Posts

Showing posts from January, 2014

Bolehkah Aku Tahu?

Image
Aku mendapatimu duduk di bangku taman – menggenggam erat sebuah peti kecil. Jemari lentikmu memainkan kuncinya. Sementara kakimu tertekuk anggun menyentuh tanah. Dari jauh kuperhatikan sesekali kau tersenyum sendiri. Tak henti-hentinya matamu menyapu setiap detail sisinya. Seakan sedang berimajinasi dengan apa yang ada di dalam peti. Itulah peti penentu yang memberikan penjelasan arti diriku, bagimu

Akhirnya kuberanikan diri untuk mendekat. Kubuang semua gengsi dan arogansi yang menjerat. Aku sudah terlampau jatuh tanpa daya. Dari serakan berjuta aksara, kususun bait-bait tanda tanya. Bolehkah aku tahu?

Apakah kau menyembunyikan sesuatu di peti itu?

Kau mengangguk pelan. Baiklah, kata orang rahasia membuat wanita menjadi wanita. Sementara pria akan selalu berusaha menguaknya. Belum ada tangan yang kau pasrahkan kunci untuk membuka. Sementara tak sepasang mata pun kau biarkan mengintipnya.

Apa yang kau simpan itu?

Kau angkat pundakmu. Kau dulu memang pernah menjelaskan hal ini. Bahwa, ada b…

Wacana Pendidikan Bencana

Awal tahun 2014 Indonesia diselimuti kabut hitam bencana yang melanda negeri. Masyarakat dihantui berita  buruk banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung merapi. Sudah terlalu sering Indonesia mengalami hal seperti ini. Namun mental masyarakat Indonesia masih tidak siap menghadapi cobaan bencana. Sementara upaya pendidikan pencegahan dan penanganan bencana bagi masyarakat hanya menjadi wacana.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Letak Indonesia yang dilewati ‘cincin api pasifik’ membuat Indonesa sering terganggu aktivitas gunung merapi. Pertemuan lempeng tektonik juga membuat Indonesia rawan gempa. Selain itu, sebagai negara tropis Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi yang dapat menyebabkan banjir. Tunduk pasrah atau siap siaga menjadi pilihan bagi bangsa Indonesia dalam mengahadapi hal ini.

Telah banyak korban yang jatuh karena bencana alam. Kerugian harta-benda juga sudah tidak terhitung jumlahnya. Bencana yang sudah menjadi agenda tahuna…

PO's Note: Selamat Bertanding!

Image
Belum puas beristirahat setelah perjalanan panjang 23 jam, saya harus lanjut beraktivitas pagi itu. Pegal-pegal karena duduk terlalu lama di kereta SBY-JKT masih terasa. Musibah banjir awal tahun ini membuat armada transportasi darat lumpuh merayap. Beruntung untuk jalur kereta api hanya terganggu di daerah Semarang dan sekitarnya. Musibah dapat dimaknai sebagai alat muhasabah – mengevaluasi diri lalu bangkit dari keterpurukan. Termasuk bagi saya yang harus segera bangkit dari kasur tidur.
Butuh sekitar 30 menit (tidak termasuk berhenti cek GPS) untuk tiba Gelanggang Remaja Bulungan dari kosan saya. Saya penuhi janji untuk mengantar anak-anak Master mengikuti tryout yang diselenggarakan BEM FEUI (TROFI). Sampai di sana, saya bertemu Nita (Wakoor Kurikulum), Abidah (Sekretaris), beserta enam anak yang siap bertanding: Adnan, Herry, Hadi, Osep, Umi, dan Haya. Sepertinya tampang mereka cukup siap untuk meng-ganyang soal-soal nanti.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih untuk panit…

PO's Note: Evaluasi Pertama

Sepertinya sudah cukup lama saya tidak menulis di kolom Master. Walaupun memang ada beberapa kesibukan lain, terlebih menyiapkan UAS, semestinya tidak boleh dijadikan alasan. Saya tidak boleh berhenti menulis. Karena inilah cara saya untuk berbagi. Mumpung menulis masih gratis.

Di bulan Desember lalu panitia Master FEUI bersama dengan pengurus YABIM melakukan rapat evaluasi paruh pertama program. Rapat ini membahas kegiatan belajar-mengajar Master FEUI yang sudahmelewati semester pertama. Di rapat itu juga dihadirkan perwakilan dari pihak siswa, baik yang regular maupun intensif. Mereka stakeholder utama program ini.

Kami mencoba mengulik berbagai permasalahan yang terjadi selama satu bulan periode.  Para siswa reguler menyayangkan waktu pembelajaran yang terlalu sebentar (17.00-18.10). Itupun terkadang terpotong apabila pengajar mengalami hambatan saat menuju terminal depok seperti hujan atau ada kuis/kuliah tambahan di kampus. Menanggapi hal ini kami para panitia bersedia untuk member…

Sedang Merindu

Image
Ada yang merekah hangat di awal hari: itu mentari. Kedipnya  mengintip di balik dedaunan yang menari. Lewat embun ia sampaikan sapa berseri,  “selamat pagi”

Ada yang merekah manis di ujung kalbu: itu senyummu. Tatapku mengintip di balik perasaan yang menggebu. Lewat angin kutitipkan bisik gagu, “aku sedang merindu”

Aku berjalan menelusuri jalan setapak. Bukan mencari ujung firasat tempatmu berada, tapi menyisir jejak yang pernah kita pijak. Bersama waktu yang bergerak mundur, aku mencari dirimu yang menjelma dalam labirin memori. Biarkan akalku tunduk pada waktu. Namun benakku mendamba sosokmu.

Kusibak kabut tipis yang menghalangi mata. Samar-samar dirimu hadir tanpa sapa. Akulah penikmat ilusi semu. Aku sadar benar bahwa aku terjebak di ranah rindu, yang kata orang seperti candu. Aku telah lama sakit  dalam menanti.  Namun, hadirmu tidak berarti sembuh, boleh jadi aku semakin terjebak menagih.

Aku pemuja tanpa pinta. Tak perlu risaukan apa yang kurasa. Jalankan saja harimu seperti biasa.…

Jika Aku Lahir Kembali

Image
Sejak manusia mengamati perputaran bumi, tahun telah berganti ribuan kali. Sejak itu pula banyak kisah yang disesali. Ada yang terlampau kecewa hingga larut, mengutuk nasib yang tak mau menurut. Ada yang abai menganggapnya angin lewat, melupakan begitu saja apa yang telah diperbuat. Ada yang berusaha mencoba memperbaiki, membuka lembaran baru dengan penuh strategi. Ada pula yang berharap bisa kembali mengulang waktu, walaupun ia tahu itu harapan palsu.

Tapi bagaimanakah bila itu sebuah keniscayaan? Bagaimana pula jika kita diberi kesempatan untuk membuat kisah hidup yang benar-benar baru? Jika ingin dilahirkan lagi, ingin jadi apakah engkau?

Jika aku lahir kembali, aku ingin menjadi permata. Aku kuat tanpa cela gerogot karat. Aku indah dengan penuh aura mewah. Aku adalah pelengkap kebahagiaan – menjadi hadiah di hari spesial sepasang insan. Tapi, aku menjadi sebab tumpahnya darah. Kilauku membutakan mata hati sehingga  orang-orang memperebutkanku.

Atau...

Jika aku lahir kembali, aku ingin…