Bunga Pukul Empat Sore

Image

Kau tau bunga pukul empat sore, kawan? Mirabilis Jalapa, begitulah para ilmuwan menamainya. Aku tak pernah menyangka bunga ini datang dari seberang samudra. Yang jelas kita biasa menemukannya di halaman rumah, menghiasi sudut sudut taman dengan indahnya.

Kau tahu siapa siapa yang lewat barusan itu, kawan? Bunga pukul empat sore, begitulah aku menyebutnya. Aku tak pernah tau ia datang dari mana. Tapi yang jelas aku menemukannya telah berlabuh di hatiku, menyejukkan relung yang telah lama kering menanti.

Dialah bunga pukul empat sore, seorang gadis yang lewat dengan keanggunannya, menyapa sinar teduh matahari yang hendak berpamitan di ufuk. Aku menatapnya dengan terbata, kapankah salam-sapa bisuku sampai padanya?

Dialah bunga pukul empat sore, mekar dengan semerbak benih cinta yang siap tertanam. Angin membawanya terbang mengikuti arus ketulusan. Tak bosan-bosannya aku melapangkan hati – berharap ada persaan yang jatuh perlahan.

Dialah bunga pukul empat sore, hanya sekejap ia muncul tampakkan pesona. Tapi ialah penampilan yang paling kutunggu di panggung utama. Selalu kusempatkan diri duduk di bangku terdekat menanti ujung hari.

Namun dayaku hanya sebatas menatap dari sini. Kagumku terhenti sampai bingkai jendela kaca di lantai dua. Nyali yang terkumpul sedari kemarin hanya mendebarkan degup jantung. Sementara suara yang kuteriakkan begitu saja tertelan angin. Kubiarkan ia lewat seperti sore-sore sebelumnya. Aku hanya bisa lambaikan tangan saat dia menghilang di tikungan.

Kau tahu kawan, pagi ini aku terbangun dalam gundah. Kulihat jendela kamar sedikit membukakan celah. Mungkin rindu kemarin sore yang mengetuknya resah. Seketika perasaanku menerobos dengan leluasa, mencari dambaan tuannya yang tak kunjung tiba. Aku terjebak dalam penantian yang nyaris fana.

Setiap sore terlewat, aku berharap bumi berputar lebih cepat. Memang tak banyak yang bisa kuperbuat. Biarkan saja aku menjadi pengagum rahasia. Eloknya tak akan berkurang walau seujung kuku. Ia tetaplah bunga yang sama. Biarkan aku menunggunya di pukul empat sore.

 

depok, 3-28-2014

 

gambar dari sini

Comments

  1. Meski mulut tak berkata, mata dapat berbicara. Biarkan matamu yang mewakilkan rasa yang ada di hati. Jangan terlalu lama juga menatapnya kawan, nanti mukanya memerah tersipu.
    Biarkan lambaian tanganmu menjadi bagian yang ia paling nantikan di tikungan itu. Biarkan sedikit intip darimu yang menjadi pengembang senyumnya hingga sore keesokkan hari.
    Karena ku yakin, ia pun juga menunggu hadirnya sapamu di tiap pukul empat sore.

    *Ini apapula Gissss, maaf lagi mabok mene emet wkwkwk
    Sebenernya yang tadi sebelumnya lebih bagus tapi lupaa wkwkwk

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu