yang belajar mengendarai sepeda Seketika ia bangkit dan mengusap tangisnya Jatuh Berpendar Benda langit yang dikira bintang Seketika terbisik harapan yang terpendam Jatuh Bertempias Hujan yang membasahi bumi Seketika luntur solek palsu itu Jatuh Berayun Sehelai daun dari tangkainya Seketika mata mengantarnya turun Jatuh Senyap Sebongkah hati yang tertuju padamu Seketika harus kukemanakan perasaanku? Kyoto, 14/08/15 gambar dari sini

Antara Memiliki dan Kehilangan

Image
Tanganku melepasnya walau sudah tak ada. Hatimu tetap merasa masih memilikinya. Rasa kehilangan hanya akan ada. Jika kau pernah merasa memilikinya. Penggalan lirik lagu “Memiliki Kehilangan” yang dilantunkan grup band Letto ini bukan sekedar racikan aksara yang membentuk prosa indah, melainkan hasil dari pemikiran yang mendalam akan premis-premis di balik proses kehilangan. Kehilangan apa yang kita miliki sudah pasti menyakitkan, baik itu sesuatu, seseorang, posisi atau yang lainnya. Bahkan perasaan saat kehilangan itu bisa lebih dalam dari kebahagiaan saat mendapatkan hal yang sama. Barangkali terdengar klise, namun sebenarnya konklusi ini juga diamini dari sudut pandang ilmiah. Loss Aversion Bayangkan Anda sedang berada pada dua situasi. Di situasi pertama Anda diberi uang satu juta rupiah secara cuma-cuma lalu Anda dihadapkan pada pilihan yang harus diambil: mendapatkan tambahan 500 ribu secara langsung atau diberi kesempatan mendapatkan satu juta denga