Larutan Asmara

Image

Masih tersisa…

Kopi pahit yang tak kau minum habis. Kau tinggalkan secangkir larutan prasangka yang mendingin. Lalu perlahan-lahan mengendap dalam gumpalan rasa curiga. Ada apa denganmu?

Syahdan, aku masih duduk di bangku pojok cafe. Tempat yang sama ketika dulu kita pertama bertemu. Tak kutemukan titik kesudahan dari percakapan yang kau mulai tadi. Tapi kau sudah pergi tanpa penjelasan.

Kata orang air yang menggenang mudah menimbulkan penyakit. Bayangkan saja bagaimana rasa sakitku karena tak dapat mengalirkan resah. Kau selalu menuntut tanpa pernah mengerti aku yang carut marut. Lalu mesti ke mana gundah ini bermuara?

Masih ada…

Bekas bibirmu yang tertempel pada tepi beling. Bibir yang pernah mengecup manis di ujung kening. Tapi kini tanpa segan ia mengelupas, tak ada lagi ketulusan yang merekatkanya. Terlebih setelah keluar ucapanmu yang begitu menyakitkan.

Ahh… tapi tidak ada istilah rasional dalam cinta. Satu tambah satu tak selalu berujung dua. Berapakalipun kau sayatkan luka, perasaanku akan tetap sama. Aku terjebak dalam melankoli tak berkesudahan. Walaupun kutimbun benci hingga menggunung, esok hari lapang sudah dada ini.

Pintu mana lagi yang mesti kuketuk jika kau tak mau membuka hati?

Kabar siapa lagi yang bisa kutanya jika kau memang tak peduli?

Salam apa lagi yang harus kulempar jika kau tak jawab perasaanku?

Aku hanya wanita biasa. Kau harapkan aku ini seperti apa? Sudahkah kau lupa kicaumu dulu tentang ‘apa adanya’? Ketahuilah bahwa sempurna itu tak manusiawi. Dan tak sedikitpun parasku menyamai bidadari.

Masih banyak…

Gelas-gelas anggur yang terhidang dihadapanku. Masih kuat dayaku untuk melanjutkan hidup. Biar kutenggak larutan asmara. Biarkan aku mabuk dan tenggelam dalam fantasi cinta. Gelas demi gelas, teguk demi teguk, kusiram puas sayat dahaga. Walaupun aku tau itu hanya menggandakan luka.

 

 

 

Depok, 21 April 2014

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu

Laksana Hujan