Hadiah Lebaran untuk Indonesia

2013073112335614703

Indonesia sedang merayakan pesta demokrasi. Pilpres (Pemilihan Presiden) tanggal 9 juli menjadi puncak dari perayaan ini. Bersamaan dengan bulan ramadhan, Indonesia sendiri sebenarnya ikut berpuasa – bersabar dengan keterbatasan dan kelesuan Negara ini atas permasalahan yang ada. Sampai saat lebaran nanti, akan ada hadiah kabar gembira berupa datangnya satria piningit yang diharapkan mampu memimpin Indonesia dan mendorong kebangkitan bangsa.

Salah satu isu yang hangat dibicarakan dalam pilpres adalah Sumber Daya Manusia (SDM) dan ketenagakerjaan, terlebih dengan Indonesia yang sedang menghadapi era Bonus demografi hingga tahun 2030. Bonus demografi (demographic dividend) ialah kondisi saat proporsi penduduk usia produktif lebih besar disbanding penduduk di luar usia produktif, sehingga angka ketergantungan akan menurun dan bisa mencapai titik terendahnya. Presiden terpilih diharapkan dapat memanfaatkan momentum yang sangat langka ini.

Selain merupakan peluang berharga, bonus demografi juga membawa ancaman tersendiri. Di satu sisi, bonus demografi memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas. Perekonomian bisa tumbuh sampai angka dua digit seperti yang dialami Tiongkok dan Korea. Namun di sisi lain, bonus demografi bisa mengakibatkan ledakan pengangguran yang sulit terkendali jika tidak tersedia lapangan perkerjaan yang mencukupi.

Optimalisasi bonus demografi dapat tercapai bila pemimpin terpilih mampu mengawal SDM dan ketenagakerjaan dari dua sisi. Dari sisi supply tenaga kerja, pemerintah harus bisa menigkatkan kapasitas human capital para penduduk usia produktif sehingga mereka mampu bersaingan di era globalisasi ini. Tentunya instrumen pendidikan dan kesehatan memiliki peran yang vital dalam hal ini. Selain itu mereka harus menjamin terjaganya kestabilan investasi pada physical capital dan financial capital sebagai perangkat faktor input.

Sedangkan di sisi demand, pemerintah harus bisa memastikan ketersediaan lapangan kerja yang cukup. Jika tidak, pengangguran akan mebeludak, angka ketergantungan meninggi, dan ekonomi pun melemah. Bencana (demographic disaster) inilah yang harus dihindari. Selain itu, Pemerataan pembangunan menjadi hal yang esensial agar penududuk pedesaan tidak berbondong-bondong melakukan urbanisasi demi mencari pekerjaan yang belum pasti di wilayah perkotaan.

Terlepas siapapun dari kedua pasangan calon yang akan terpilih, rakyat menaruh harapan besar pada mereka untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Pimimpin terpilih harus mampu memanfaatkan bonus demografi dengan optimal. Oleh karenanya, alih-alih secara asal mengambil kucing dalam karung, kita harus cermat memilih hadiah lebaran kita.

Pyan Putro SAM, mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi – UI
tulisan ini dimuat di Koran sindo, 8 Juli 2014
gambar dari sini

 

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu