PO's Note: Keluarga Master

Selama dua minggu ini panitia sedang memfokuskan diri untuk mencari sumber daya manusia terbaik sebagai keluarga Master FEUI. Open recruitment dibuka untuk staf pengurus, pengajar, dan yang diajar. Di divisi kurikulum misalnya, selain harus mewawancarai  50an calon pengajar. Mereka juga sedang menjaring siswa-siswa master yang berkeinginan kuat untuk berjuang bersama Master FEUI. Tak main-main, kami harus menyeleksi hampir seratus siswa untuk diambil yang terbaik. 15 untuk kelas XI, 15 untuk kelas XII, dan 7 untuk kelas intensif.

Saya selalu tegaskan pada jajaran panitia bahwa ada tiga hal yang  menjadi pertimbangan utama dalam merekrut staf atau pengajar. Tiga hal itu adalah jiwa sosial, komitmen, dan antusiasme. Jiwa sosial dibutuhkan sebagai landasan dasar Master FEUI yang mengutamakan pelayanan pada masyarakat. Komitmen menjadi pegangan dalam dinamika kepengurusan. Sedangkan antusiasme menjadi pendongkrak semangat mastermate yang akan berjuang setahun penuh.

Saya mengasumsikan teman-teman di kampus sudah punya skil dan kecerdasan yang mantab. Tidak perlu diragukan lagi untuk hal-hal seperti itu. Sekarang tinggal bagaimana potensi itu digali dan disalurkan untuk Master.

Untuk seleksi murid sendiri dibagi menjadi dua tahap, yakni tes akademik dan wawancara. Setelah melakukan tes akademik kami menyaring 16 besar untuk diwawancarai. Mereka inilah yang harus bersaing untuk mendapatkan 7 kursi di kelas intensif – yang akan kami siapkan habis-habisan untuk menjadi mahasiswa di perguruan tinggi negeri favorit.

Mereka semua hidup dan menetap di Depok, tapi sebagian besar adalah perantauan. Beberapa dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Baret, dan ada satu yang berasal dari Sumatra Utara. Seorang mengaku pergi dari kehidupan keras rumahnya yang di Brebes. Ia berjalan kaki hingga ke Tegal. Dari Tegal ia bersepeda menuju Jakarta, tanpa ada tujuan dan kepastian apapun.

Sebagian besar motivasi mereka untuk mengikuti kegiatan ini adalah untuk merubah kehidupan keluarga, membanggakan orang tua, dan menunjukkan pada masyarakat bahwa dari apapun bentuk kesulitan dan keterbatasan, mereka layak untuk memperjuangkan mimpinya. Tentunya mereka tak ingin menjadi burung yang lupa sarangnya karena terbang terlalu tinggi. Tak sedikit dari mereka yang berkeinginan untuk mengabdi di Master setelah atau bahkan menyambi saat berkuliah nanti.

Beberapa dari mereka telah memiliki pekerjaan. Ada yang menjadi pekerja rumah tangga, penjaga puskesmas, ada pula yang kesehariannya menjaga counter dan menservis HP. Ketika ditanya mengenai constrain pekerjaan tersebut, dengan sangat yakin mereka berani meninggalkan pekerjaannya untuk mengikuti bimbingan belajar Master FEUI. Mereka berani mengambil risiko atas sesuatu yang memang layak diperjuangkan, bukan ketidakpastian.

Salah satu kendala besar mereka adalah biaya. Di sini biaya bukan hanya berarti SPP ataupun biaya penunjang kelengkapan belajar, tapi mereka juga menanggung biaya implisit akibat hilangnya kesempatan mereka untuk memperoleh pendapatan. Ketika mereka bersekolah, waktu yang mereka luangkan untuk bekerja semakin berkurang, bahkan hilang. Padahal boleh jadi pekerjaan itu yang menjadi satu-satunya tumpuan hidup mereka. Salah seorang saya tanyai mengenai kendala ongkos berangkat FEUI untuk bimbel. Jawabannya membuat saya tertegun, “Saya siap jalan kaki ke sana kalau tak ada ongkos, saya sudah biasa jalan kak.”

Rasanya sore itu saya malu dengan diri saya sendiri. Banyak orang di luar sana yang sangat menginginkan pendidikan yang saya enyam. Dengan kenyamanan yang ada saat ini saya masih belum bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk belajar yang sebenarnya sudah menjadi kewajiban sebagai mahasiswa pun rasanya saya masih setengah-setengah.

Di ujung sore itu, saat matahari mengucap salam atas pergantian hari, saya berdo’a agar panitia Master FEUI selalu istiqomah menjalankan amanah yang bukan main-main ini. Dan semoga yang terpilih menjadi bagian dari keluarga Master FEUI adalah yang memang berjiwa sosial, berkomitmen, dan memiliki antusiasme yang tinggi.

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini