Wacana Pendidikan Bencana

Awal tahun 2014 Indonesia diselimuti kabut hitam bencana yang melanda negeri. Masyarakat dihantui berita  buruk banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung merapi. Sudah terlalu sering Indonesia mengalami hal seperti ini. Namun mental masyarakat Indonesia masih tidak siap menghadapi cobaan bencana. Sementara upaya pendidikan pencegahan dan penanganan bencana bagi masyarakat hanya menjadi wacana.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Letak Indonesia yang dilewati ‘cincin api pasifik’ membuat Indonesa sering terganggu aktivitas gunung merapi. Pertemuan lempeng tektonik juga membuat Indonesia rawan gempa. Selain itu, sebagai negara tropis Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi yang dapat menyebabkan banjir. Tunduk pasrah atau siap siaga menjadi pilihan bagi bangsa Indonesia dalam mengahadapi hal ini.

Telah banyak korban yang jatuh karena bencana alam. Kerugian harta-benda juga sudah tidak terhitung jumlahnya. Bencana yang sudah menjadi agenda tahunan semestinya harus disikapi dengan lebih serius. Masyarakat harus dibekali pendidikan bencana agar mereka siap menghadapinya. Pendidikan ini bukan berarti hanya sekedar transfer informasi mengenai bencana, tapi juga secara praktik langsung agar benar-benar memahami kondisi sesungguhnya.

Dalam pendidikan bencana, Indonesia bisa belajar dari Jepang. Negeri yang juga rawan  bencana alam ini memilki sistem disaster management dan disaster education yang baik. Sejak kecil warga Jepang telah dididik dan dilatih di sekolah untuk siap dalam mengantisipasi bencana alam. Di instansi kerja, baik pemerintah maupun swasta juga mengadakan penyuluhan dan simulasi bencana. Bahkan ada disaster drill yang diselenggarakan secara nasional setiap tanggal 1 September sebagai peringatan hari pencegahan bencana nasional. Tidak heran bila Jepang  mampu meminimalisir jumlah korban dan kerugian walaupun menjadi negara yang paling sering terkena gempa.

Sebenarnya Jepang juga mengalami pasang surut dalam upaya penanganan bencana. Pendidikan bencana yang mulai digalakan pada 1960 sempat padam dan baru muncul kembali setelah gempa Kobe pada 1995. Bencana tersebut menjadi turning point bagi Jepang untuk memperbaiki disaster management-nya dan bangkit dari keterpurukan bencana. Indonesia cukup belajar dari pengalaman Jepang saja, tidak perlu harus terkena bencana terlebih dahulu baru mau berbenah diri.

Selain membentuk segi kesiapan diri sebagai upaya pencegahan bencana, pendidikan yang diberikan harus membentuk mental masyarakat untuk bisa bangkit dari bencana. Para korban harus berfikir positif dan berupaya mandiri dalam pemulihan pascabencana. Pembentukan mental ini juga meliputi penyadaran akan bahaya kerusakan lingkungan yang dapat menyebabkan bencana. Sebab banyak bencana alam yang terjadi karena ulah manusia.

Manusia memang tidak bisa menolak bala. Tapi bukan berarti kita berpasrah tanpa upaya. Pendidikan bencana yang setidaknya dapat meminimalisir kerugian semestinya mendapat perhatian lebih. Dengan kesiapan masyarakat, Indonesia harus bangkit dari keterpurukan bencana.

.

.

.

Tulisan ini dimuat dalam rubrik poros mahasiswa Koran SINDO edisi 27 Januari 2014

Comments

Popular posts from this blog

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu

Laksana Hujan