KIPI 2014 #2: Presentation

Hari 2 (7 mar 2014)

Setelah bangun dan shalat subuh,  saya membaca lagi paper saya.  Sembari menunggu antrian kamar mandi saya berlatih presentasi. Segelanya harus dipersiapkan agar berjalan lancar. Practice makes perfect!

Pukul  delapan kami dijemput salah seorang panitia. Ia adalah Khairun, mahasiswi jurusan Sustainability Science. Dari penginapan ke ANU (Australia National University) kami berjalan kaki. Bagi warga di sana, berjalan kaki adalah hal yang biasa. Bahkan untuk jarak satu sampai dua kilometer sekalipun. JIka tidak, biasanya mereka menggunakan sepeda. Hal ini didukung dengan kondisi udara yang tidak lembab, sehingga orang tidak mudah berkeringat.

Para peserta mungkin masih belum bisa menyesuaikan diri. Sesekali Khairun harus berhenti untuk menunggu peserta yang jalannya tertinggal, entah memang jalannya lamban atau menikmati pemandangan kota sekeliling.

Sekitar dua puluh menit kami akhirnya sampa di venue acara. Saya lupa nama persis gedungnya, tapi yang jelas acara diselenggarakan di College of Asia and The Pacific, ANU. Tidak semua peserta menginap di tempat yang sama, baru di gedung tersebut kami bertemu keseluruhan peserta. Sebagian besar memang berasal dari Indonesia, namun ada juga yang berasal dari Malaysia, India, serta Australia. Tingkat pendidikan peserta juga tersebar dari undergraduate hingga PhD candidate.

1899949_10203274756698816_551321435_n   1920495_478386878954118_1365426641_n

Setelah registrasi acara dimulai, pada acara pembukaan ada keynote speech dari prof Peter McCawley dengan judul Beyond MDG’s: Releasing Indonesia’s Development Potensial. Dia memaparkan bagaimana pandangan dia terhadap perkembangan dan pembangunan perekonomian Indonesia dalam jangka menengah, terlebih pada kaitannya dengan RPMJN.

Karena saya mahasiswa ilmu ekonomi, secara konten apa yang ia sampaikan cukup bisa saya mengerti. Beberapa hal telah menjadi pembahasan dalam pembelajaran kuliah saya.  Tapi saya cukup terkesan dengan cara dia menyampaikan materinya, karena dia menggunakan bahasa Indonesia. Sesekali ia selipkan guyonan ala Indonesia. Ia juga terus mengikuti perkembangan informasi di Indonesia, termasuk urusan politik.

12495_518857288235004_1299797373_n   1146618_518857311568335_1412777134_n

Anies Baswedan, rektor Universitas Paramadina dan juga penggagas Gerakan Indonesia Mengajar juga turut menyapa para peserta dengan menyampaikan pesannya mengenai ‘Tapping Indonesia’s Potential’ melalui penayangan video.

Saat coffee break, saya tidak langsung ke tempat makanan. Saya mencoba mendekati prof. Peter McCawley  untuk berbincang-bincang. Baru saya tahu bahwa ia telah lama berada di Indonesia, bahkan sebelum saya lahir. Delam pembangunan ekonomi jangka menengah, saya menanyakan pendapat beliau menenai MP3EI dan AEC 2015.

Sehabis coffee break peserta berkumpul kembali untuk plenary session yang dibawakan dua pembicara dari ANU. Yang pertama adalah Dr. Robin Davies, seorang Associate Director di ANU Development Policy Center. Ia membahas isu MDG’s beserta agenda dunia setelahnya. Satu lagi adalah Prof. Loraine Elliot dari ANU Department of International Relation. Ia membahas keseimbangan ekonomi dan ekologi dalam perkembangan dunia.

1185672_518857331568333_59973150_n   1920543_478387698954036_1820158215_n

Setelah itu shalat jumat bareng mahasiswa PPI Australia. Ada tempat shalat yang tidak terlalu besar di dekat venue.  Saya cukup tersentak dengan isi khutbah yang disampaikan khatib. Ia membahas status kekanak-kanakan agama yang ada di bumi ini. Manusia didorong untuk berbuat baik berdasarkan iming-iming surga dan ancaman neraka. Mungkin untuk yang satu ini akan bahas di lain waktu.

Para peserta berkumpul lagi pukul satu. Kemudian kami dibagi ke beberapa tempat berdasarkan subtema yang kami pilih dalam pembuatan paper. Kebetulan paper saya mengambil subtema Health, education, and public services. Di stream yang saya ikuti akan ada lima presentasi paper pada siang itu. Sisanya akan dilanjutkan keesokan hari. Saya mendapatkan jatah presentasi kedua.

Presentasi pertama adalah peserta dari UNPAD yang membahas sistem integrasi database kesehatan pasien di rumah sakit. Saya gugup ketika mahasiswi itu memasuki sesi tanya jawab dalam presentasinya. Beberapa kali mengatur nafas, saya gunakan doa nabi Musa untuk menenagkan diri sebelum mulai presentasi.

Bismillah, dan saya pun mulai mempresentasikan paper saya.

1782134_478369138955892_1841023860_n   1977386_478390505620422_201862717_n

Lima belas menit untuk presentasi. Lima belas menit tanya-jawab. Secara keseluruhan berjalan lancar. Tapi tentunya banyak kritik dan saran yang saya dapat, terlebih untuk sistematika metode penelitian paper saya yang perlu banyak perbaikan.  Saya justru bersyukur. Hal ini akan saya jadikan batu loncatan untuk pencapaian yang lebih tinggi.

Menjelang malam agenda networking dinner dilaksanakan. Kami dipertemukan dengan para pengurus organisasi persahabatan pemuda Australia-Indonesia, AIYA (Australia Indonesia Youth Association). Para pengurus organisasi ini adalah pemuda Australia. Saya mencoba mengajak ngobrol salah satu dari mereka. Ketika saya meminta komentar mereka tentang makanan khas Indonesia yang disajikan kala itu saya cukup kaget karena ia menjawab dengan bahasa Indonesia. Dan yang lebih mengagetkan lagi di sela-sela pembicaraan ia berkata, “Njenengan saking pundi?”.

1920198_478366318956174_166429625_n   1969253_518861894901210_180801934_n

Setelah rangkaian kegiatan di hari pertama usai kami segera kembali ke penginapan. Lagi lagi dengan berjalan kaki. Capek tapi senang. Diperjalanan pulang kami menikmati pemandangan gemerlap bangunan yang disorot lampu sebagai perayaan Enlighten Festival.

1898066_518862291567837_1244568927_n   998847_518862808234452_1021081600_n

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu