Tanyamu tentang Waktu


Sore tadi kita habiskan dengan diskusi yang sedikit aneh. Entah apa pasal, tiba-tiba kau bertanya, bahkan sebelum kau menyeruput teh tarik setengah sendok gula pesananmu. “Ren, kau tahu apa itu waktu?” Pertanyaan singkat yang masih kurenungkan saat ini.
Belum lama aku diam berpikir, kau sudah mulai menguraikan penjelasanmu sendiri. Kau menerangkan bagaimana Ibnu Sina yang mendefinisikan waktu dengan empat pasal dan beberapa potsulatnya. Kau juga jelaskan pendapat Aristoteles yang menganggap bahwa waktu adalah sinambung (continuous) yang tidak memiliki awal maupun akhir. Berturut-turut kemudian muncul nama-nama seperti Al-Kindi, Newton, Zeno, dan Leibniz. Lalu muncul pula istulah istilah tentang ruang, gerak, eksistensi, esensi, absolut, dan relatif. Walaupun tak semuanya kumengerti, aku senang kau begitu bersemangat menjelaskannya. Kau seperti anak kecil mendapatkan mainan baru bernama filsafat.
Pembahasan mengenai waktu sudah ada sedari dulu. Tak kalah tua dengan pembahasan mengenai  asal muasal dunia ataupun pertanyaan tentang eksistensi Tuhan. Banyak orang yang mempertanyakan, banyak pula yang mencoba memberi jawaban. Ada juga yang berpendapat bahwa waktu itu pertanyaan sekaligus jawaban. Sebagai sebuah satu kesatuan, kita tidak bisa mendikotomikan keduanya.
“Waktu itu relatif” aku mencoba berbicara semampuku. “Mungkin kita merasa waktu berjalan sangat lama saat kita sedang bosan. Kamu ingat bagaimana aku menguap terus di kelas Pak Arman tadi? Sepertinya lelah sekali menunggu sesi perkuliahan habis. Sementara saat bermain game -yang tidak kamu suka itu- rasanya aku baru bermain beberapa babak, padahal sudah lewat tengah malam.”
Aku semakin ingin bertanya-tanya.
Apakah itu waktu, saat kau tanyakan digit yang tertera di jam tanganku? Apakah itu waktu, saat kau perhatikan matahari yang menyipit di ufuk senja? Apakah itu waktu, saat kau tandai bayang-bayang sama panjang dengan tubuhnya? Terkadang kita terpaksa menerjemahkan waktu pada ukuran matematis dengan segala standar buatan manusia. Detik berlalu, menit berselang, jam berputar, hari berganti, setiap saat kita berusaha memahami proses gradual yang mengiringi perjalanan hidup ini.
Semakin aku berpikir, semakin besar tanda tanya itu.
Orang bilang waktu adalah uang. Seberapa mahalkah? Nyatanya tidak ada orang yang benar-benar bisa membelinya. Apa karena tidak ada yang menjual? Jika memang bisa dibeli, apa kita akan terpisah pada dimensi waktu yang berbeda? Orang bilang waktu itu sejalan dengan perputaran bumi, sehingga ada siang dan malam. Apakah jika kita bisa bergerak lebih cepat dari bumi dengan berbalik arah kita bisa memundurkan waktu? Di poros kutub bumi tidak ada perputaran siang-malam, apa di sana tidak ada waktu?
Tiap orang memiliki cara tersendiri untuk menghabiskan waktu. Tunggu dulu. Apakah kita bisa benar-benar menghabiskan waktu? Bagaimana mungkin ia bisa habis sementara tidak ada wujud yang merepresentasikan eksistensinya? Lalu salahkah dengan istilah-istilah lain seperti meluangkan, memersingkat, atau bahkan membunuh waktu? Aku semakin tidak mengerti. Sepertinya menanyakan waktu hanya akan menimbulkan  pertanyaan lain. Sementara belum ada jawaban yang memuaskan kita atas pertanyaan sebelumnya.
Manusia telah lama mempertanyakan eksisensi waktu. Namun pembahasan tidak mengerucut pada ujung konklusi. Barangkali kita ini terjebak dalam rasa keingintahuan. Boleh jadi waktu bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan ataupun didefinisikan. Yang jelas waktu bukan kalkulasi matematis yang jawabannya tentu. Ah, bahkan kebenaran ilmuwan akan matematika juga merupakan konsensus. Hanya kebenaran Tuhan yang haqiqi.
Yang kutahu, waktu membagi kita pada 3 dimensi: dulu, kini, dan nanti.
Adalah waktu, wadah yang merangkum segalanya di masa lalu – merapikan potongan-potongan kenangan yang layak disimpan, seperti ulang tahunmu yang kita rayakan minggu lalu. Tanpa lilin. Tanpa kue. Semangkuk sup berdua sepertinya lebih indah untuk diabadikan oleh waktu, bersama harapan-harapan yang kita susun setinggi mungkin, sebagai jalan memanjat langit.
Tapi aku tidak benar-benar tahu bagaimana waktu menyimpan masa lalu. Yang jelas ia tidak menjelma seperti piringan hitam yang bisa kita putar kapanpun kita mau.Titik-titik momentum yang terlewat tak mungkin terulang lagi. Sebab ada rentang yang memisahkan aku yang dulu dengan yang sekarang. Walaupun aku sama sekali tidak merasakan menjadi baru.
Waktu juga yang membuat kita berjam-jam melamun – membayangkan bagaimana kisah kita nanti. Berjodohkah kita? Siapa yang akan berada di sisimu nanti? Siapakah di antara kita yang lebih dulu menaruh bunga di batu nisan kita. Baiklah, mungkin pertanyaan tersebut terlalu berat. Aku lebih penasaran untuk tahu apakah kau masih suka menggaruk hidung mungilmu itu saat tua nanti.
Masa depan memang sebuah misteri. Namun aku cukup heran dengan orang yang ketika ditanya kapan ia hanya mengatakan, “Biarlah waktu yang akan menjawab”. Sebesar itukah kuasa waktu? Seakan-akan kita sama sekali tidak berdaya.  Apa waktu itu seperti Tuhan? Mungkin inilah yang menjadi dasar anggapan bahwa waktu itu merupakan pertanyaan sekaligus jawaban. Kalau begitu, apakah aku harus menjawab seperti itu saat ditanya mengenai kita?
Waktu yang mengantarkan kita pada pertemuan. Waktu pula yang menentukan ujung perpisahan. Terkadang aku berharap jarum jam berputar lebih cepat. Tapi tahukah kamu? Sore itu, di meja itu, aku sedang menggerutui bumi yang tak mampu membekukan waktu, saat aku bersamamu.

Kapuk, 12-09-14

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu