Sedang Merindu


jalan_setapak



Ada yang merekah hangat di awal hari: itu mentari. Kedipnya  mengintip di balik dedaunan yang menari. Lewat embun ia sampaikan sapa berseri,  “selamat pagi”

Ada yang merekah manis di ujung kalbu: itu senyummu. Tatapku mengintip di balik perasaan yang menggebu. Lewat angin kutitipkan bisik gagu, “aku sedang merindu”

Aku berjalan menelusuri jalan setapak. Bukan mencari ujung firasat tempatmu berada, tapi menyisir jejak yang pernah kita pijak. Bersama waktu yang bergerak mundur, aku mencari dirimu yang menjelma dalam labirin memori. Biarkan akalku tunduk pada waktu. Namun benakku mendamba sosokmu.

Kusibak kabut tipis yang menghalangi mata. Samar-samar dirimu hadir tanpa sapa. Akulah penikmat ilusi semu. Aku sadar benar bahwa aku terjebak di ranah rindu, yang kata orang seperti candu. Aku telah lama sakit  dalam menanti.  Namun, hadirmu tidak berarti sembuh, boleh jadi aku semakin terjebak menagih.

Aku pemuja tanpa pinta. Tak perlu risaukan apa yang kurasa. Jalankan saja harimu seperti biasa. Biarkan rinduku tumbuh tanpa sungkan. Sebab ia tidak menuntut datangnya pertemuan. Cukup senyummu yang menjadi angan.

Kau dekat  tapi tak terikat. Kau ada tapi sulit kujumpa. Aku butuh tapi kau tak tersentuh. Biarkan saja aku dikasihani oleh syair harapan akan dirimu.

Aku denyut yang tak minta disambut, namun getar yang ingin didengar. Sampai degup ini, aku yang merindukanmu, tak mampu sampaikan rasa yang mengaliri nadi. Wahai angin, maukah kau membantu? Di sini ada jantung yang ditabuh dalam bahasa bisu, tolong sampaikan padanya bahwa aku sedang merindu.

.

.

Batu, 13-01-14

gambar dari sini

Comments

Post a comment

Popular posts from this blog

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu

Laksana Hujan