Kotak yang Kelaparan



Kulihat sebuah kotak kecil tergeletak disudut ruangan. Ia lusuh sekali. Tubuhnya yang berwarna hijau itu penuh dengan lipatan keriput, tanda ia sudah cukup berumur. Aku mencoba mendekat untuk memastikan keadaannya.

“Hai.. Apakah kau baik-baik saja?”

Ia bergeming, lalu menatapku lamat-lamat. Mungkin ia terheran mengapa sebuah kotak putih yang sedikit lebih besar darinya bisa di tempat seperti ini. Aku juga sebenarnya tidak begitu tahu tempat apa ini.

Kami berdua sama-sama terjebak di ruangan berdebu sekaligus bau ini. Kami tidak bisa pergi ke mana-mana karena pintu keluar dikunci. Barangkali pemilik kami ingin memastikan bahwa esok hari kami siap menjalankan tugas. Walaupun sebenarnya aku sendiri tidak begitu yakin akan berguna.

“Aa.. aku lapar.” Lirih kotak hijau itu.

“Apa katamu?” tanyaku memperjelas.

“Aku lapar. Benar-benar lapar. Akhir-akhir ini perutku sakit karena selalu telat makan. Orang-orang sudah tidak peduli lagi padaku. Terakhir kali mereka memberiku makan itu dua hari yang lalu. Itupun anya dengan beberapa koin sisa kembalian dari jajan di toko. Hidup sebagai kotak amal memang memprihatinkan. Kita selalu menjadi pilihan kesekian.”

Kotak hijau menata duduknya. Ia sandarkan punggung rentanya ke dinding. Aku pun mengambil posisi yang nyaman menghadapnya, bersiap mendengar kisah-keluhnya.

“Zaman sudah berubah.”  Si kotak hijau melanjutkan. “Orang-orang semakin pelit. Mereka lebih suka menaruh uangnya di tempat perbelanjaan daripada memasukkannya ke tubuhku. Hidup ini sungguh ironis. Bayangkan saja orang begitu mudah membuang uang lima puluh ribu untuk menonton filim atau sekadar membeli latte. Sedangkan dengan seribu perak pun mereka harus berpikir berkali-kali untuk diberikan padaku. Padahal itu lebih murah dari uang parkir di bioskop maupun kafe.”

“Apa kau tahu mengapa mereka seperti itu sekarang” tanya kotak hijau sembari menghela nafasnya.

“eemm….” Aku mengernyitkan dahi, bukan karena tidak punya jawaban untuknya, tapi lebih karena ragu apakah jawabanku akan memuaskannya. “Sebenarnya….” Belum aku menyelesaikan kalimat pertamaku ia sudah memotong.

“Dunia ini membuat orang menjadi egois. Apa yang didapat semua untuk kepentingan diri sendiri. Tindak-laku hanya berorientasi pada aku dan aku, entah kemana perginya frase kamu dan kita."

“Sebenarnya… Aku jauh lebih lapar.” Sebelum ia terlalu panjang menjelaskan, kupotong pembicaraannya.

“Tapi kau tampak bagus dan baru. Bahkan tidak ada bengkok atau gores di seluruh tubuhmu.” Tanya kotak hijau yang tak sepenuhnya percaya.

“Kau benar. Kondisi luarku sangat baik. Tapi itu karena aku jarang digunakan. Jika kau bisa melihat dalam tubuhku, isinya hanya kosong melompong.” Aku tak mau kalah menceritakan derita. “Kau masih lebih beruntung daripada aku. Kau punya penyumbang tetap. Masih banyak orang-orang dermawan yang ikhlas menyisihkan uangnya sebagai tabungan di kehidupan nanti. Lagipula setiap jumat kau diputarkan dari satu tangan ke tangan lain. Pasti setidaknya ada satu-dua atau belasan tangan yang menggulirkan recehnya ke dalam lubangmu”

“Jika dibandingkan denganku, aku hanya makan satu kali setahun. Itupun tidak ada setengah dari jatah yang seharusnya kuterima. Aku sangat kelaparan. Aku tidak punya daya tarik sepertimu. Tidak ada janji kemewahan langit yang bisa kutawarkan sebagai iming-iming. Padahal tidak ada yang berkurang sama sekali bila mereka mau memberiku makan”

Raut muka kotak hijau berubah. Sepertinya ada gurat iba yang mucul. “Siapa kamu sebenarnya, wahai kotak putih?”

“Aku kotak pemilihan raya kampus. Yang kumakan adalah surat suara para mahasiswa. Apa yang kumakan akan menentukan siapa yang duduk di kursi petinggi organisasi mahasiswa.”

“Ternyata kau kotak yang sering dibicarakan akhir-akhir ini. Aku “ kata kotak hijau yang menengadahkan wajahnya.

“Begitulah, tapi kurasa mereka terlalu berlebihan membicarakanku. Nyatanya omongan mereka cuma di mulut, sedangkan apa yang kubutuhkan adalah suara yang sampai di perut” seringaiku sambil mengusap-usap bagian tengah tubuhku yang sama sekali datar.

“Mungkin kau benar, hidup ini memang ironis. Mereka tidak mau memberiku makan. Padahal apa yang kumakan sedikit-banyak akan berpengaruh kepada mereka. Lantas bila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan mereka, mereka hanya bisa mencibir, berteriak, memprotes. Cih… jika demikian, semestinya mereka sama sekali tidak berhak angkat bicara.”
Sepertinya sekarang aku yang jadi doyan bicara.

“Barangkali kau juga tidak salah bahwa dunia ini mendorong setiap orang menjadi egois. Mereka tidak menginginkan adanya pemimpin yang ikut campur urusan mereka. Asal perut kenyang dan IPK aman, seprtinya semua urusan lain bukan menjadi masalah. Terserah bagaimana tetek-bengek urusan mahasiswa lain, isu sosial terkini, atau hiruk pikuk kebijakan pemerintahan.”

“Cukup!” Ia angkat bicara setelah penjelasan panjangku. “Kau. Ah bukan. Kita. Kita tidak boleh terus seperti ini. Entah apapun yang terjadi nanti, kita harus tetap optimis. Kita berharap pada hati nurani yang tersisa di setiap sanubari mahasiswa.

“Akan kucoba hubungi teman-temanku untuk membantumu, wahai kotak putih. Aku tak tega melihatmu menderita kelaparan seperti itu. Setiap mahasiswa harus datang dan memberimu makan. Mereka harus bersuara. Walaupun pilihan mereka bukan merupakan kandidat yang menyalonkan diri, setidaknya mereka memiliki pilihan, bukan menyerahkan pada ketidakacuhan.”

Aku beranjak dari tempat duduk, mendekati jendela kaca yang tak mengizinkan sepoi angin menyapa kesepian kami, hanya secercah cahaya yang masuk tanpa permisi.

“Ya, terima kasih. Aku hargai bantuanmu. Namun, sebera laparpun aku sekarang, sebenarnya aku tidak ingin sembarangan makan. Apa yang akan masuk ke dalam perutku haruslah menghasilkan pemimpin yang baik. Demi kebaikan kampusku”

Tak perlu berisik angin yang masuk dan justru mengacaukan keheningan di dalam. Cukup secercah cahaya yang menginspirasi. Karena bersuara tak harus ramai.


srengseng sawah, 1-12-14




gambar dari sini

Comments

  1. terima kasih info nya gan.....
    jangn lupa berkunjung ke Anehh.com

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu