Jika Aku Lahir Kembali

kepompong_kupu2_______by_hendradarma28


Sejak manusia mengamati perputaran bumi, tahun telah berganti ribuan kali. Sejak itu pula banyak kisah yang disesali. Ada yang terlampau kecewa hingga larut, mengutuk nasib yang tak mau menurut. Ada yang abai menganggapnya angin lewat, melupakan begitu saja apa yang telah diperbuat. Ada yang berusaha mencoba memperbaiki, membuka lembaran baru dengan penuh strategi. Ada pula yang berharap bisa kembali mengulang waktu, walaupun ia tahu itu harapan palsu.

Tapi bagaimanakah bila itu sebuah keniscayaan? Bagaimana pula jika kita diberi kesempatan untuk membuat kisah hidup yang benar-benar baru? Jika ingin dilahirkan lagi, ingin jadi apakah engkau?

Jika aku lahir kembali, aku ingin menjadi permata. Aku kuat tanpa cela gerogot karat. Aku indah dengan penuh aura mewah. Aku adalah pelengkap kebahagiaan – menjadi hadiah di hari spesial sepasang insan. Tapi, aku menjadi sebab tumpahnya darah. Kilauku membutakan mata hati sehingga  orang-orang memperebutkanku.

Atau...

Jika aku lahir kembali, aku ingin menjadi awan. Aku pelindung dari sinar matahari yang menyengat, memberi keteduhan bagi mereka yang sedang berjalan lewat. Aku menjadi atap, memenuhi kekosongan langit yang hampa ditatap. Aku yang menurunkan hujan, memberi kabar gembira bagi setiap makhluk akan janji kehidupan. Tapi, aku tak mau menjadi badai yang menyengsarakan. Aku tak ingin menjadi pilu kesedihan.

Atau...

Jika aku lahir kembali, aku ingin menjadi pohon kelapa. Dari akar yang menembus tanah, hingga daun yang berbilah-bilah, semua penuh manfaat tanpa sepah. Buahku melepas dahaga. Kayuku kokoh menopang bangunan. Daunku menjadi penanda janji suci pernikahan. Tapi aku mudah layu, tunduk  tanpa daya pada waktu. Aku juga rapuh, tubuhku mudah digerogoti rayap.

Atau...

Jika aku lahir kembali, aku ingin menjadi kupu-kupu. Aku cantik menawan – memukau pasang mata melihat keindahan corak warnaku. Sayapku terkepak begitu anggun. Aku terbang menebar kebermanfaatan bagi bunga-bunga yang mekar. Aku selalu memikat perhatian. Tapi kesempurnaan itu berawal dari seonggok ulat yang menggelikan. Aku tak mau orang memandangku jijik. Aku tak mau menjadi parasit bagi pohon yang baru menghijau.

Atau...

Aduhai, mungkin itu semua tidak benar-benar kuinginkan. Aku tak ingin kembali dilahirkan. Sudah cukup banyak kisah penyesalan. Rumput tetangga kadang tampak lebih memikat hati. Tapi aku tak mau tertipu Ilusi. Aku harus sadar bahwa segala sesuatu memiliki berbagai sisi. Satu dipungut, yang lain turut ikut. Nikmat dipilih, harus siap rasakan perih.

Ya. Aku ingin terus hidup. Aku ingin hidup, sebagai orang yang pandai bersyukur. Syukur mengambil kebijaksanaan dalam cela. Ia mengubah kesempitan menjadi peluang.  Tak akan ada sesal yang menanti di ujung keputusan. Syukur akan menambah nikmat yang telah diberikan; sekaligus menghindarkan kita dari adzab yang pedih.

Syukur datang bersama kesabaran hidup. Ia tak muluk menuntut apa yang telah cukup. Bukannya pasrah pada kondisi papa, tapi syukur mengoptimalkan apa yang sudah ada. Orang yang pandai bersyukur bukan sekedar menghargai karunia Tuhannya, tapi juga menjunjung fitrahnya sendiri sebagai manusia.

Sejak manusia amengamati perputaran bumi, tahun telah berganti ribuan kali. Sejak itu pula mereka diberi pilihan untuk melukis kisah yang penuh sesal kufur, atau mewarnai kanvas dengan senyum syukur.

.

.

Bacaan lanjutan:

Q.S. Al-Ibrahim: 7

Q.S. Luqman: 12-15

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu

Laksana Hujan