4th USLS #9: Kumandang Takbir

8 agustus 2013
"Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar... Laa ilaha illallahu Allahu akbar. Allahu akbar walillahilham."

Gemuruh takbir berkumandang. Puji untuk-Nya menggema dari segala penjuru.  Sepoi angin membelai permadani yang digelar di lapangan. Orang-orang beramai-ramai datang membawa senyum sumringah khas kemenangan. Mereka akan mendirikan sunnah setahun sekali ini di tempat ini. Matahari mengintip malu di ufuk timur, seakan ingin tahu keramaian pagi itu. Sayangnya itu terjadi kampung halaman saya, Indonesia, tidak di sini. Sementara itu saya terduduk di balkon sambil membayangkan suasana Idul Fitri di rumah.

***


Berbeda dengan kebanyakan negara, pemerintah Filipina menetapkan hari raya Idul Fitri pada tanggal 9 Agustus 2013, lebih telat sehari. KBRI yang biasanya menyelenggarakan shalat Ied kantor kedutaan pun mengikuti intruksi pemerintah. Meskipun demikian, beberapa kelompok muslim di Green Hill dan Quiapo telah melaksanakan shalat Ied tanggal 8. Karena berada di Manila, saya harus menunggu esok hari untuk merayakan Idul Fitri.

Kegiatan hari ini saya isi dengan mengunjungi Makati City, salah satu pusat bisnis dan daerah elit di Filipina. Saya harus ke sana untuk mengurus tambahan bagasi pada penerbangan saya. Lebih baik mencoba melalui counter maskapai langsung ketimbang membeli jatah bagasi tambahan di bandara yang jelas lebih mahal. Bahkan bisa dua sampai tiga kali lipat.

Berangkat menuju Makati saya diantar bang Reja. Kami menggunakan LRT dari stasiun Quirino hingga Edsa. Lalu diteruskan menggunakan MRT dari stasiun TAFT  sampai Ayala. Kebetulan kantor maskapainya berada di dekat situ. Jadi kami hanya berjalan beberapa blok.

DSC01777   DSC01776

Satu hal yang perlu ditiru dalam pengamatan saya adalah orang-orang Filipina memiliki budaya antri yang baik. Saat membeli tiket, tidak ada yang serobotan atau menitip tiket ke orang lain. Sistem pintu stasiun dilakukan secara otomatis. Sehingga menyulitkan orang untuk menjadi penumpang gelap. Pintu itu tidak berfungsi bila kita berhenti di stasiun yang tidak sesuai dengan tiketnya. Keteraturan ini juga tampak pada antrian pemeriksaan barang yang hampir ada di setiap pintu tempat publik.

Sepulang dari kantor maskapai kami berpisah di SM Mall. Bang Reja hendak mengunjungi adiknya dan saya akan balik ke kontrakan. Saya mengulangi rute yang saya tempuh ketika berangkat tadi, Ayala-TAFT-EDSA-Quirino. Di tengah perjalanan pulang saya memperhatikan beberapa penjual jajanan yang banyak dijumpai di pinggir jalan. Selain telor puyuh yang sudah saya ceritakan kemarin, kebanyakan berjualan kacang goreng, manisan buah-buahan, siomay, dan pisang tusuk bakar. Tergoda untuk mencoba, sayapun membawa pulang sebungkus kacang pedas bawang.

DSC01791  DSC01790DSC01786  DSC01792

***


Malam gelap menjelang, perlahan ufuk barat menelan matahari. Kemilau cahaya lampu tampak berderet di pinggir jalan. Bibir saya tergerak membisikkan takbir.  Sunyi, tapi saya tak merasa sendiri. Seluruh alam pasti serentak bergemuruh mengagungkan asma-Nya.
"Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar... Laa ilaha illallahu Allahu akbar. Allahu akbar walillahilham."

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini