Menyiapkan Prajurit Perang AEC 2015

Di tahun 2015 Indonesia akan menghadapi perang pasar ASEAN Economic Community. Siap atau tidak perekonomian Indonesia akan beradu dengan negara-negara Asia Tenggaara. Perang ini dapat menjadi batu loncatan atau justeru jebakan. Tinggal bagaimana kesiapan Indonesia dalam menyiapkan prajurit-prajuritnya. Kesiapan tersebut tercermin dalam elemen-elemen ekonomi-bisnis, terlebih soal kewirausahaan yang merupakan faktor penentu daya saing nasional.


Kewirausahaan merupakan aspek yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan perekonomian di suatu negara. Tanpa adanya wira usaha, inovasi bisnis tidak akan berkembang dan berujung pada kelesuan ekonomi. Dalam buku Busniness Cycle, Joseph Schumpeter yang berseberangan dengan pemikiran klasik menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bersifat gradual dan tidak berjalan secara harmonis. Ia menganggap bahwa ekonomi sangat erat dengan ketidakstabilan, sehingga dibutuhkan wirausaha (entrepreneur) yang mampu berinovasi dalam menghadapi tantangan dinamisasi perekonomian yang ada.


. Berdasarkan data Bank Dunia, wirausaha Indonesia hanya berada dalam kisaran 1,6 persen penduduk. Padahal salah satu syarat dari negara maju harus memiliki setidaknya 2 persen wirausaha dari total populasi. Indonesia masih tertinggal dari negara-negara ASEAN seperti Malaysia 4 persen, Thailand 4,1 persen, dan Singapura 7 persen. Departemen Perdagangan RI menyatakan bahwa AEC 2015 bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, serta pengembangan kebudayaan. Namun, adanya fakta bahwa daya saing Indonesia saat ini masih dibawah beberapa negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Brunei, Thailand, dan Singapura, AEC 2015 justeru dikhawatirkan menjadi bumerang bagi dunia bisnis di Indonesia sendiri. Berdasarkan data World Economic Forum (WEF), di tahun 2013 ini Indonesia bertengger di peringkat 38 dari 148 negara di dunia. Kondisi ini diperparah dengan defisit neraca perdagangan dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap valuta asing.

Di sinilah seharusnya wira usaha Indonesia berperan sebagai prajurit. Kesiapan mereka sangat menentukan posisi Indonesia dalam perang pasar bebas ini. Secara kuantitas kita telah memiliki keunggulan potensi sumber daya. Namun jumlah yang banyak belum tentu bisa memenangkan peperangan. Indonesia harus meningkatkan skil dan memberikan kesempatan bagi sumber daya manusianya untuk berkembang dan mengembangkan usahanya. Prajurit-prajurit ini membutuhkan akses untuk berkembang. Pemerintah dapat menyiapkan akses tersebut, baik secara fisik berupa infrastruktur yang memadai, maupun akses pada institusi keuangan yang inklusif. Selain mampu menjaga kerentanan usaha-usaha kecil, kemudahan akses tersebut juga akan menginsentif masyarakat untuk menjadi wira usaha. Setidaknya harus ada usaha untuk meminimalisir risiko bisnis yang biasa menjadi momok masyarakat untuk terjun di dunia bisnis.

Dengan kreativitas dan inovasi wira usaha, Indonesia tidak perlu takut dalam menghadapi persaingan pasar bebas AEC 2015. Selain menjadi motor penggerak untuk melepaskan Indonesia dari jeratan ‘penyakit impor’nya, wira usaha lah yang menjadi ujung tombak untuk menerobos barisan pangsa pasar luar negeri.

 

artikel ini dimuat di koran sindo kolom poros mahasiswa edisi kamis, 12 desember 2013

 

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini