Posts

Showing posts from 2014

Tata Kelola Energi Indonesia dan Resourse Curse

Memiliki keberlimpahan sumberdaya alam adalah anugrah bagi sebuah negara untuk mendorong perekonomiannya. Namun, bila dikelola dengan buruk, kekayaan tersebut bisa menjadi kutukan (resource curse) yang dapat menyerang balik empunya. Indonesia dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah, termasuk kekayaan energi yang sempat menjadikan Indonesia berjaya saat oil boom tahun 1970an. Di tengah-tengah isu gejolak energi yang hangat dibicarakan dewasa ini, Indonesia harus mampu keluar dari kutukan yang menghantui pengelolaan energi. Krisis Energi Indonesia Pemanfaatan energi di Indonesia hingga tahun 2012, sebagian besar masih bersumber dari bahan bakar fosil berupa gas dan minyak bumi (70,68 %), sementara Energi Baru Terbarukan (EBT) hanya mendapat porsi 5%. Masalahnya, migas merupakan kekayaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Indonesia sudah berada di ambang krisis minyak. Dalam 30 tahun terakhir cadangan minyak Indonesia merosot 68 %, penurunan tercepat dan tertajam di As…

Hitam dan Putih

Image
Aku sedikit merasa aneh dengan lengkung senyum yang dibarengi lekuk-kernyit dahimu itu. Entah dari mana datangnya, kau malah menanyakan apa warna kesukaanku. Untuk sekadar bas-basi kah? Ah, biarkan kujawab saja. Toh, aku juga ingin menghilangkan gugup, sebelum kau menanyakan hal yang membuatku tercekat.
Aku suka hitam. Sebuah warna yang mewakilkan keanggunan. Mengekspos gemerlap bintang dengan elegan. Hitam adalah ketegasan yang memberikan perlindungan untuk jiwa yang dihantui kelamnya rasa takut. Kudapati hitam saat menatap langit, sebelum aku merebah lelah.
Aku suka putih. Sebuah warna yang pancarkan ketulusan. Mencerahkan hati yang dirundung kelu. Putih adalah permohonan maaf yang bersandar pada kepasrahan namun tetap mengokohkan kesucian spiritual. Kudapati putih saat menatap langit, di mana awan menggelayut malas diterpa angin.
Aku suka hitam dan putih. Keduanya bisa menyatu menjadi perpaduan yang pas. Bukan meniadakan, namun saling memberi kesempatan untuk muncul. Tak perlu mendong…

Q.E.D.

Image
Aku masih terjaga, saat separuh bongkah bulan memantulkan titipan cahaya dari matahari. Sementara bintang-bintang menarik selimut awan untuk beristirahat. Beberapa dari mereka masih berkedip, mengusir remang melalui jendela kaca yang sedari tadi kutatap hampa. Sepertinya mereka bosan melihatku diam – duduk  di depan meja belajar bersama tumpukan buku dan lembaran kertas.
Aku benar-benar terjaga, saat secangkir kopi hitam memantulkan wajahku yang gusar, menunggu balasan sebuah pesan yang tak kunjung tiba. Sesekali kulirik handphone untuk memastikan notifikasi yang muncul. Entah angin apa yang berhembus tadi hingga aku berani menyapanya dengan 24 karakter, “hai ndre, masih belajar?” Setengah jam berlalu begitu saja.
Tiingg. Nah, itu dia.
“Iya, masih ko. Kenapa, rin? kamu pasti lagi belajar juga, kan?”
“Gapapa, mau nyapa aja. Iya, semua pasti lagi belajar kalau lagi musim ujian gini. Hari-hari yang melelahkan.” Balasku seketika.
“Tenang aja, minggu depan UAS kelar. Udah sampe mana belajarnya…

Jatuh Merindu

Image
Tak perlu menjadi jenius untuk tahu bahwa waktu itu relatif. Kadang ia merentang – melambatkan derap jarum jam yang bosan akan stagnasi ritual kehidupan. Kadang pula ia memampat – menjadikan potongan sketsa menumpuk tak terasa, seperti setahun yang kita lewati bersama ini.
Selama itu kita berusaha saling mendekat. Jarak pun terlipat dari sepelemparan batu sampai cukup untuk bersandaran bahu, tapi tetap saja aku tak berani menggandeng tanganmu.
Masih jelas teringat saat pertama kali kita bertemu. Kikuk. Aku ragu-ragu menanyakan namamu, tapi balas senyummu sudah cukup untuk melancarkan pembicaraan kita saat itu. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenalmu, dan kupustukan untuk mengajakmu bertemu di lain waktu.
Setelah itu kita sering kali melewati hari bersama. Mentari yang ranum mendaki garis langit, menjadi saksi bisu kisah yang kita buat. Aku dan kamu, bersama semesta yang memeluk hangat perjalanan kita. Dan tak kulupa awan teduh yang mengiringi langkah mungil – meniti tangga mimpi yang k…

Kaus Kaki

Image
Ada banyak alasan yang mendasari seseorang mencintai.  Seringkali urusan fisik, materi, dan silsisah diperbincangkan di meja makan para pengagum. Namun terkadang tak perlu paras rupawan, mobil mewah, atau darah bangsawan untuk membuat seseorang jatuh hati. 

Cinta bisa tumbuh dengan perihal yang sangat sederhana. Atau bahkan mencintai sama sekali tak butuh alasan. “Bagaimana denganmu? Alasan apa yang membuatmu cinta padanya?” tanya seorang teman padaku.

Aku mencintainya karena kaus kaki. Bukan karena miliknya yang berwarna menarik atau bermotif lucu. Tapi perasaan ini muncul begitu saja saat aku tahu sepasang kaus kaki melekat di kakinya. Barangkali ini bentuk cinta sederhana yang mewakili puisi Sapardi Damono. 

Entahlah, mungkin ini aneh. Tapi dari kaus kaki aku melihat itikad baiknya untuk menjaga diri, lebih dari sekadar helai kain yang menutupi rambutnya, selaras dengan  telungkup tangan di depan dada yang membuat laki-laki manapun segan bersalaman. 

Menurutku seorang wanita yang sadar…

Kotak yang Kelaparan

Image
Kulihat sebuah kotak kecil tergeletak disudut ruangan. Ia lusuh sekali. Tubuhnya yang berwarna hijau itu penuh dengan lipatan keriput, tanda ia sudah cukup berumur. Aku mencoba mendekat untuk memastikan keadaannya.

“Hai.. Apakah kau baik-baik saja?”
Ia bergeming, lalu menatapku lamat-lamat. Mungkin ia terheran mengapa sebuah kotak putih yang sedikit lebih besar darinya bisa di tempat seperti ini. Aku juga sebenarnya tidak begitu tahu tempat apa ini.
Kami berdua sama-sama terjebak di ruangan berdebu sekaligus bau ini. Kami tidak bisa pergi ke mana-mana karena pintu keluar dikunci. Barangkali pemilik kami ingin memastikan bahwa esok hari kami siap menjalankan tugas. Walaupun sebenarnya aku sendiri tidak begitu yakin akan berguna.
“Aa.. aku lapar.” Lirih kotak hijau itu.
“Apa katamu?” tanyaku memperjelas.
“Aku lapar. Benar-benar lapar. Akhir-akhir ini perutku sakit karena selalu telat makan. Orang-orang sudah tidak peduli lagi padaku. Terakhir kali mereka memberiku makan itu dua hari yang lal…

Kado Istimewa

Image
Hari ini aku berulang tahun. Tak seperti kebanyakan anak-anak lainnya, aku tidak ingin mengadakan pesta. Ayah dan Ibu sudah menawari kemarin, tapi aku lebih tertarik menghabiskan waktu di kamar seharian. Aku tidak suka keramain, terlebih melihat teman-temanku berlarian di rumah sempit ini.

Kami bertiga merayakan hari bahagia ini dengan sepotong kue tar yang sama sekali tak menarik seleraku. Kucicipi sedikit untuk sekadar menghargai mereka yang sudah menggenapkan lilin angka dua belas di atasnya, sisanya kubiarkan membeku di kulkas. 

Belakangan ini banyak orang yang menaruh perhatian padaku. Tapi ketahuilah aku tidak perlu dikasihani. Aku tahu bahwa aku memang berbeda dari kebanyakan orang, tapi bukan berarti mereka harus memperlakukanku secara berbeda. 

"Aku senang, kok. Terima kasih banyak. Kalian semestinya tidak perlu repot begini" Jawabku atas keheranan mereka. Aku memang tak pandai berekspresi. Aku bocah ingusan yang masih belum memahami tradisi pergantian tahun lahir sepe…

Pahlawan Tak Bersepatu Lars

Image
Dialah pahlawanku. Aku tahu Ia tidak besar, kekar, atau memiliki ayunan tangan yang kuat. Ia tidak memegang senapan, kapak, atau pisau, bahkan memakai sepasang sepatu lars pun tidak. Ia juga tidak diceritakan dalam kisah-kisah epos yang mendebarkan, tapi ia tetap pahlawanku.
Ia bangun sebelum sebelum fajar menekuk gulita petang. Selalu ada bisik sakral yang menggema di dinding kamarnya. Aku tak benar benar mendengarnya. Namun itu tersampaikan begitu saja lewat perantara ketulusan.
Sebelum langit menggeret mentari terlalu tinggi, ia sudah menantang hari dengan kemeja sahajanya. Tapi tak pernah lupa ia mendengar kisah tentang aku dan si bola bundar, saat sebutir telur mata sapi menatap iri keakraban kita.
Sembari menyeka bekas susu di ujung bibir, aku mengantarnya sampai ujung pintu. Langkah kakinya menjejakkan keyakinan dan kesungguhan. Kulambaiakan tangan melepasnya pergi, berharap ia bisa mendengar ceritaku lagi saat pulang nanti.
Aku tidak tahu pasti apa yang ia lakukan di luar sana, saat t…

Sepucuk Surat Untukmu

Image
Sepucuk surat kutulis untukmu,
namun hanya tergeletak rapuh di sudut meja,
saat gemilau rembulan mulai mengintip malu di pekarangan senja.


Kutimang ringan secarik kertas itu, namun tak ada merpati yang mau terbang mengantarkannya,
walau langit telah menelan bebayang petang demi menjemput pagi.

Kurangkai kata demi kata,
yang dapat melipat jarak panjang antara kau dan aku,
namun kita tidak benar benar mendekat, seperti debur ombak yang menyapa tepi

Lewat tinta biru - warna kesukaanmu - teruntai salam yang tak menuntut balas.
aku, pungguk yang bersembunyi di balik lembaran selimut malam,
hanya berharap apa yang dari hati akan sampai ke hati,

Segumpal rindu muncul dari balik dedaunan yang seperti enggan melepas embun.
Kucicil tanda tanya di antara bait bait malu,
untuk sekadar tahu bagaimana kabarmu.

Di situ kuceritakan aku yang menikmati rintik hujan,
agar kusadar bahwa di atas sana ada langit,
yang bisa sampaikan rapalan doaku untukmu

Sepucuk surat kutulis untukmu,
namun kikirim ia pada selain dirimu.
Biar…

Tongkat Estafet Pembangunan Ekonomi Indonesia

Senin 20 Oktober 2014 menjadi hari dilantiknya presiden ke-7 Indonesia yang dipilih rakyat secara langsung. Tongkat estafet kepemimpinan negara berpindah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada Joko ‘Jokowi’ Widodo. Disaat itu pula tugas, tanggung jawab, dan amanah besar untuk membangun perekonomian bangsa dilimpahkan kepada sosok yang menjadi harapan baru Indonesia kini. Lantas apakah Jokowi mampu menjawab harapan tersebut?
Menilik kepemimpinan SBY sepuluh tahun terakhir dari sisi ekonomi, terdapat beberapa hal yang perlu diapresiasi. SBY berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi stabil dengan kisaran 4%-6,5% setiap tahunnya. Bahkan di saat krisis finansial pada 2008, di mana AS dan Negara-negara Eropa terpuruk dengan pertumbuhan negatif, Indonesia mampuh tumbuh 4,6%. Sektor riil Indonesia digadang-gadang berperan secara fundamental menjalankan roda perekonomian dan mempertahankan diri dari krisis.
Selain itu pengangguaran juga menurun secara drastis. Data Badan Pusat Statistik mencatat …

Sekilas Senja di Senggigi

Image
Senggigi tak pernah kehilangan sihirnya. Aku tak hanya terpana, lidahku kelu untuk membahasakan indahnya. Dari ujung bibir pantai, mataku menyisir setiap sudut kemewahan alam. Tak rela bila kedip mengambil jeda.
Bersamaan dengan lambaian daun kelapa, sepoi lembut angin memanggilku untuk datang kekemari. Hembusnya bagai mantra yang membuatku tak punya pilihan lain selain menurut. Namun bukan itu sebab keberadaanku di sini. Ada alasan yang mampu menduakan eloknya Senggigi.
Aku berdiri dalam pijakan yang gemetar, menghela nafas perlahan. Harus kuakui sebenarnya aku suka dengan segala sesuatu di pantai ini. Angin, ombak, buih air, pasir, terumbu karang, termasuk sepasang pohon kelapa yang asyik menatap samudra itu. Keduanya mengingatkanku pada kita dulu, penikmat senja yang senang menghabiskan waktu berdua – bersandar pada masing-masing batang pohon kelapa. Entah oleh sihir apa atau siapa, kita lebih banyak diam.
Kususuri jalan sepanjang bibir pantai, tinggalkan jejak sesaat kemudian pudar t…

Sama-sama Kuning

Image
Sama-sama kuning, satu untuk warna bendera, satu untuk warna janur.
Sama-sama kuning, yang ini menandakan duka, yang itu mengabarkan gembira,
Percalayalah bahwa kesedihan dan kebahagiaan itu digilirkan masing masing di antara kita. Tidak ada kuasa untuk melawan apa yang telah tertulis dalam lembaran takdir. Manusia tak bisa lompat dari batas jerih usaha dan rapalan doa. Kita berada di antara tangan yang mendekat pada seikat genggam dan tangan yang menjauh dari ujung pelepasan.
Kuning. Pilu-pasi para pelayat datang menghaturkan iba. Semua larut dalam sedu sedan tak berkesudahan. Lembaran kehidupan telah usai. Lantunan doa-doa mengiringi kesunyian.
Perpisahan adalah sebuah keniscayaan. Orang boleh bilang masa depan itu misteri, tapi yang jelas mati itu pasti. Bermimpi dan mempersiapkan masa depan adalah hal baik, tapi prihatin dan bersiap diri untuk hal yang jauh lebih pasti tentu  tidak dapat ditawar lagi. Sebelum perpisahan itu datang, kita tak akan pernah tahu kapan bendera kuning berkibar di…

Hmmm

Ingin kuberitahu suatu rahasia, bahwa aku memendam perasaan pada seorang gadis. Sedikit demi sedikit kupahami perasaan tersebut adalah cinta, yang nantinya kusadari bahwa cinta yang kumiliki adalah hal yang sulit diterima. Karena kami berbeda.
*** Perasaan itu muncul beberapa tahun silam, saat aku pertama kali bertemu dengannya. Waktu itu dia masih kecil. Aku juga belum terlalu besar. Terlebih untuk mengerti ketertarikanku padanya. Yang kutahu hanya aku merasa sedang bertemu seorang tuan putri kecil di negeri dongeng. Entah apa pasal, sejak saat itu kuputuskan untuk memendam perasaan dalam diam.
Saat itu ia pergi ke desaku bersama keluarganya untuk mengunjungi kakeknya. Aku yang warga setempat ini sedang menuju sawah untuk membajak. Kami bertemu di seberang pematang. “Haii… selamat pagiii….” ia mencoba menyapaku dengan ceria. Alih-alih membalas salamnya, aku justru terdiam gagu. Kubiarkan ia lewat begitu saja. Cukup malu mengingat aku yang saat itu sangat berantakan. Bahkan sepertiny…