Posts

Showing posts from March, 2014

Bunga Pukul Empat Sore

Image
Kau tau bunga pukul empat sore, kawan? Mirabilis Jalapa, begitulah para ilmuwan menamainya. Aku tak pernah menyangka bunga ini datang dari seberang samudra. Yang jelas kita biasa menemukannya di halaman rumah, menghiasi sudut sudut taman dengan indahnya.

Kau tahu siapa siapa yang lewat barusan itu, kawan? Bunga pukul empat sore, begitulah aku menyebutnya. Aku tak pernah tau ia datang dari mana. Tapi yang jelas aku menemukannya telah berlabuh di hatiku, menyejukkan relung yang telah lama kering menanti.

Dialah bunga pukul empat sore, seorang gadis yang lewat dengan keanggunannya, menyapa sinar teduh matahari yang hendak berpamitan di ufuk. Aku menatapnya dengan terbata, kapankah salam-sapa bisuku sampai padanya?

Dialah bunga pukul empat sore, mekar dengan semerbak benih cinta yang siap tertanam. Angin membawanya terbang mengikuti arus ketulusan. Tak bosan-bosannya aku melapangkan hati – berharap ada persaan yang jatuh perlahan.

Dialah bunga pukul empat sore, hanya sekejap ia muncul tampakk…

KIPI 2014 #3: Research

Image
Hari 3 (8 mar 2014)



Seperti biasa kami dijemput oleh panitia. Kali ini kami berangkat lebih pagi karena tempat penyelenggaran berada lebih jauh dari sebelumnya. Acara memang masih di selenggarakan ANU, tapi kini di Crawford School of Public Policy.

Agenda pagi itu adalah research workshop dengan tema Research: Finding and to be Found. Terdapat tiga pembicara yang sudah melalang buana di dunia penelittian. Ada Dr. Kiki Verico (staf ANU Indonesia Project), Dr. Ariene Utomo (research fellow, the ANU Crawford School of Public Policy), Fitrian Adriansyah (PhD Candidate, the ANU Crawford School of Public Policy). Mereka secara berurutan membahas seluk beluk penelitian mulai dari pembentukan kultur ide penelitian dalam tinjauan akademisi hingga tataran penerapan rekomendasi kebijakan atas hasil penelitian.



Dari 100 Asia top universities tidak ada sama sekali muncul perguruan tinggi dari Indonesia. Cukup miris bila kita terlalu membanggakan almamater dalam negeri. Padahal ini baru perhitungan as…

KIPI 2014 #2: Presentation

Image
Hari 2 (7 mar 2014)

Setelah bangun dan shalat subuh,  saya membaca lagi paper saya.  Sembari menunggu antrian kamar mandi saya berlatih presentasi. Segelanya harus dipersiapkan agar berjalan lancar. Practice makes perfect!

Pukul  delapan kami dijemput salah seorang panitia. Ia adalah Khairun, mahasiswi jurusan Sustainability Science. Dari penginapan ke ANU (Australia National University) kami berjalan kaki. Bagi warga di sana, berjalan kaki adalah hal yang biasa. Bahkan untuk jarak satu sampai dua kilometer sekalipun. JIka tidak, biasanya mereka menggunakan sepeda. Hal ini didukung dengan kondisi udara yang tidak lembab, sehingga orang tidak mudah berkeringat.

Para peserta mungkin masih belum bisa menyesuaikan diri. Sesekali Khairun harus berhenti untuk menunggu peserta yang jalannya tertinggal, entah memang jalannya lamban atau menikmati pemandangan kota sekeliling.

Sekitar dua puluh menit kami akhirnya sampa di venue acara. Saya lupa nama persis gedungnya, tapi yang jelas acara diseleng…

KIPI 2014 #1: Welcome to Canberra

Image
Hari 1 (6-mar-2014)

Pagi itu saya membuka mata dengan keadaan yang tidak seperti biasanya. Terbangun dalam duduk di atas ketinggian 3000 meter mempercepat pemulihan kesadaran saya. Walaupun langit yang saya tatap dibalik jendela tak jauh berbeda, bumi yang akan segera saya injak terletak di seberang benua. Kurang lebih 30 menit setelah itu saya turun dan menghirup udara negeri kanguru. Tidak terbayangkan sebelumnya saya akan berada di Sydney, Australia. Dan Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2014 menjadi alasan kedatangan saya ke sana.

Sayangnya saya tak bisa berlama-lama di kota tempat opera house ini berada. Saya sempatkan membalas chat beberapa teman yang mendoakan keberangkatan saya. Sejam setelah  itu saya harus melanjutkan penerbangan domestik menuju Canberra. Seperti sebelumnya, perasaan sama saya rasakan ketika roda kapal boeing 737 ini mendarat di landasan Canberra Airport.



Setelah mengambil bagasi, di meeting point saya dijemput Bramantya Widodo. "Welcome to…

Di Persimpangan Jalan

Image
Aku dan kau,

Langkah kita terhenti pada jeda. Biarlah sejenak kuhela nafas panjang, mengatur ritme pompa darah dalam tubuh.  Kita basah dalam peluh. Kulihat satu butir keringat mengalir di pipimu, merosot turun sampai di ujung kesadaran bahwa kini kita berada di persimpangan jalan. Air pasrah mengikuti kehendak bumi untuk jatuh, tapi kita punya pilihan yang dapat diambil.

Kita telah lalui perjalanan panjang. Jika boleh kuputar lagi memori ini, banyak hal telah terjadi. Masihkah kau ingat tentang lubang jempol kaos kaki, stempel palsu jurnal ilmiah, atau bumbu ketoprak tanpa kacang? Aneh tapi seru. Sendu tapi kukuh. Tak ada gandeng tangan, tapi canda tawa sudah terlalu menyenangkan.

Aku menoleh persis setelah kau melepaskan pandangan dariku. Sepertinya senyummu tak mampu menyembunyikan cemas. Pikirku kita sama-sama punya tanya. Ke arah mana kita akan berjalan?

Aku dan kau,

Lurus atau berbelok tak menjadi masalah. Kita bukan sepasang baja rel yang harus terus bersama. Kita adalah air yang me…