Bersatu dengan Keberagaman Budaya Bangsa

91Sekaten

Sangat disayangkan bila keberagaman budaya dijadikan kambing hitam berbagai konflik yang terjadi di negeri ini. Padahal keberagaman ini bisa menjadi potensi yang luar biasa, terlebih untuk mempersatukan bangsa Indonesia sendiri. Budaya antar daerah belum tentu sama, tapi itu bukan alasan untuk tidak bisa hidup bersama.

Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mendefinisikan kebudayaan sebagai sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dengan 1.128 suku bangsa, Indonesia dikaruniai begitu banyak variasi kebudayaan. Budaya-budaya itu meliputi rumah tradisional, lagu daerah, pakaian adat, alat musik, tari, dan makanan. Termasuk pula 546 bahasa suku bangsa yang di gunakan di Indonesia.

Budaya dapat menjadi alat pemersatu bangsa. Wujud kebudayaan di Indonesia sering kali melibatkan banyak orang. Festival seperti reog, wayang, sekaten, dan pertunjukan tari banyak menyedot perhatian masyarakat. Dalam kegiatan tersebut terjadi interaksi yang cukup intens untuk mempererat hubungan antar individu dalam masyarakat.

Budaya Indonesia juga memiliki nilai-nilai filosofis yang menjunjung persatuan. Slametan, mantenan, dan brokohan merupakan contoh budaya yang bertujuan untuk merasakan kesenangan ataupun kepedihan sesamanya. Sedangkan sambetan dan gerobohan diadakan untuk membantu ketika seseorang mempunyai hajat tertentu seperti membangun rumah. Dari budaya-budaya inilah Indonesia menjunjung tinggi asas gotong-royong.

Memiliki budaya juga menandakan bahwa kita memiliki sesuatu untuk dibela. Kita tentu tidak ingin apa yang kita miliki diambil orang yang tak berhak. Ketika banyak budaya kita diklaim oleh negara lain, masyarakat berbondong-bondong bersatu membela budaya kita. Dengan cepat rasa kesatuan akan terbentuk ketika musuh telah tampak.

Sayangnya rasa kesatuan instan seperti itu tidak bisa diandalkan karena hanya timbul mengikuti tren yang sedang bergulir. Kita tidak bisa menunggu dicuri baru menyadari betapa berharganya milik kita. Persatuan harus ditumbuhkan dari kecintaan terhadap budaya bangsa. Dengan demikian akan terbentuk rasa takut akan kehilangan, bukan malah ketakutan setelah kehilangan.

Di sisi lain globalisasi mengancam eksistensi kebudayan Indonesia, yang mana juga berarti mengancam persatuan bangsa. Generasi muda menjadi sasaran empuk dalam proses akulturasi budaya di era ini. Bukan berarti anti moderenitas, tapi kita harus bisa memilah mana yang baik dan mana yang tidak.

Meramaikan festival dan karnaval daerah dapat menjadi langkah awal yang baik dalam melestarikan budaya. Wadah apresiatif berupa komunitas dapat menjadi tempat yang tepat untuk pengembangan budaya. Dunia pendidikan juga harus mendukung sosialisasi keberagaman budaya, terlebih bagi siswa di usia dini. Ini guna meningkatkan sense of belonging masyarakat akan budaya itu.

Sudah sepatutnya pemerintah beserta masyarkat memberikan perhatian lebih untuk melestarikan keberagaman budaya Indonesia. Bukan hanya sekadar objek pariwisata untuk memutar roda perekonomian, tapi juga sebagai alat pemersatu bangsa.

gambar dari sini

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini