KIPI 2014 #1: Welcome to Canberra

Hari 1 (6-mar-2014)

Pagi itu saya membuka mata dengan keadaan yang tidak seperti biasanya. Terbangun dalam duduk di atas ketinggian 3000 meter mempercepat pemulihan kesadaran saya. Walaupun langit yang saya tatap dibalik jendela tak jauh berbeda, bumi yang akan segera saya injak terletak di seberang benua. Kurang lebih 30 menit setelah itu saya turun dan menghirup udara negeri kanguru. Tidak terbayangkan sebelumnya saya akan berada di Sydney, Australia. Dan Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2014 menjadi alasan kedatangan saya ke sana.

Sayangnya saya tak bisa berlama-lama di kota tempat opera house ini berada. Saya sempatkan membalas chat beberapa teman yang mendoakan keberangkatan saya. Sejam setelah  itu saya harus melanjutkan penerbangan domestik menuju Canberra. Seperti sebelumnya, perasaan sama saya rasakan ketika roda kapal boeing 737 ini mendarat di landasan Canberra Airport.

Image

Setelah mengambil bagasi, di meeting point saya dijemput Bramantya Widodo. "Welcome to Canberra", sahut pemuda yang sedang menjalankan studi masternya di ANU ini. Di perjalanan menuju penginapan Mas Bram banyak bercerita tentang Canberra. Modern, bersih, rapi, dan sepi, mungkin itu yang bisa saya simpulkan jika memandang sekeliling. Kota dengan luas mendekati Jakarta ini hanya dihuni sekitar 300.000 penduduk. Pemisahan ibukota pemerintahan dan pusat ekonomi membuat kota ini sepi. “Paling pas ada rapat parlemen aja di sini ramai.” sahut Mas Bram. Jauh sebelum itu, setelah perdebatan di parlemen mengenai letak ibukota, Canberra akhirnya terpilih dan men-sayembarakan pembangunan penataan kota. Pasangan suami-istri dari Chicago berhasil menyulap ibukota Australia dengan unik dan cantik.

Sesampai di penginapan ternyata baru bisa check in pukul satu siang. Masih ada tiga jam lagi. Akhrinya kami memutuskan untuk berkeliling ke ANU. Mas bram menraktir saya pagi itu di sebuah café dekat student organization center. Ada banyak stand-stand bertenda di halaman. Setelah saya amati, sepertinya memang sedang musim open recruitment untuk berbagai klub dan organisasi.

Di perjalanan pulang Mas Bram menunjukkan vanue tempat berlangsungnya KIPI. Ada beberapa fakultas yang kami lewati. Secara keseluruhan saya cukup nyaman mengunjungi kampus yang masuk jajaran top world class university ini. Lingkungannya bersih rapi dan rindang. Beberapa gedung dibangun dengan gaya modern, tapi masih banyak yang dipertahankan dengan sentuhan klasik.

Image

Image

Image

Sesampai di pengianapan saya berpamitan dengan Mas Bram dan langsung check in. Delegasi yang sekamar dengan saya masih belum datang. Setelah menata barang-barang saya pergi keluar. Dari brosur yang saya minta di resepsionis ada beberapa tempat yang bisa saya datangi dengan berjalan kaki. Saya mengunjungi Canberra center, salah satu mall yang terkenal di Canberra. Saya juga sempatkan mengunjungi museum dan perpustakaan yang letaknya tak jauh dari situ. Mungkin agak canggung sendirian berkeliling, tapi kesempatan berpetualang di seberang benua sayang bila disia-siakan.

Image

 

Image

Sorenya saya telah kembali ke penginapan. Beberapa saat setelah saya latihan presentasi untuk esok hari, teman sekamar saya datang. Adalah Pak Daud, seorang kandidat PhD dari University of South Australia di Adelaide. Walaupun asli Pontianak, saya cukup kaget ia bisa berbahasa jawa, rupanya ia cukup lama di Surabaya, lagi pula istrinya orang Jogja. “It’s nice to meet you, sir.” Sahut saya setelah berkenalan.

Malam harinya, saya, Pak Daud, dan rombongan delegasi dari UNAIR keluar untuk makan malam. Cukup sulit untuk menemukan tempat makan yang masih buka. Rata-rata aktivitas sehari-hari berakhir pukul lima sore. Sementara maghrib tiba pukul setengah delapan. Walaupun kami baru keluar setelah shalat isya, jalanan sangat lengang seperti tengah malam di Indoensia. Beruntung masih ada restoran Malaysia yang masih buka beberapa blok dari penginapan.

1622228_10202059824677351_2054626984_n

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu