Melepasmu Pergi

Suatu saat, mencintai adalah memutar hati tanpa orang yang engkau cintai. Sebab, dengan atau tanpa orang yang kau kasihi, hidup harus terus dijalani. –Tasaro G.K.

Aku selalu benci kalimat itu. Rangkaian kata yang kebenarannya muak kuakui. Tapi inilah ketidakberdayaan manusia atas takdir perpisahan. Ironisnya, kau sendiri yang memberi tahu kalimat itu.

speedo meter


Kupacu motorku membelah jalanan kota. Beruntung saat itu tak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Dengan kecepatan seperti ini, sepuluh menit lagi aku bisa sampai rumah.

Andai aku mau sedikit saja memerhatikan, hujan kala itu menari dengan indah. Tak terlalu lebat, hanya gerimis. Mungkin hujan adalah cara alam berkomunikasi dengan kita. Tiap tetes air yang jatuh membawa pesan dari langit untuk direnungkan. Entah bagaimana bahasa hujan, mungkin ini bisikan langit yang mencoba menegarkanku. Ia tahu bahwa tak hanya dia yang bisa menjatuhkan air.

Masih terbayang pertemuan terakhir kita tadi. Kau terlihat berbeda. Penampilanmu tak seperti biasanya. Kau tampak luar bisa. Berapa waktu yang kau butuhkan untuk berdandan seperti itu? Ada sesuatu yang spesialkah tadi? Atau pertemuan kita kali ini yang istimewa? Aduhai, naifnya aku yang terlalu berharap. Padahal jelas aku tahu nantinya akan menggerutui pertemuan ini.

Kulihat kakimu bergoyang menjuntai di bawah kolong meja. Sementara tanganmu menyibukkan diri dengan mengaduk-aduk minuman. Kau masih mencoba merangkai kata ketika aku sudah tau apa maksudmu. Kalimat itu sudah terbisik di telingaku sebelum lepas dari ujung lidahmu. Basa-basimumu tadi sama sekali tidak membantu. Walau sudah kuterka, aku semakin remuk setelah semua kalimat keluar dari birbimu. Seketika itu pula tangismu pecah.

Kumohon jangan.... Ahh, kau tahu aku tak sampai hati bila melihat air matamu jatuh. Aku juga tak tahu harus bagaimana menanggapimu yang sesenggukan. Bahkan aku sedikit iri denganmu yang bisa lepas. Tanpa ego, tanpa gengsi. Sementara aku harus memasang ekspresi palsu.

Mendekati pusat keramaian kota, jalanan semakin ramai. Aku semakin sulit bermanuver, mencari celah-celah sempit untuk menyalip. Kuturunkan kecepatan untuk lebih berhati-hati. Kanan-kiri jalan dipenuhi pertokoan dan rumah makan. Orang berlalu-lalang menyebrang jalan. Sementara itu langit masih menurunkan gemericik airnya. Tak masalah, setidaknya dengan hujan ini orang-orang tidak tahu bahwa aku juga masih menangis.

Kenapa mesti pergi? Haruskah kita tunduk pada urusan struktural ini? Tak pernah ada masalah di antara kita. Semuanya baik-baik saja. Tapi hanya karena waktu kita berpisah.

Kau tahu apa itu kebodohan? Menikmati kebersamaan dirimu, sementara aku sangat mengerti keniscayaan sebuah perpisahan. Aku sadar bahwa pertemuan kita setahun yang lalu akan berujung pada titik ini. Pertemuan hanyalah manifestasi awal dari perpisahan. Tapi tak pernah kusangka akan seberat ini melepasmu pergi.

Kata orang rasa takut itu muncul bukan karena hal yang keji atau menyeramkan. Tapi ia muncul karena rasa sayang. Ia akan membuncah ketika ada firasat kehilangan apa yang kita sayangi. Mungkin aku ini pengecut, takut tak bisa menuai perasaan ini lagi nanti. Takut tak bisa sejatuh saat bersamamu.  Aku takut kau hilang. Sudahlah, kalimat “nanti akan ada penggantiku” sama sekali tidak menenangkanku.

Sepuluh menit berlalu. Tepat sesuai perkiraan, aku sudah bisa memarkirkan motor di depan rumah. Kumasuki rumah dalam kondisi basah. Tanpa salam, tanpa kelakar, kulewati ruang tamu menuju kamar. Aku membisu ketika yang lain bertanya kabar. Semoga mereka mengerti diamku.

Pulang, jatuh, dan pecah dalam rasa benci karena keharusan melewati fase ini. Jika hanya untuk lewat, lalu kenapa kau datang?

Bagaimanapun juga aku harus berterima kasih atas apa yang telah kita jalani. Kurang dari setahun, tapi itu lebih dari apapun. Kau dorong aku bergerak, keluar dari zona nyaman menuju peluh perjuangan. Kau ajari aku mengabdi, mencari arti kata ikhlas dari setiap jenuh pengorbanan. Kau tuntun aku berkarya, meretas batas kreativitas demi kebermanfaatan.

Terima kasih pula untuk semua kenangan. Dari setiap hulu perencanaan, yang mengalir dalam kerja nyata, bermuara pada proses pembelajaran. Semua itu kenangan yang pantas disimpan. Dan aku tegas menolak lupa. Cukup. Tak perlu bersedu-sedan lagi. Justru perpisahan ini perlu disyukuri. Akan selalu ada ibrah dari setiap cerita. Semoga ini menjadi proses pendewasaan diri.

Jelas ini bukan inginku, juga bukan mamumu. Entah ‘selamat tinggal’ atau ‘sampai jumpa’ yang harus kuucapkan.  Aku hanya ingin mencoba untuk rela melepasmu. Sebab, dengan atau tanpa dirimu, hidup harus terus dijalani,bukan?

terima kasih,

untuk BEM FEUI 2013 bergerak| mengabdi| berkarya

untuk Keilmuan 2013 we plan| we work| we educate

gambar dari sini

Comments

  1. jangan sedih karena ini semua berakhir, tapi bersyukurlah karena semua pernah dimulai :') --kata2 dari Adit di buku putih aku yan :)

    ReplyDelete
  2. iya... pernah juga denger yang ".......be happy because it happens"
    makasih fitri

    ReplyDelete
  3. sama-sama yan :)
    akhir2 ini kelihatannya galau XD haha eh tapi tulisan tidak selalu menggambarkan perasaan hati penulisnya sih ya , hehe

    ReplyDelete
  4. sebenernya sering nulis gituan fit, cuma baru akhir-akhir ini aja berani nge-post

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini