Posts

Showing posts from December, 2014

Tata Kelola Energi Indonesia dan Resourse Curse

Memiliki keberlimpahan sumberdaya alam adalah anugrah bagi sebuah negara untuk mendorong perekonomiannya. Namun, bila dikelola dengan buruk, kekayaan tersebut bisa menjadi kutukan (resource curse) yang dapat menyerang balik empunya. Indonesia dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah, termasuk kekayaan energi yang sempat menjadikan Indonesia berjaya saat oil boom tahun 1970an. Di tengah-tengah isu gejolak energi yang hangat dibicarakan dewasa ini, Indonesia harus mampu keluar dari kutukan yang menghantui pengelolaan energi. Krisis Energi Indonesia Pemanfaatan energi di Indonesia hingga tahun 2012, sebagian besar masih bersumber dari bahan bakar fosil berupa gas dan minyak bumi (70,68 %), sementara Energi Baru Terbarukan (EBT) hanya mendapat porsi 5%. Masalahnya, migas merupakan kekayaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Indonesia sudah berada di ambang krisis minyak. Dalam 30 tahun terakhir cadangan minyak Indonesia merosot 68 %, penurunan tercepat dan tertajam di As…

Hitam dan Putih

Image
Aku sedikit merasa aneh dengan lengkung senyum yang dibarengi lekuk-kernyit dahimu itu. Entah dari mana datangnya, kau malah menanyakan apa warna kesukaanku. Untuk sekadar bas-basi kah? Ah, biarkan kujawab saja. Toh, aku juga ingin menghilangkan gugup, sebelum kau menanyakan hal yang membuatku tercekat.
Aku suka hitam. Sebuah warna yang mewakilkan keanggunan. Mengekspos gemerlap bintang dengan elegan. Hitam adalah ketegasan yang memberikan perlindungan untuk jiwa yang dihantui kelamnya rasa takut. Kudapati hitam saat menatap langit, sebelum aku merebah lelah.
Aku suka putih. Sebuah warna yang pancarkan ketulusan. Mencerahkan hati yang dirundung kelu. Putih adalah permohonan maaf yang bersandar pada kepasrahan namun tetap mengokohkan kesucian spiritual. Kudapati putih saat menatap langit, di mana awan menggelayut malas diterpa angin.
Aku suka hitam dan putih. Keduanya bisa menyatu menjadi perpaduan yang pas. Bukan meniadakan, namun saling memberi kesempatan untuk muncul. Tak perlu mendong…

Q.E.D.

Image
Aku masih terjaga, saat separuh bongkah bulan memantulkan titipan cahaya dari matahari. Sementara bintang-bintang menarik selimut awan untuk beristirahat. Beberapa dari mereka masih berkedip, mengusir remang melalui jendela kaca yang sedari tadi kutatap hampa. Sepertinya mereka bosan melihatku diam – duduk  di depan meja belajar bersama tumpukan buku dan lembaran kertas.
Aku benar-benar terjaga, saat secangkir kopi hitam memantulkan wajahku yang gusar, menunggu balasan sebuah pesan yang tak kunjung tiba. Sesekali kulirik handphone untuk memastikan notifikasi yang muncul. Entah angin apa yang berhembus tadi hingga aku berani menyapanya dengan 24 karakter, “hai ndre, masih belajar?” Setengah jam berlalu begitu saja.
Tiingg. Nah, itu dia.
“Iya, masih ko. Kenapa, rin? kamu pasti lagi belajar juga, kan?”
“Gapapa, mau nyapa aja. Iya, semua pasti lagi belajar kalau lagi musim ujian gini. Hari-hari yang melelahkan.” Balasku seketika.
“Tenang aja, minggu depan UAS kelar. Udah sampe mana belajarnya…

Jatuh Merindu

Image
Tak perlu menjadi jenius untuk tahu bahwa waktu itu relatif. Kadang ia merentang – melambatkan derap jarum jam yang bosan akan stagnasi ritual kehidupan. Kadang pula ia memampat – menjadikan potongan sketsa menumpuk tak terasa, seperti setahun yang kita lewati bersama ini.
Selama itu kita berusaha saling mendekat. Jarak pun terlipat dari sepelemparan batu sampai cukup untuk bersandaran bahu, tapi tetap saja aku tak berani menggandeng tanganmu.
Masih jelas teringat saat pertama kali kita bertemu. Kikuk. Aku ragu-ragu menanyakan namamu, tapi balas senyummu sudah cukup untuk melancarkan pembicaraan kita saat itu. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenalmu, dan kupustukan untuk mengajakmu bertemu di lain waktu.
Setelah itu kita sering kali melewati hari bersama. Mentari yang ranum mendaki garis langit, menjadi saksi bisu kisah yang kita buat. Aku dan kamu, bersama semesta yang memeluk hangat perjalanan kita. Dan tak kulupa awan teduh yang mengiringi langkah mungil – meniti tangga mimpi yang k…

Kaus Kaki

Image
Ada banyak alasan yang mendasari seseorang mencintai.  Seringkali urusan fisik, materi, dan silsisah diperbincangkan di meja makan para pengagum. Namun terkadang tak perlu paras rupawan, mobil mewah, atau darah bangsawan untuk membuat seseorang jatuh hati. 

Cinta bisa tumbuh dengan perihal yang sangat sederhana. Atau bahkan mencintai sama sekali tak butuh alasan. “Bagaimana denganmu? Alasan apa yang membuatmu cinta padanya?” tanya seorang teman padaku.

Aku mencintainya karena kaus kaki. Bukan karena miliknya yang berwarna menarik atau bermotif lucu. Tapi perasaan ini muncul begitu saja saat aku tahu sepasang kaus kaki melekat di kakinya. Barangkali ini bentuk cinta sederhana yang mewakili puisi Sapardi Damono. 

Entahlah, mungkin ini aneh. Tapi dari kaus kaki aku melihat itikad baiknya untuk menjaga diri, lebih dari sekadar helai kain yang menutupi rambutnya, selaras dengan  telungkup tangan di depan dada yang membuat laki-laki manapun segan bersalaman. 

Menurutku seorang wanita yang sadar…

Kotak yang Kelaparan

Image
Kulihat sebuah kotak kecil tergeletak disudut ruangan. Ia lusuh sekali. Tubuhnya yang berwarna hijau itu penuh dengan lipatan keriput, tanda ia sudah cukup berumur. Aku mencoba mendekat untuk memastikan keadaannya.

“Hai.. Apakah kau baik-baik saja?”
Ia bergeming, lalu menatapku lamat-lamat. Mungkin ia terheran mengapa sebuah kotak putih yang sedikit lebih besar darinya bisa di tempat seperti ini. Aku juga sebenarnya tidak begitu tahu tempat apa ini.
Kami berdua sama-sama terjebak di ruangan berdebu sekaligus bau ini. Kami tidak bisa pergi ke mana-mana karena pintu keluar dikunci. Barangkali pemilik kami ingin memastikan bahwa esok hari kami siap menjalankan tugas. Walaupun sebenarnya aku sendiri tidak begitu yakin akan berguna.
“Aa.. aku lapar.” Lirih kotak hijau itu.
“Apa katamu?” tanyaku memperjelas.
“Aku lapar. Benar-benar lapar. Akhir-akhir ini perutku sakit karena selalu telat makan. Orang-orang sudah tidak peduli lagi padaku. Terakhir kali mereka memberiku makan itu dua hari yang lal…