Rintik Rindu

raindrop-lightbulbs
Setelah isak pilu mendung, hujan turun dari langit, membawa rintik rindu yang jatuh perlahan. Tanpa payung kumelebur dalam kelambu air yang tak tersibak. Bukan teduh yang kucari. Biar kudengar gemuruh gundah yang sedari dulu tertahan. Biar kurasakan deras gelisah yang tak tersampaikan. Biarkan aku basah dalam perasaan yang mungkin tak diinginkan.

Bersama kabut tipis aku diam bersembunyi. Kuperhatikan lekat-lekat setiap butir air yang jatuh, barang kali ada kabarmu terselip di situ. Aku tak perlu menuunggu sinar matahari yang enggan berikan kepastian. Terus terang, ‘baik-baik saja’-mu sudah cukup untuk menghangatkan, walau reda tak kunjung datang.

Mataku masih mengikuti gerak air itu. Ia jatuh bukan untuk tersungkur. Satu demi satu butir terkumpul, lalu bergerak dalam satu firasat yang sama. Bumi tahu bagaimana ia mengantarkan aliran – turun pasrah menuju ujung perasaan. Tapi tak semua bisa mencapai muara.

Seperti hujan yang tinggalkan genangan, begitu lihai kau pergi menyisakan kenangan. Tak tahukah bagaimana wajah senduku yang bercermin di situ? Dibalik ketegaran yang kubangun dengan sia-sia, kau akan lihat ada kerut penantian, atas pertemuan yang entah kapan.

Jika ku tatap langit dari sini, bukankah kau melihatnya juga di sana? kita beratapkan langit yang sama. Hanya saja mungkin kau tak diguyur hujan. Kau tak merasakan humbusan rindu yang membelai pelan. Boleh jadi ada mentari yang mencerahkan harimu. Andai kau mau berbagi kehangatan, untuk aku yang sedang kedinginan

Kemarilah, tutup telingamu dari nyanyian katak yang sepertinya mendayu merdu. Ikhlaskan untuk tenang sejenak. Cobalah nikmati nada syahdu dari elegi gerimis. Lalu  rasakan setiap rintik yang jatuh. Barangkali kau mendengar bahasa ketulusan di situ.

Andai aku bisa, bersama hujan, ingin kulunturkan segumpal perasaan itu. Kubiarkan ia mengalir menelusuri bumi, tanpa gaya dan paksa. Barangkali ada muara lain yang bisa dituju. Namun air tercipta untuk mengikuti  aliran takdir.



Jetis, 21-07-2014
gambar dari sini

Comments

  1. isiny lbih menyegarkan dari tulisn yg sblumny...

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu