Kamar Hati

bigpreview_white-room-white-door-white-light

Tak perlu kau ketuk pintu. Putar langsung saja gagangnya.

Tak usah pula tanyakan kabar. Seburuk apapun badai melanda, kesedihan akan sirna dengan kedatanganmu. Setiap orang pasti bahagia dengan perjumpaan seperti ini.

Aku telah lama menunggumu di sini – duduk santai di atas kursi goyang sembari mendendangkan syair tanpa suara. Syair bisu, hingga kedatangamu menyembuhkannya.

Cepat atau lambat aku sudah tahu kau akan datang. Waktu tidak akan tega terlalu lama memisahkan. Jarak akan mengkerut tunduk pada kesabaran dan keihklasan penantian. Sungguh ini telah terbukti sejak bumi dihuni.

Kemarilah, sudah kusiapkan ruang tamu yang nyaman kau duduki. Ah, bukan. Kau pantas mendapatkan lebih dari sekedar ruang tamu. Biar sekalian saja kurapikan kamar untukmu. Jangan khawatir, dari sekian banyak yang menginginkan, belum pernah ada yang menempatinya.

Mungkin aneh membiarkanmu yang tak berwujud masuk dalam ruang pribadiku. Hidupku realistis- konkret, sementara kau imajiner-absurd. Entah bagaimana kita bisa bersatu untuk saling menguatkan, bukan sekedar ketergantungan. Seharusnya ini tak jadi masalah. Tidak ada kepastian yang menjamin kamar ini. Toh ruang ini juga tak bisa diraba. Hanya dirasa.

Kau bisa tinggal selama apapun di sini. Lagipula aku juga tak sanggup untuk melepasmu pergi. Walaupun aku tahu benar bahwa setiap pertemuan merupakan manifestasi awal dari sebuah perpisahan. Karenanya aku berharap semoga pertemuan yang membahagiakan ini tidak ditutup dengan kesedihan, tapi keikhlasan.

Kau Benar, kamar ini selalu tertutup rapat. Tapi bukan berarti tak bisa dimasuki. Hanya yang terpilih yang bisa memasukinya. Dan tahukah kau? Aku pun tak punya kuasa untuk memilih. Kata orang, kau sudah dituliskan di lembaran langit. Tak heran bila justeru kau sendiri yang membawa kuncinya. Lagipula kamar ini tahu kepada siapa ia harus terbuka.

Kenapa? Kau heran kamar ini bisa selapang ini? tak lain itu karena dirimu. Yang lalu tak seperti itu dan esok lusa belum tentu sama. Kamar ini biasa berubah atas kuasa Sang Pembolak-balik qalb. Semoga hadirmu memberi ketetapan bentuk ruangan ini. bantu aku menghadapkan jendela ke arah yang tepat. Perlu kau ketahui, kamar ini yang menentukan baik buruknya seluruh bangunan ini.

Tak perlu sungkan. Ini memang tempatmu seharusnya berada. Tak perlu kuucap, “anggap saja rumah sendiri”. Basa-basi hanya akan menggerus ketulusan. Padahal ketulusan telah menjadi kendaraan yang mengantarkanmu sampai di sini.
Sudahlah, nyamankan saja dirimu di sini. Aku hanya ingin katakan,
“Selamat datang cinta”

gambar dari sini

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini