Mengulang Kembali


Bila kau punya kekuatan mengarungi waktu,
apakah kau akan kembali ke masa lalu?
Menemui ia di ujung koridor itu, menatap matanya, berkenalan, menerima bantuannya, dan bertemu lagi di keesokan harinya. Kau akan bahagia dengan menjalani kisah-kisah yang sering kau ceritakan padaku. 

Sekali lagi kau akan duduk di meja makan itu bersamanya: menikmati hidangan demi hidangan sembari bercengkrama. Sekali lagi kau akan habiskan cerah pagi bersamanya: menyeruput secangkir kopi untuk ceritakan hari kemarin. Sekali lagi kau akan menyusuri bibir pantai itu bersamanya: menjejakkan tapak-tapak yang akan kau kenang. 

Bila kau punya kekuatan mengarungi waktu,
apakah kau ingin kembali ke masa lalu?
Menemukan suratnya tanpa tahu kepergiannya, berpisah, meratapinya, dan menghabiskan malam dengan sesengguk hampa pada sosok yang telah hilang. Kau jelas-jelas tahu bahwa kembali berarti sama saja dengan menyulut bom waktu: mengulang rantai cerita hingga kau merasa sakit nantinya. 

Mungkin ada kenangan manis yang bisa kau cicip kembali untuk menyiram dahaga di hatimu. Tapi ingatlah konsekuensi pahit dalam keputusan itu. Pertemuan yang tadinya kau harap menjadi obat rindu malah berujung pada perpisahan yang pilu. Seberapa keraspun kau mencoba, epilog kisahmu akan tetap sama.

Bila kau punya kekuatan mengarungi waktu,
apakah kau ingin kembali ke masa lalu?
Jika lorong waktu benar-benar ada, sebenarnya aku ingin mencegahmu masuk. Ingin kupasang jeruji besi atau tumpukan bata di ujungnya. Lalu kuisi rongga dalamnya dengan air sampai penuh, sebelum air matamu yang justru membanjiri kepergiannya nanti.

Namun bila kau benar-benar ingin melakukannya, bila ini untuk sepenggal bahagiamu, tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Maka sampaikan saja salamku. Katakan padanya agar ia bersungguh-sungguh menjagamu dan terus ada - atau tidak sama sekali. Pastikan ia menemanimu saat menghitung rintik hujan, membawamu ke sanggar buku di pinggir kota, atau menakar setengah sendok gula untuk setiap coklat hangatmu. 

Bagaimana aku tahu kebiasaanmu? Ketahuilah, aku telah lama menantimu. Dulu, sekarang, dan nanti pun akan tetap sama: Memendam kagum dengan perasaan yang terus tumbuh. Maka jika kau mengurungkan niatmu untuk kembali ke masa lalu, jika kau cukup berani untuk menatap masa depan, ketahuilah aku tetap di sini: menunggumu di ujung koridor yang lain.




gambar dari sini 

pakenjeng, 31/12/2014

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Berhentilah Berbaik Hati