Sekilas Senja di Senggigi


Senggigi tak pernah kehilangan sihirnya. Aku tak hanya terpana, lidahku kelu untuk membahasakan indahnya. Dari ujung bibir pantai, mataku menyisir setiap sudut kemewahan alam. Tak rela bila kedip mengambil jeda.

Bersamaan dengan lambaian daun kelapa, sepoi lembut angin memanggilku untuk datang kekemari. Hembusnya bagai mantra yang membuatku tak punya pilihan lain selain menurut. Namun bukan itu sebab keberadaanku di sini. Ada alasan yang mampu menduakan eloknya Senggigi.

Aku berdiri dalam pijakan yang gemetar, menghela nafas perlahan. Harus kuakui sebenarnya aku suka dengan segala sesuatu di pantai ini. Angin, ombak, buih air, pasir, terumbu karang, termasuk sepasang pohon kelapa yang asyik menatap samudra itu. Keduanya mengingatkanku pada kita dulu, penikmat senja yang senang menghabiskan waktu berdua – bersandar pada masing-masing batang pohon kelapa. Entah oleh sihir apa atau siapa, kita lebih banyak diam.

Kususuri jalan sepanjang bibir pantai, tinggalkan jejak sesaat kemudian pudar tersapu ombak. Andai kenanganku bisa mudah tersapu waktu, tak perlu kuhabiskan malam dengan renung bisu. Nyatanya masa lalu tidak dibentuk dari gundukan pasir, bukan sesuatu yang mudah diusir.

Samar-samar kau muncul dari kabut kenangan. Sayangnya lagi-lagi kau hanya diam, menyimpan rahasia yang terkunci rapat di hati. Sementara aku memendam tanda tanya begitu lama. Sampai kapan aku harus menunggu? Atau ini bukan pertanyaan yang menuntut jawaban?

Tahukah kau, terkadang aku iri kepada pasir. Ia disapa lembut setiap saat oleh laut. Dari kejauhan buih air meninggi, debur demi debur, ombak-ombak berkejar-kejaran untuk bisa menggapai dan membelainya. Lalu mereka menggeretnya manja – mengajak kembali ke lautan. Bagaiamana kah rasanya diperjuangkan?

Kepada senja, tempat matahari berayun malas di atas kubangan samudra, telah lelah kucurahkan resah tanpa suara. Aku yang tanpa daya ini hanya bisa menanggung lara, menatap hampa pada sosok yang muncul dari kabut itu.

Di antara gulungan ombak itu, adakah kalimatmu yang sempat terputus kala itu? Kumohon sampaikanlah, biar bisa kubalas sapa mentari esok dengan senyum kepastian.

Tapi apalah arti semua itu bila aku tetap seperti ini. Jangankan untuk menyampaikan rasa, menyelesaikan sajak ini pun aku lunglai. Asaku hanya sebatas pada secarik kertas dalam botol kaca. Segalanya kupasrahkan pada laut. Biarkan ia terhanyut. Aku percaya ombak akan menyampaikannya pada pasir. Barangkali ada yang mau kugeret manja - kuajak berlayar ke laut dan menikmati sihir Senggigi dari sisi lainnya.



.
kukusan, 26-10-14


gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu