Q.E.D.



Aku masih terjaga, saat separuh bongkah bulan memantulkan titipan cahaya dari matahari. Sementara bintang-bintang menarik selimut awan untuk beristirahat. Beberapa dari mereka masih berkedip, mengusir remang melalui jendela kaca yang sedari tadi kutatap hampa. Sepertinya mereka bosan melihatku diam – duduk  di depan meja belajar bersama tumpukan buku dan lembaran kertas.

Aku benar-benar terjaga, saat secangkir kopi hitam memantulkan wajahku yang gusar, menunggu balasan sebuah pesan yang tak kunjung tiba. Sesekali kulirik handphone untuk memastikan notifikasi yang muncul. Entah angin apa yang berhembus tadi hingga aku berani menyapanya dengan 24 karakter, “hai ndre, masih belajar?” Setengah jam berlalu begitu saja.

Tiingg. Nah, itu dia.

“Iya, masih ko. Kenapa, rin? kamu pasti lagi belajar juga, kan?”

“Gapapa, mau nyapa aja. Iya, semua pasti lagi belajar kalau lagi musim ujian gini. Hari-hari yang melelahkan.” Balasku seketika.

“Tenang aja, minggu depan UAS kelar. Udah sampe mana belajarnya?”

“Iyaiyaa… ini tinggal beberapa chapter lagi. Sama ngerjain soal dari Pak Darmin juga. ”

“Pas sekali. Aku juga sedang mengerjakan itu. Tapi ada beberapa persamaan yang belum terbukti. Apa kau sudah selesai untuk nomer 5 poin b?”

“Q.E.D” jawabku singkat lalu memfoto lembar jawaban yang sudah kutamabahi titik dua-tutup kurung di samping tulisan Quod Erat Deomstrandum . Zaman mendorong perkembangan teknologi begitu pesat. Tak sampai satu menit untuk mengirimkan coretan tanganku ke layar handphone-nya. Aku tak bisa bayangkan bila harus berkirim surat.

“Makasih banyak” Ia membalas dengan bubuhan emoticon yang sama.
Belum sempat kubilang “sama-sama”, muncul kata typing… di layar lalu kutahan tanganku. Tak lama kemudian percakapannya muncul.

“Kadang aku kepikiran, rin. Seringkali kita menghabiskan banyak waktu untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sulit. Bahkan kita tidak benar-benar tahu apakah memang ada jawabannya. Sementara banyak pertanyaan dalam hidup yang kita tahu jawabannya tapi tak mau kita jawab.
Pertanyaan mudah namun sulit mengucap jawabannya.” Imbuhmu.
Aku terdiam sejenak.

Please ndre, jangan mulai percakapan itu lagi. Bukan maksudku mengabaikan pertanyaanmu tempo hari. Kau sudah berjanji memberiku waktu untuk memikirkannya, bukan?”

“Aku tidak bermaksud membahas itu, Erin.“
Ingin kutanya maksudnya, tapi lagi-lagi typing

“Ini soal kehidupan di luar sana. Coba kau bayangkan orang-orang yang bernasib tidak seberuntung kita. Ada seorang ibu bingung harus menjawap apa ketika ketiak anaknya bertanya makan apa esok hari. Pertanyaan seperti itu adalah hal yang lumrah kita dengar setiap saat. Dengan santai pun kita bisa menjawabnya. Tapi bagaimana dengannya?”

Aku merenung. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang.
Andre mungkin benar. Seringkali kita merasa sudah berjerih payah dengan mengerjakan semua urusan kampus yang ini dan itu. Padahal barang kali usaha kita tidak lebih dari seujung kuku.

Andre menceritakanku kisah Bu ratih, seorang janda yang setiap hari naik turun bukit memanggul getah pohon pinus. Tapak demi tapak yang dilaluinya setiap hari hanya berharga 15.000. Angka yang bahkan tak cukup untuk sekali makanku di kantin kampus. Ia tak pernah bisa menjanjikan jawaban atas pertanyaan lugu anaknya. Namun ia pastikan akan selalu ada asap yang mengepul di dapur. Walaupun itu berarti harus membakar badannya.

Dengan perjalanan 13 kilometer setiap hari dan 10 tahun ia jaga rutinitas itu, maka jarak yang ia lalui cukup untuk membawanya bolak-balik Jakrta-Surabaya 70 kali. B-e-r-j-a-l-a-n.  Ironisnya, apa yang dia dapatkan selama ini tak akan bisa melebih gaji pemain bola yang hanya 90 menit berlari kotak 100x75 meter. Namun seberat apapun tetap ia lakukan demi melihat buah hatinya ceria – menyapa pamit setiap pagi lalu menyongsong hari dengan seragam merah putih kebanggaannya.

“Kau bisa bayangkan kehidupan seperti itu?” Tanyanya di sela-sela cerita.

Kita tidak pernah berjuang sendiri. Ada begitu banyak orang yang menanggung beban untuk terus hidup. Tentunya banyak yang jauh lebih berat dari sekadar menyelesaikan persamaan matematis atau menjabarkan hubungan kausatif. Ingatlah bahwa kita berada di atas drajat alam dua dimensi. Bagaimana mungkin kita menyerah pada lembaran kertas?

Terkadang kita merasa lelah dengan setumpuk tugas dan pelajaran di kampus. Terkadang kita pusing karena perselisihan dengan teman sekelas. Terkadang langit terasa seakan runtuh karena kita belum menemukan teman untuk menghabiskan malam minggu. Jika hal-hal itu sudah membuat kita mengeluh, ketahuilah bahwa kita masih meringkuk di balik selimut.

Kita hanyalah sepasang mata yang mengintip di balik jendela gardu. Dunia di luar jauh lebih luas dari gambar peta dan penjabaran buku. Adalah pilihan bagi untuk berpetualang atau bersembunyi di balik daun pintu. Tentunya masih begitu banyak pertanyaan di luar sana. Bisa jadi pertanyaan mudah bisa juga sulit. Tapi yang jelas kita tidak menjawab dengan goresan pena di atas kertas. Jadi tak seharusnya kita mengeluh karena tangan kita lelah sekarang.

Selama tanda tanya masih ada, akan selalu muncul perkataan-perkataan yang menuntut jawaban. Tidak terkecuali sampai kita mati. Suatu saat nanti, setiap manusia akan ditanya sebuah pertanyaan yang sama. Sebagian dari mereka sudah mengetahui pertanyaan tersebut, sekaligus jawabannya. Tapi sedikit dari mereka yang bisa mengucap jawaban dengan benar. Entah bagaimana denganku nanti ketika ditanya man rabbuka.

Malam itu kami habiskan dengan berdiskusi tentang pertanyaan-pertanyaan 
dalam hidup ini.

“Terimakasih untuk diskusi yang mencerahkan malam ini. Sepertinya sudah larut.” Aku mencoba menutup pembicaraan.

“Sama-sama. Yap, segera istirahat. Besok badan kita harus segar kembali.”

Setelah merapikan buku dan berkas-berkas yang tadinya berserakan, aku beranjak dari meja belajar. Satu hal yang tak pernah terlewat sebelum tidur adalah gosok gigi. Sejak kecil ibuku selalu cerewet soal ini. Sekembalinya, aku langsung merebahkan badan di kasur. 

Aku baru saja akan memejamkan mata saat handphone-ku bergetar. Ada chat masuk. Andre.

“Q.E.D.” tiga kata ia sisipkan pada sebuah unggahan gambar sosok wanita coretan tangan. Queen Erin Danaya. Bisa sekali kau ini.

Aku tersipu – melengkungkan busur senyum yang muncul begitu saja. Gambar itu sedikit salah, pipiku sekarang lebih merah dari karikatur ala anime jepangnya itu.


Bersabarlah, Ndre. Akan ada saatnya aku menjawab pertanyaan itu. Aku juga ingin mengirimkan Q.E.D.-ku, sebuah pembuktian atas perasaanku.



kapuk, 12/19/2014

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu