Posts

Showing posts from October, 2014

Tongkat Estafet Pembangunan Ekonomi Indonesia

Senin 20 Oktober 2014 menjadi hari dilantiknya presiden ke-7 Indonesia yang dipilih rakyat secara langsung. Tongkat estafet kepemimpinan negara berpindah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Joko ‘Jokowi’ Widodo. Disaat itu pula tugas, tanggung jawab, dan amanah besar untuk membangun perekonomian bangsa dilimpahkan kepada sosok yang menjadi harapan baru Indonesia kini. Lantas apakah Jokowi mampu menjawab harapan tersebut?
Menilik kepemimpinan SBY sepuluh tahun terakhir dari sisi ekonomi, terdapat beberapa hal yang perlu diapresiasi. SBY berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi stabil dengan kisaran 4%-6,5% setiap tahunnya. Bahkan di saat krisis finansial pada 2008, di mana AS dan Negara-negara Eropa terpuruk dengan pertumbuhan negatif, Indonesia mampuh tumbuh 4,6%. Sektor riil Indonesia digadang-gadang berperan secara fundamental menjalankan roda perekonomian dan mempertahankan diri dari krisis.
Selain itu pengangguaran juga menurun secara drastis. Data Badan Pusat Statistik mencatat …

Sekilas Senja di Senggigi

Image
Senggigi tak pernah kehilangan sihirnya. Aku tak hanya terpana, lidahku kelu untuk membahasakan indahnya. Dari ujung bibir pantai, mataku menyisir setiap sudut kemewahan alam. Tak rela bila kedip mengambil jeda.
Bersamaan dengan lambaian daun kelapa, sepoi lembut angin memanggilku untuk datang kekemari. Hembusnya bagai mantra yang membuatku tak punya pilihan lain selain menurut. Namun bukan itu sebab keberadaanku di sini. Ada alasan yang mampu menduakan eloknya Senggigi.
Aku berdiri dalam pijakan yang gemetar, menghela nafas perlahan. Harus kuakui sebenarnya aku suka dengan segala sesuatu di pantai ini. Angin, ombak, buih air, pasir, terumbu karang, termasuk sepasang pohon kelapa yang asyik menatap samudra itu. Keduanya mengingatkanku pada kita dulu, penikmat senja yang senang menghabiskan waktu berdua – bersandar pada masing-masing batang pohon kelapa. Entah oleh sihir apa atau siapa, kita lebih banyak diam.
Kususuri jalan sepanjang bibir pantai, tinggalkan jejak sesaat kemudian pudar t…

Sama-sama Kuning

Image
Sama-sama kuning, satu untuk warna bendera, satu untuk warna janur.
Sama-sama kuning, yang ini menandakan duka, yang itu mengabarkan gembira,
Percalayalah bahwa kesedihan dan kebahagiaan itu digilirkan masing masing di antara kita. Tidak ada kuasa untuk melawan apa yang telah tertulis dalam lembaran takdir. Manusia tak bisa lompat dari batas jerih usaha dan rapalan doa. Kita berada di antara tangan yang mendekat pada seikat genggam dan tangan yang menjauh dari ujung pelepasan.
Kuning. Pilu-pasi para pelayat datang menghaturkan iba. Semua larut dalam sedu sedan tak berkesudahan. Lembaran kehidupan telah usai. Lantunan doa-doa mengiringi kesunyian.
Perpisahan adalah sebuah keniscayaan. Orang boleh bilang masa depan itu misteri, tapi yang jelas mati itu pasti. Bermimpi dan mempersiapkan masa depan adalah hal baik, tapi prihatin dan bersiap diri untuk hal yang jauh lebih pasti tentu  tidak dapat ditawar lagi. Sebelum perpisahan itu datang, kita tak akan pernah tahu kapan bendera kuning berkibar di…

Hmmm

Ingin kuberitahu suatu rahasia, bahwa aku memendam perasaan pada seorang gadis. Sedikit demi sedikit kupahami perasaan tersebut adalah cinta, yang nantinya kusadari bahwa cinta yang kumiliki adalah hal yang sulit diterima. Karena kami berbeda.
*** Perasaan itu muncul beberapa tahun silam, saat aku pertama kali bertemu dengannya. Waktu itu dia masih kecil. Aku juga belum terlalu besar. Terlebih untuk mengerti ketertarikanku padanya. Yang kutahu hanya aku merasa sedang bertemu seorang tuan putri kecil di negeri dongeng. Entah apa pasal, sejak saat itu kuputuskan untuk memendam perasaan dalam diam.
Saat itu ia pergi ke desaku bersama keluarganya untuk mengunjungi kakeknya. Aku yang warga setempat ini sedang menuju sawah untuk membajak. Kami bertemu di seberang pematang. “Haii… selamat pagiii….” ia mencoba menyapaku dengan ceria. Alih-alih membalas salamnya, aku justru terdiam gagu. Kubiarkan ia lewat begitu saja. Cukup malu mengingat aku yang saat itu sangat berantakan. Bahkan sepertiny…