Tata Kelola Energi Indonesia dan Resourse Curse

Memiliki keberlimpahan sumberdaya alam adalah anugrah bagi sebuah negara untuk mendorong perekonomiannya. Namun, bila dikelola dengan buruk, kekayaan tersebut bisa menjadi kutukan (resource curse) yang dapat menyerang balik empunya. Indonesia dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah, termasuk kekayaan energi yang sempat menjadikan Indonesia berjaya saat oil boom tahun 1970an. Di tengah-tengah isu gejolak energi yang hangat dibicarakan dewasa ini, Indonesia harus mampu keluar dari kutukan yang menghantui pengelolaan energi.
Krisis Energi Indonesia
Pemanfaatan energi di Indonesia hingga tahun 2012, sebagian besar masih bersumber dari bahan bakar fosil berupa gas dan minyak bumi (70,68 %), sementara Energi Baru Terbarukan (EBT) hanya mendapat porsi 5%. Masalahnya, migas merupakan kekayaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Indonesia sudah berada di ambang krisis minyak. Dalam 30 tahun terakhir cadangan minyak Indonesia merosot 68 %, penurunan tercepat dan tertajam di Asia, sementara blok blok produsen minyak juga mengalami penurunan produksi.
Sebaliknya, konsumsi minyak Indonesia semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan, dan tumbuhnya industri otomotif. Diketahui transportasi menjadi sektor paling dominan (75 %) dalam mengonsumsi minyak Indonesia. Konsumsi minyak berkisar pada 1.600.000 barel per hari dan terus tumbuh rata-rata lima persen per tahun. Sementara produksi minyak di Indonesia hanya mampu dalam kisaran 850.000 barel per hari. Untuk menutupi kekurangnnya Indonesia perlu melakukan impor dari Negara lain.
Permasalahan ini berakibat pada defisit neraca perdagangan, membebani cadangan devisa, hingga menekan nilai tukar rupiah. Defisit migas mencapai puncaknya pada Juli 2013 yang mencapai minus US$ 1,85 miliar. Sedangkan defisit neraca perdagangan minus US$ 2,3 miliar. Hal ini diperparah dengan masih tingginya subsidi pada BBM yang sebagian besar dinikmati masyarakat menengah ke atas. Insentif untuk mengurangi penggunaan BBM pun rendah.
Walaupun sempat menjadi pemain dalam pasar energi dunia, kini Indonesia telah kehilangan taringnya. Di tahun 1970-an Indonesia memang merupakan negara eksportir minyak bumi yang sekaligus bagian dari kedigdayaan OPEC. Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang potensial dalam menyuplai energi. Namun perencanaan dan pengelolaan energi yang kurang baik membuat Indonesia tidak mampu memanfaatkan kekayaan alam tersebut, bahkan Indonesia kini terancam mengalami krisis energi. Kiranya kekayaan sumber daya alam tersebut menjadi kutukan tersendiri bagi Indonesia.
Kutukan Sumber Daya Alam (Resource Curse) dan Kasus Oil Boom
Kutukan sumber daya alam (resource curse) merupakan frase yang digunakan untuk menunjukkan paradoks yang terjadi di negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam namun belum bisa berkembang atau justru bahkan menjadi negara miskin. Kekayaan alam yang seharusnya dinikmati oleh rakyat justru balik menjadi kutukan karena ketidakmampuan dalam mengelola sumber daya alam tersebut. Untuk elaborasi lebih dalam, penulis mencoba mengaiktkan konsep resource curse kasus oil boom yang terjadi di tahun 1970an.
Resourse curse dapat dijelaskan dengan beberapa permodelan.
Pertama, adalah fenomena ekonomi yang disebut dengan Dutch disease. Dalam fenomena ini tingginya penerimaan dari ekspor hasil sumber daya alam mengakibatkan naiknya nilai tukar mata uang dalam negeri yang membuat harga barang domestik relatif lebih mahal ketimbang barang di luar negeri. Hal ini mengakibatkan komoditas selain ekspor hasil alam semisal barang agrikultur ataupun manufaktur kehilangan daya saing. Selain itu fenomena ini menimbulkan naiknya upah hanya pada sektor dominan saja sehingga tenaga ahli dari sektor sektor potensial lain tersedot pada sektor kekayaan alam tersebut.
Dari kategori ini Indonesia sebenarnya tidak menderita dutch disease seperti sebagian besar Negara Amerika Latin, Sub-Sahara Afrika, dan Timur Tengah. Bahkan sebaliknya, era oil boom tersebut adalah masa keemasan dari perekonomian nasional dimana laju pertumbuhan rata-rata tercatat atas 7% per tahun dengan tingkat pemerataan tidak memburuk. Setidaknya terdapat tiga faktor fundamental yang menyebabkan ekonomi Indonesia berbeda. Pertama, melambungnya tingkat investasi asing langsung (FDI) yang dipelopori investor negara-negara Asia Timur. Kedua, fleksibilitas pasar tenaga kerja dan ekspor yang dipacu oleh berbagai deregulasi pemerintah. Ketiga, insentif fiskal dalam bentuk inpres dan banpres yang berfungsi seba si sebagai pengganti mekanisme realokasi.
Kedua, untuk menjelaskan kutukan sumber daya alam adalah kerentanan  penerimaan (revenue volatility). Booming price yang terjadi pada hasil alam seperti minyak bumi boleh jadi meningkatkan penerimaan negara secara signifikan, namun akan ada efek crowding out pada sektor lain yang tidak diunggulkan. Selain itu komoditas sumber daya alam tidak memiliki kestabilan harga yang menjamin penerimaan yang terus menerus.
Kategori ini cukup menjelaskan keterpurukan permasalahan energi Indonesia. Masa post-boom menjadi masa yang sulit bagi Indonesia yang punya ketergantungan perdagangan tinggi pada minyak bumi yang menjadi bagaian besar (70%) komoditas ekspor. Harga minyak yang menurun drastis di tahun 1980an membuat ekspor Indonesia menurun tajam. Kegiatan pembangunan ekonomi (terlebih pelita) yang mengandalkan pendapatan ekspor minyak menjadi terhambat.
Ketiga, dalam kutukan sumber daya alam adalah buruknya pemerintahan. Kekayaan sumber daya alam merupakan objek yang potensial bagi oknum pelaku rent seeking. Kecenderungan terjadinya tindakan korupsi dalam pengelolaan kekayaan sumber daya alam sangat tinggi. Kategori ini menjadi faktor terburuk yang merusak perekonomian Indonesia. Sejak melejitnya keuntungan Indonesia saat oil boom, banyak terjadi kasus korupsi dalam pejabat-pejabat pertamina maupun aparatur negara. Sampai saat ini pun permasalahan ini belum selesai, bahkan semakin banyak mafia-mafia energi. Alih-alih berupaya menghadapi tantangan pengelolaan energi untuk membangun Negara, para oknum tersebut justru menghabiskan energi mereka untuk bersaing memperebutkan ‘kue’ mineral yang tersaji di hamparan kekayaan alam Negara.
Potensi Energi Baru Terbarukan
Jika dilihat komposisinya, Indonesia masih banyak bergantung pada energiyang bersumber dari fossil seperti batu bara dan minyak bumi. Hal ini terlihat dari dominasinya yang berkisar 71 %, sedangkan batu bara dan EBT (Energi Baru dan Terbarukan) memiliki proporsi sebesar 28,94 %. Dari presentase tersebut EBT hanya memiliki proporsi sebesar ±5 %. Hal ini mengindikasikan adanya ketimpangan dalam pemanfaatan energi di Indonesia, di mana pengembangan EBT yang diperkirakan menjadi energi masa depan berjalan kurang maksimal, terhambat infrastruktur dan birokrasi, serta rendahnya political will dari pemerintah.
Menurut UU no 30 tahun 2007Indonesia memiliki tingkat diversifikasi yang tinggi akan Energi Baru Terbarukan yakni nuklir, hydrogen, panas bumi, terjunan air, bioenergi, sinar matahari, serta angin. Salah satu yang sangat potensial adalah energi panas bumi di Indonesia. Namundari potensi sumber daya sebesar 29.164 MW, Indonesia hanya memiliki kapasitas terpasang sebesar 1.341 MW yang berarti hanya termanfaatkan 4,6%.
Indonesia sebenarnya telah dalam track yang benar dengan membuat target bauran energi tahun 2025 yang terdiri dari 17% EBT, 20% minyak bumi, 33% batu bara serta 30 persen gas alam. Pemerintah juga merencanakan beberapa program peningkatan EBT seperti pembangkit listrik energi geothermal (750 MW ) geothermal tahun 2016, microhydro(50 MW) tahun 2014, biomassa(200 MW),  tenaga tata surya (150 MW), dan tenaga angin (80 MW). Namun tahapan implementasi menjadi tantangan yang berat bagi pemerintah. Akan ada banyak permasalahan yang dihadapi seperti sulitnya koordinasi diantara kementerian yang tumpang tindih, biaya produksi dan investasi yang tinggi, teknologi yang belum memadai, serta  kualitas sumber daya manusia yang masih rendah.
Untuk menghindari fenomena dutch disease, negara bisa memperlambat apresiasi nilai tukar dan meningkatkan daya saing insustri manufaktur. Namun permasalahan di Indonesia lebih dari itu. Kasus oil boom di era 1970an sudah sepatutnya menjadi pelajaran bagi Indonesia. Indonesia tidak boleh terus bergantung pada minyak bumi. Sudah saatnya bagi Indonesia untuk melakukan diversifikasi energi. Pengembangan Energi Baru Terbarukan menjadi titik terang bagi rumitnya permasalahan energi nasional.

 NB: tulisan ini dimuat di selasar.com pada rubrik ekonomi 10 Des 2014
Sumber
BPPT, P. T. (2013). Outlook Energi Indonesia 2013. Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Data, R. K. (2014, May 28). Katadata Riset. Retrieved Ouctober 16, 2014, from Kata Data Wevsite: http://katadata.co.id/riset-analisis/2014/05/28/ancaman-krisis-minyak-bagi-pemerintah-baru
Hari, K., & Hanan, N. (2005). Menuju Pemanfaatan Energi yang Optimum di Indonesia: Pengembangan Model Ekonomi-Energi dan Identifikasi Kebutuhan Infrastruktur Energi. Jakarta: Perencana Bidang Energi dan Pertambangan, Bappenas.
Kementerian ESDM, P. D. (2012). Kajian Indonesia Energy Outlook. Jakarta: Kementerian Energi Nasional dan Sumberdaya Mineral.
Purnama, S. (2012). Badai di Tengah Oil Booming: Krisis Manajemen Keuangan Pertamina Tahun 1974-1975. Skripsi FIB Universitas Indonesia.
Rosenberg, T. (2013). Avoiding the Curse of the Oil-Rich Nations. The New York Times ed: February 13, 2013.
Shaxson, N. (2013). The Resource Curse, or the Paradoxof Poverty from Plenty. London: Our Kingdom ed: 23 September 2013

Comments

  1. Ini yang terbit di selasar.com kah, pyan?

    ReplyDelete
  2. iyap bener. udah baca tah? kasih komen dan kritik dong mbake.

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu