Bolehkah Aku Tahu?

 treasure-chest-with-key-17623-1920x1200


Aku mendapatimu duduk di bangku taman – menggenggam erat sebuah peti kecil. Jemari lentikmu memainkan kuncinya. Sementara kakimu tertekuk anggun menyentuh tanah. Dari jauh kuperhatikan sesekali kau tersenyum sendiri. Tak henti-hentinya matamu menyapu setiap detail sisinya. Seakan sedang berimajinasi dengan apa yang ada di dalam peti. Itulah peti penentu yang memberikan penjelasan arti diriku, bagimu

Akhirnya kuberanikan diri untuk mendekat. Kubuang semua gengsi dan arogansi yang menjerat. Aku sudah terlampau jatuh tanpa daya. Dari serakan berjuta aksara, kususun bait-bait tanda tanya. Bolehkah aku tahu?

Apakah kau menyembunyikan sesuatu di peti itu?

Kau mengangguk pelan. Baiklah, kata orang rahasia membuat wanita menjadi wanita. Sementara pria akan selalu berusaha menguaknya. Belum ada tangan yang kau pasrahkan kunci untuk membuka. Sementara tak sepasang mata pun kau biarkan mengintipnya.

Apa yang kau simpan itu?

Kau angkat pundakmu. Kau dulu memang pernah menjelaskan hal ini. Bahwa, ada banyak hal  di dunia ini yang lebih baik tidak diungkapkan. Atau setidaknya belum saatnya terungkap. Boleh jadi aku belum siap menerima itu. Boleh jadi aku menanti harapan yang tak bisa kutanggung. Tapi tidakkah kau berpikir bahwa ini sudah saatnya.

Mengapa kau menyimpannya begitu rapat?

Kini alismu yang kau angkat, seakan ingin balik bertanya. Aduhai, semestinya aku tak perlu bertanya. Tentu saja karena itu begitu berharga. Kau jaga itu kuat-kuat, sampai nanti ada yang pantas mendapatkannya.

Apakah itu perasaanmu?

Kau hanya menunduk  ke bawah– berusaha menyembunyikan pipimu yang memerah. Aku dapat mendengar ada degup yang membuncah. Aku tahu itu rasa yang utuh tak berbelah. Namun rasa itu seperti berlayar tanpa arah. Berlabuhlah, setiap dermaga akan menyambutmu ramah .

Untuk siapa itu dituju?

Kau hanya diam tanpa kata.  Namun pikirku tak sibuk menerka. Siappun itu, pastilah dia orang yang bahagia. Kau mungkin tidak sempurna. Tapi sudah lebih dari cukup untuk melengkapi hati yang dirundung gulana.

Apakah itu aku?

Akhirnya kau bersuara..............

Terima kasih, satu kata itu sudah cukup untukku.

.

Depok, 31 Januari 2014

.

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu

Laksana Hujan