4th USLS #8: Menjelajah Intramuros

7 agustus 2013

Sebelum fajar menyingsing teman-teman saya sudah meninggalkan hotel. Kebanyakan mengambil jadwal pagi agar bisa cepat kembali ke tanah air. Bagaimana tidak, besoknya adalah hari raya Idul Fitri, momen paling pas untuk kumpul bersama keluarga. Satu-persatu melepas kepergian mereka, saya hanya bisa melambai-lambai dan mengucapkan salam perpisahan. Semoga kita bertemu lagi kawan.

Rangkaian acara 4th University Scholar Leadership Symposium memang sudah selasai. Tetapi saya masih akan tinggal 2 hari lagi di Manila. Bukannya saya tidak ingin kembali pulang dan berjumpa keluarga, tapi saya ingin merasakan bagaimana merayakan Idul Fitri di tempat asing. Beruntung ada dua teman yang menemani, mas Idho dan mas Restu. Mereka berdua baru akan balik tgl 8 Agustus.

Sangat bersyukur kami bisa nebeng di rumah bang Reja Dalimunthe, presiden PPI Filipina. Selepas dhuhur kami langsung ke kontrakannya. Beruntung kontraknnya tak jauh, hanya beberapa blok dari Eurotel. Sesampai di sana kami rebahan melemaskan otot. Saya mengamati sekeliling. Tak begitu besar, tapi cukup rapi dan nyaman untuk tempat tinggal seorang mahasiswa perantauan.

Karena bang Reja masih belum pulang, kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Kami pergi Intramuros, semacam kota tua di Jakarta. Kalau kota tua bangunan peninggalan belanda, Intramuros merupakan peninggalan spanyol. Secara bahasa Intramuros berarti within the wall, tak heran bila area seluas 0,67 km2 ini dikelilingi tembok pertahanan. Fort Sandiago yang saya ceritakan sebelumnya juga termasuk area Intramuros.

intramuros map

Dalam perjalanan kami mencoba jajanan pinggiran. Saya lupa namanya, tapi ini sejenis telur puyuh yang digoreng dengan tepung. Lalu setelah matang disiram dengan saus acar. Untuk tiap empat biji harganya 10 peso atau jika dirupiahkan Rp 2500. Dengan harga yang relatif terjangkau jajanan ini bisa dikatakan lumayan enak. Setidaknya masih bisa dirasakan lidah Indonesia.

Satu hal yang saya dapat ketika mengunjungi beberapa tempat wisata, sepertinya semua terintegrasi mengusung satu jargon yang sama, “It’s more fun in the Philippines”. Bahkan tukang traysikad (becak) juga ngeh ketika ditanya soal ini.







Kembali ke Intramuros. Bangunan-bangunan bersejarah di Intramuros cukup terawat. Beberapa bangunan di antaranya Manila Cathedral, Plaza de Roma, Fort Santiago, Palace de Gobernador, Casa Manila, dan University of santo Thomas. Setelah capek berjalan-jalan kami pun kembali. Di Filipina kita tak perlu takut tersesat ketika jalan-jalan. Sebagian besar masyarakat pinoy bisa berbahasa Inggris.

DSC_5106 DSC_5147

DSC_5119 DSC_5112

Saya yakin tempat-tempat pariwisata di Indonesia jauh lebih indah dari Filipina. Tinggal bagaimana kita mengemas “wonderful Indonesia” kita menjadi hal yang menarik di mata dunia.

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini