Hitam dan Putih


Aku sedikit merasa aneh dengan lengkung senyum yang dibarengi lekuk-kernyit dahimu itu. Entah dari mana datangnya, kau malah menanyakan apa warna kesukaanku. Untuk sekadar bas-basi kah? Ah, biarkan kujawab saja. Toh, aku juga ingin menghilangkan gugup, sebelum kau menanyakan hal yang membuatku tercekat.

Aku suka hitam. Sebuah warna yang mewakilkan keanggunan. Mengekspos gemerlap bintang dengan elegan. Hitam adalah ketegasan yang memberikan perlindungan untuk jiwa yang dihantui kelamnya rasa takut. Kudapati hitam saat menatap langit, sebelum aku merebah lelah.

Aku suka putih. Sebuah warna yang pancarkan ketulusan. Mencerahkan hati yang dirundung kelu. Putih adalah permohonan maaf yang bersandar pada kepasrahan namun tetap mengokohkan kesucian spiritual. Kudapati putih saat menatap langit, di mana awan menggelayut malas diterpa angin.

Aku suka hitam dan putih. Keduanya bisa menyatu menjadi perpaduan yang pas. Bukan meniadakan, namun saling memberi kesempatan untuk muncul. Tak perlu mendongak ke atas sana. Kudapati hitam-putih pada secangkir kopi susu, saat kunikmati mentari di beranda pagi.

Aku suka hitam dan putih. Keduanya tak selamanya harus bercampur. Masing-masing ada dengan batas pengertian yang saling menerima. Hitam dan putih, anggun sekaligus tulus, tegas juga suci, serta mencerahkan dengan  cara elegan. Tak usah mencari di atas sana. Kudapati hitam dan putih tepat didepanku, saat kutatap teduh bola matamu.


Dan dengan tatapanmu itu, akan kujawab ‘ya’ untuk apapun pertanyaan yang keluar dari mulutmu setelah ini.





gambar dari sini
serengseg, 12/25/14

Comments

Popular posts from this blog

"Baik Baik Saja"

Laksana Hujan

Hai Kamu