Masa Depan Energi Baru Terbarukan Indonesia

listrik

Energi menjadi hal yang sangat vital bagi aspek-aspek kehidupan manusia, terlebih dari sisi ekonomi. Dengan populasi sekitar 240 juta jiwa, Indonesia menjadi konsumen energi yang cukup besar hingga mewakili 5% kebutuhan energi dunia. Namun ketergantungan Indonesia pada energi berbasis minyak bumi dan batu bara masih tinggi, padahal sumber tersebut tidak bisa menjamin ketersediaan yang mencukupi dalam jangka pandang dan memiliki dampak negatif pada lingkungan. Sementara itu belum ada upaya yang signifikan untuk mengembangkan  energi baru terbarukan (EBT) sebagai solusi alternatif.

Jika dilihat komposisinya, pemanfaatan EBT di Indonesia masih rendah. Minyak bumi dan gas alam mendominasi sekitar 71 %, lalu disusul batu bara 23%. Sedangkan EBT hanya memiliki proporsi sebesar urang lebih 5 %, jauh di bawah target yang ditetapkan oleh Dewan Energi Nasional sebesar 23%.  Pengembangan EBT seringkali terhambat meberapa masalah utama seperti tumpang tindih aturan dan wewenang antar kementerian, tingginya biaya investasi, lemahnya kualitas SDM, serta masih kurangnya infrastruktur yang memadai.

Memiliki karakteristik geografis dan demografis yang hampir sama dengan Indonesia, Brasil merupakan negara yang pantas dilihat sebagai tolak ukur dalam pengenmbangan EBT. Walaupun menjadi konsumen energi terbesar di dunia (11,7 quadrillion British thermal units) Brasil mampu menanganinya dengan pengembangan energi alternative. Sejak krisis miyak tahun 1970, Brasl mengembangkan bioethanol dari gula tebu.yang hinggapada  tahun 2011 sudah mencapai 11,9 persen dari pemanfaatan energi nasional. Kebijakan ini yang menjadikan Brasil Negara produsen bioethanol terefisien di dunia. Selain itu ada pula biodiesel, biofuel, energi tenaga angin, gas alam, yang memaksimalkan presentasenya hingga 46%.

Indonesia sebenarnya punya potensi serupa. Data Kementerian ESDM tahun 2012 menyebutkan bahwa energi panas bumi di Indonesia, sebagai contoh energi terbarukan, hanya memiliki kapasitas terpasang sebesar 1.341 MW dari sumber dayanya yang sebesar 29 GW. Hal ini berarti panas bumi baru dimanfaatkan sebesar 4,6%, sementara 95,4 % sisanya masih tertimbun – menunggu kemauan dan kemampuan Indonesia untuk memanfaatkannya.

            Dengan Perpres 5/2006 dan UU No 30 Tahun 2007 tentang Kebijakan Energi Nasional, Indonesia mulai menjajakkan langkahnya untuk pengembangan energi alternatif yang lebih baik. Jika pemerintah, masyarakat, dan swasta bersedia berkomitmen untuk masa depan energi Indonesia, maka target 23% EBT untuk 2025 bisa tercapai, bahkan bukan suatu yang mustahil untuk bisa menyusul Brasil dalam jangka panjang. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, mari mulai mengembangkan alternatif solusi daripada bergantung pada minyak bumi.
.

tulisan ini dimuat di koran SINDO edisi selasa, 12 Agustus 2014
gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Terus Melangkah

Masih Sama

Luka