Posts

Showing posts from November, 2014

Kado Istimewa

Image
Hari ini aku berulang tahun. Tak seperti kebanyakan anak-anak lainnya, aku tidak ingin mengadakan pesta. Ayah dan Ibu sudah menawari kemarin, tapi aku lebih tertarik menghabiskan waktu di kamar seharian. Aku tidak suka keramain, terlebih melihat teman-temanku berlarian di rumah sempit ini.

Kami bertiga merayakan hari bahagia ini dengan sepotong kue tar yang sama sekali tak menarik seleraku. Kucicipi sedikit untuk sekadar menghargai mereka yang sudah menggenapkan lilin angka dua belas di atasnya, sisanya kubiarkan membeku di kulkas. 

Belakangan ini banyak orang yang menaruh perhatian padaku. Tapi ketahuilah aku tidak perlu dikasihani. Aku tahu bahwa aku memang berbeda dari kebanyakan orang, tapi bukan berarti mereka harus memperlakukanku secara berbeda. 

"Aku senang, kok. Terima kasih banyak. Kalian semestinya tidak perlu repot begini" Jawabku atas keheranan mereka. Aku memang tak pandai berekspresi. Aku bocah ingusan yang masih belum memahami tradisi pergantian tahun lahir sepe…

Pahlawan Tak Bersepatu Lars

Image
Dialah pahlawanku. Aku tahu Ia tidak besar, kekar, atau memiliki ayunan tangan yang kuat. Ia tidak memegang senapan, kapak, atau pisau, bahkan memakai sepasang sepatu lars pun tidak. Ia juga tidak diceritakan dalam kisah-kisah epos yang mendebarkan, tapi ia tetap pahlawanku.
Ia bangun sebelum sebelum fajar menekuk gulita petang. Selalu ada bisik sakral yang menggema di dinding kamarnya. Aku tak benar benar mendengarnya. Namun itu tersampaikan begitu saja lewat perantara ketulusan.
Sebelum langit menggeret mentari terlalu tinggi, ia sudah menantang hari dengan kemeja sahajanya. Tapi tak pernah lupa ia mendengar kisah tentang aku dan si bola bundar, saat sebutir telur mata sapi menatap iri keakraban kita.
Sembari menyeka bekas susu di ujung bibir, aku mengantarnya sampai ujung pintu. Langkah kakinya menjejakkan keyakinan dan kesungguhan. Kulambaiakan tangan melepasnya pergi, berharap ia bisa mendengar ceritaku lagi saat pulang nanti.
Aku tidak tahu pasti apa yang ia lakukan di luar sana, saat t…

Sepucuk Surat Untukmu

Image
Sepucuk surat kutulis untukmu,
namun hanya tergeletak rapuh di sudut meja,
saat gemilau rembulan mulai mengintip malu di pekarangan senja.


Kutimang ringan secarik kertas itu, namun tak ada merpati yang mau terbang mengantarkannya,
walau langit telah menelan bebayang petang demi menjemput pagi.

Kurangkai kata demi kata,
yang dapat melipat jarak panjang antara kau dan aku,
namun kita tidak benar benar mendekat, seperti debur ombak yang menyapa tepi

Lewat tinta biru - warna kesukaanmu - teruntai salam yang tak menuntut balas.
aku, pungguk yang bersembunyi di balik lembaran selimut malam,
hanya berharap apa yang dari hati akan sampai ke hati,

Segumpal rindu muncul dari balik dedaunan yang seperti enggan melepas embun.
Kucicil tanda tanya di antara bait bait malu,
untuk sekadar tahu bagaimana kabarmu.

Di situ kuceritakan aku yang menikmati rintik hujan,
agar kusadar bahwa di atas sana ada langit,
yang bisa sampaikan rapalan doaku untukmu

Sepucuk surat kutulis untukmu,
namun kikirim ia pada selain dirimu.
Biar…