Aku, Kamu, dan Hujan

rain


Sudah tiga hari ini hujan turun mengguyur sore. Lalu malam menjemputnya dengan basah. Akhir-akhir ini cuaca menjadi tak menentu. Sepertinya menebak sisi uang koin lebih mudah dari pada menebak situasi langit. Kemarau tak berarti terik, penghujan bisa saja panas mencekik. Batas-batas musim tak bisa dipisahkan dengan jelas. Tapi Nirina tak mau berpusing ria memikirkan hal itu. Yang dia lakukan saat ini hanyalah menikmati jatuhnya hujan.


Seperti anak kecil pada umumnya, dulu Nirina juga suka hujan (hujanan). Saat itu aku sering bermain dengannya di lapangan. Menerobos jutaan butir air yang jatuh dari langit. Terjatuh dan  bermandikan air genangan. Setelahnya, kami menikmati coklat hangat yang dibuat bunda.Kini walaupun telah beranjak dewasa, sepertinya hal itu tidak banyak berubah. Ia tetap menikmati hujan, walaupun dengan persepsi yang berbeda.

Hujan menutup raut muka, menyamarkan air mata yang berderai jatuh. Tangisnya yang dalam takkan terlihat. Tak ada yang akan tahu apa yang sedang ia rasakan. Tapi tidak denganku.

“Aku tahu benar kenapa kamu di situ.” Sahutku. “Sudahlah, kamu bukan hujan yang tak pernah merasakan sakit walau jatuh jutaan kali. Biarkan saja masalah itu pergi”

“Kita sudah bicarakan hal ini, Ren. Kau pun tahu aku tak pernah bisa melupakannya. Tak sejengkal pun tempat yang tak basah oleh hujan ini. Begitu juga dengan diriku yang tak sedikit pun ada celah dari rasa bersalah. Kau bisa pergi, semestinya tak ada orang yang peduli denganku yang terlanjur basah seperti ini”

Orang biasa mengaitkan hujan dengan kesedihan. Awal kedatangannya didahului kemunculan awan hitam pekat yang mengerikan, menggusur awan putih yang diam dan tenang. Awan hitam ini seakan berusaha menggulung kebahagiaan kita dalam keangkuhannya. Lalu butiran tangis langit jatuh tanpa bisa ditahan.

Nirina masih membatu di bangku taman. Sementara aku mulai kedinginan. Rambut panjang yang tadi pagi tergerai anggun, kini lepek terguyur hujan. Tak masalah, toh aku juga sebenarnya masih menikmati hujan. Bagiku hujan merupakan kenikmatan yang digilirkan Allah pada hamba-Nya. Setiap butir air yang jatuh membawa pelajaran bagi yang mau memahaminya. Hujan membangkitkan semangat jiwa-jiwa yang telah layu. Belaian kesegaran yang lembut itu justeru mengokohkan diri.

“Kamu salah, Na. Banyak yang menawari payung, bahkan tempat untuk berteduh. Tapi kamu tak pernah mau tahu. Seberapa pun derasnya hujan, masih ada tempat kering, bahkan menghangatkan jika kamu memang mau menempatinya. Mengertilah Nirina, kamu harus bisa memberikan kesempatan untuk dirimu sendiri”

Ia tak bergeming. Mungkin perkataanku tak ia dengarkan, tapi aku terus melanjutkan kalimatku, “Kamu tak bisa terus-menerus di sana. Kamu tak bisa terus bergantung pada hujan untuk menutupi kesedihanmu. Ingat, Na, Akan ada pelangi setelah hujan. Terserah kamu mau menikmatinya atau tidak.”

Dalam hati Nirina masih menyangkal. Kau yang salah Rena. Tak pernah ada yang namanya pelangi. Itu tak lebih dari sekedar ilusi semu yang mengelabui persepsi. Indahnya hanya sesaat menghibur mata. Aku lebih percaya pada awan. Ia selalu ada untuk menemani langit, bahkan saat hujan atau badai sekalipun, hanya berubah warna. Sayangnya sampai saat ini tak ada awan yang mau menemaniku.

gambar dari sini

Comments

  1. di Jogja nyaris nggak pernah hujan lagi yan . .

    ReplyDelete
  2. hoho... hujan dalam arti apa nih?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini