Jika Suamimu Seorang Pengangguran

1024px-Jacket_hanging_from_window_latch


Setiap orang menantikan pasangan yang ideal – memiliki pekerjaan yang layak untuk menghidupi keluarga. Tapi bagaimana jika nyatanya suamimu ini seorang pengangguran? Wahai istriku, tak pernah kubayangkan dalam rumah tangga aku harus melewati fase seperti ini. Maaf bila status pengangguranku saat ini membuatmu malu. Jelas ini bukan inginku, tapi biarlah ini menjadi ibrah untuk perbaikan dan pendewasaan diri.


Ketahuilah, jika aku seorang pengangguran, itu bukan berarti aku tak punya keahlian yang cukup. Sarjana ekonomi memang menjadi penyumbang pengangguran yang cukup besar di Indonesia. Tapi aku lulusan universitas ternama yang mendidik mahasiswanya dengan atmosfir kompetisi yang kuat. Bersaing dengan para pemburu kerja lainnya semestinya bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Bersabarlah, mungkin ini cara Allah menguji kita. Bukankah ujian adalah tanda sayang-Nya?

Aku memutuskan untuk melepas pekerjaanku yang sebelumnya. Keputusan ini bukan soal uang. Di sana aku mendapatkan gaji yang cukup, bahkan tergolong banyak untuk ukuran fresh graduate. Setelah tiga bulan bekerja aku baru menyadari bahwa apa yang kutangani adalah hal-hal  syubhat. Tiga bulan pula aku tertekan dengan perdebatan halal-haram dalam pikiranku. Istikharahku dalam beberapa malam mengarahkanku untuk segera mencari ranah lain. Walaupun itu berarti aku harus menganggur.

Terkadang pengangguran adalah soal pilihan. Dalam dunia profesi, idealisme sering kali bersinggungan dengan realitas. Apa yang kita yakini sebagai kebenaran belum tentu sesuai dengan jalannya arus dunia. Tapi kita punya kehendak untuk memilih antara mengambang hanyut  atau berjuang melawan arus. Jujur memang tidak dapat menjanjikan keuntungan dan kemenangan. Terlalu sepele bila hanya itu balasannya. Biarlah nanti Yang Maha Tahu memberikan kemuliaan yang tak terukur secara duniawi.

Maaf bila aku belum bisa mengemban tanggung jawabku sebagai tulang punggung keluarga dengan baik. Tidak punya pekerjaan berarti tidak ada pemasukan. Seret pemasukan berarti belanja harus ditekan. Kita harus bertahan hidup dengan segala keterbatasan sandang pangan papan. Tapi seberapapun parahnya, lantas tidak sepatutnya kita menjadi kufur. Kita tak boleh berhenti bersyukur. Setidaknya tabungan kita cukup untuk mengepulkan uap di dapur.

Menghadapi aku yang seorang pengangguran ini, kuharap kau tak malah menyudutkanku. Aku butuh dukunganmu. Kau tahu benar aku begitu rentan tanpamu. Bagaimana aku bisa berdiri tegak jika tulang rusukku melunak.  Kita telah mengikat janji suci untuk terus bersama saling bahu membahu. Ikrar yang terucap di momen sakral itu tidak hanya berlaku untuk saat-saat manis saja. Adakalanya jalan terjal yang harus kita lewati untuk mendapat ridlo-Nya.

Bagaimanapun kondisinya, tak perlu melarutkan air mata dalam haru biru. Yang kita butuhkan adalah ketegaran tanpa ragu. Duhai istriku, bangunkan aku untuk jadi imammu di sepertiga malam yang syahdu. Kita sisipkan doa  kemudahan dalam sujud sebelum fajar menyapa. Lalu biarkan pagiku menantang sang surya. Akan kuketuk setiap pintu sebagai bentuk ikhtiar seorang hamba. Dan semoga kita disambut hangat di pintu rizki yang telah disiapkan-Nya di ujung senja.

.

gambar dari sini

Tulisan ini dibuat untuk proyek #CeritaJika yang sedang berjalan di www.kurniawangunadi.tumblr.com

dimuat Cerita Jika #35

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu