Posts

Showing posts from December, 2013

Melepasmu Pergi

Image
Suatu saat, mencintai adalah memutar hati tanpa orang yang engkau cintai. Sebab, dengan atau tanpa orang yang kau kasihi, hidup harus terus dijalani. –Tasaro G.K.
Aku selalu benci kalimat itu. Rangkaian kata yang kebenarannya muak kuakui. Tapi inilah ketidakberdayaan manusia atas takdir perpisahan. Ironisnya, kau sendiri yang memberi tahu kalimat itu.

Kupacu motorku membelah jalanan kota. Beruntung saat itu tak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Dengan kecepatan seperti ini, sepuluh menit lagi aku bisa sampai rumah.

Andai aku mau sedikit saja memerhatikan, hujan kala itu menari dengan indah. Tak terlalu lebat, hanya gerimis. Mungkin hujan adalah cara alam berkomunikasi dengan kita. Tiap tetes air yang jatuh membawa pesan dari langit untuk direnungkan. Entah bagaimana bahasa hujan, mungkin ini bisikan langit yang mencoba menegarkanku. Ia tahu bahwa tak hanya dia yang bisa menjatuhkan air.

Masih terbayang pertemuan terakhir kita tadi. Kau terlihat berbeda. Penampilanmu tak seperti biasanya.…

Menyiapkan Prajurit Perang AEC 2015

Di tahun 2015 Indonesia akan menghadapi perang pasar ASEAN Economic Community. Siap atau tidak perekonomian Indonesia akan beradu dengan negara-negara Asia Tenggaara. Perang ini dapat menjadi batu loncatan atau justeru jebakan. Tinggal bagaimana kesiapan Indonesia dalam menyiapkan prajurit-prajuritnya. Kesiapan tersebut tercermin dalam elemen-elemen ekonomi-bisnis, terlebih soal kewirausahaan yang merupakan faktor penentu daya saing nasional.
Kewirausahaan merupakan aspek yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan perekonomian di suatu negara. Tanpa adanya wira usaha, inovasi bisnis tidak akan berkembang dan berujung pada kelesuan ekonomi. Dalam buku Busniness Cycle, Joseph Schumpeter yang berseberangan dengan pemikiran klasik menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bersifat gradual dan tidak berjalan secara harmonis. Ia menganggap bahwa ekonomi sangat erat dengan ketidakstabilan, sehingga dibutuhkan wirausaha (entrepreneur) yang mampu berinovasi dalam menghadapi tantangan dinamisa…

PO's Note: Menulis (itu) Seru

Seminggu sebelum UAS, banyak materi yang harus dikejar, banyak tugas yang harus diselesaikan. Tapi boleh jadi yang saya butuhkan justeru ketenangan, refreshing. Dan waktunya pas sekali karena hari minggu ini ada grand team building Master FEUI. Semua panitia dan murid berkumpul bersama untuk senang-senang. Kesampingkan dulu tuntutan kerjaan, sejenak lupakan dulu materi pembelajaran. Sekarang saatnya menikmati kebersamaan.

Pukul 08.30 berangkat dari stasiun Universitas Indonesia menuju stasiun Depok Baru yang memang berdekatan dengan Terminalnya, terlepas keduanya terintegrasi atau tidak. Kami berkumpul di Aula YABIM untuk saling berkenalan. Alih-alih bersalaman dan saling menyebutkan nama. Kami justeru berkenalan lewat permainan. Setiap orang harus menebak nama yang ditempekan dipunggungnya dengan menanyakan pada orang lain. Saya menggerutui diri saya yang susah menghafal nama. Menghafal wajah rupanya jauh lebih mudah.

Setelah itu kami melakukan beberapa games yang dipandu anak-anak HRD…

Kamar Hati

Image
Tak perlu kau ketuk pintu. Putar langsung saja gagangnya.

Tak usah pula tanyakan kabar. Seburuk apapun badai melanda, kesedihan akan sirna dengan kedatanganmu. Setiap orang pasti bahagia dengan perjumpaan seperti ini.

Aku telah lama menunggumu di sini – duduk santai di atas kursi goyang sembari mendendangkan syair tanpa suara. Syair bisu, hingga kedatangamu menyembuhkannya.

Cepat atau lambat aku sudah tahu kau akan datang. Waktu tidak akan tega terlalu lama memisahkan. Jarak akan mengkerut tunduk pada kesabaran dan keihklasan penantian. Sungguh ini telah terbukti sejak bumi dihuni.

Kemarilah, sudah kusiapkan ruang tamu yang nyaman kau duduki. Ah, bukan. Kau pantas mendapatkan lebih dari sekedar ruang tamu. Biar sekalian saja kurapikan kamar untukmu. Jangan khawatir, dari sekian banyak yang menginginkan, belum pernah ada yang menempatinya.

Mungkin aneh membiarkanmu yang tak berwujud masuk dalam ruang pribadiku. Hidupku realistis- konkret, sementara kau imajiner-absurd. Entah bagaimana kita …