Sepucuk Surat Untukmu


Sepucuk surat kutulis untukmu,
namun hanya tergeletak rapuh di sudut meja,
saat gemilau rembulan mulai mengintip malu di pekarangan senja.


Kutimang ringan secarik kertas itu,
namun tak ada merpati yang mau terbang mengantarkannya,
walau langit telah menelan bebayang petang demi menjemput pagi.

Kurangkai kata demi kata,
yang dapat melipat jarak panjang antara kau dan aku,
namun kita tidak benar benar mendekat, seperti debur ombak yang menyapa tepi

Lewat tinta biru - warna kesukaanmu - teruntai salam yang tak menuntut balas.
aku, pungguk yang bersembunyi di balik lembaran selimut malam,
hanya berharap apa yang dari hati akan sampai ke hati,

Segumpal rindu muncul dari balik dedaunan yang seperti enggan melepas embun.
Kucicil tanda tanya di antara bait bait malu,
untuk sekadar tahu bagaimana kabarmu.

Di situ kuceritakan aku yang menikmati rintik hujan,
agar kusadar bahwa di atas sana ada langit,
yang bisa sampaikan rapalan doaku untukmu

Sepucuk surat kutulis untukmu,
namun kikirim ia pada selain dirimu.
Biarkan semesta tahu,
bahwa aku mencintaimu.




Kapuk, 11-11-14


gambar dari sini

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu