Galau Koalisi Partai-Partai Islam

Image

Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, partai politik tak ubahnnya seperti remaja yang masuk masa puber.Kini partai-partai sedang bergalau ria menimbang-nimbang pasangan yang akan diajak maju bersama. Kode-kode bermunculan untuk menarik lawan atau kawan. Tidak terkecuali sinyal koalisi yang disulut Amin Rais pada Kamis (17/4/2014) lalu.

Atas inisiasi tersebut, lima partai politik yang berbasis massa Islam membuat sebuah pertemuan untuk membahas peluang koalisi di Pilpres. Secara kasar, penggabungan persentase suara PAN, PKS, PKB, PPP dan PBB mencapai 31%. JIka berhasil terbentuk, koalisi bernama Indonesia Raya ini memiliki modal yang cukup besar untuk bertarung di pesta demokrasi nanti. Namun kemenangan pesta demokrasi nanti masih menjadi tanda tanya besar.

Pada pemilu 1999, Partai-partai Islam bergabung dalam koalisi poros tengah. Koalisi yang juga dipelopori Amin Rais ini berhasil mengusung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menduduki kursi kepresidenan. Beda zaman, beda kondisi. Koalisi Indonesia raya yang banyak dianggap poros tengah jilid dua ini pun harus berbenah strategi. Merujuk analogi di awal, pasangan kekasih tentunya tidak akan menggunakan dandanan yang sama untuk pesta dansa yang berbeda.

Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat mulai kehilangan kepercayaan dengan partai yang bernafaskan Islam. Hal ini terlihat dari jumlah suara mereka yang masih di bawah partai-partai yang mengusung ideologi nasionalis seperti PDIP, Golkar, dan Gerindra. Partai Islam belum mampu mengakomodir ideologi substantif yang diinginkan umat muslim dan hanya menjadikan Islam sebagai seragam formal pergerakan politik. Hal ini diperparah dengan masalah yang timbul saat mengerucutkan lakon yang akan disusung. Pasalnya parta-partai Islam minim akan tokoh yang mampu merepresentasikan kepentingan rakyat Indonesia.

Menanggapi hal tersebut koalisi Indoensia Raya secara realistis harus membuka diri. Sah-sah saja bila mengajak partai yang berlabel nasionalis untuk bergabung asal punya kesamaan visi dan program. Permasalahan bangsa kini lebih rumit dibanding masa awal pasca orde baru. Konsep poros tengah sudah tidak relevan lagi untuk diusung. Tepat rasanya langkah Amien Rais yang ingin mengusung Koalisi Indonesia Raya agar merujuk kembali ke Pancasila dan UUD 1945. Bukan berarti meninggalkan ideologi Islam yang mendasari ghirah pergerakan, namun inilah langkah kongkret pengejawentahan ideologi untuk bisa merangkul berbagai pihak dan lapisan masyarakat.

Alih-alih kesenangan sesaat, dalam memilih pasangan kita harus mempertimbangkan masa depan. Partai-partai Islam tidak boleh terjebak dalam kepentingan fraksi demi posisi nyaman. Arah pembangunan Indoneisa lima tahun mendatang jadi taruhan.

 

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu

Laksana Hujan