4th USLS #5: Gemuruh Suara di Baseco

4 agustus 2013

Alih-alih menggunakan pepatah awiting trisno jalanan saka kulino, mungkin lebih tepat jka berpijak pada teori deminishing of marginal utility. Karena tak ada variasi apapun, makan sahur dengan menu yang sama membuat saya bosan. Tapi tak ada pilihan lain. Saya harus menyiapkan banyak tenaga untuk aktivitas lapangan hari ini. Beruntung malam sebelumnya saya membeli mie instan di mini market sebagai lauk tambahan. Setidaknya mie yang diimpor dari Indonesia ini memiliki rasa yang saya kenal. Rasa mahasiswa. IYKWIM.

Khusus hari ini para delegasi tidak berkumpul di PICC. Kami dipecah dan diantar ke-tiga destinasi yang berbeda. Para penghuni Eurotel berbondong-bondong pergi ke Baseco, semacam slum area yang sangat luas di Manila. Kondisi Baseco sangat memperihatinkan; kumuh, sesak, bau, kotor, dicampur jadi satu. Sangat jauh berbeda dengan pusat kota yang sebenarnya hanya 20 menit dari situ. Gedung perkantoran, hotel, dan mall seakan enggan menoleh ke kawasan ini. Ketimpangan pembangunan yang terjadi seperti ini sangat merugikan golongan bawah.

baseco-2005DSC01700

Kegiatan dilaksanakan di Baseco Evacuation Center, sebuah bangunan yang didirikan lembaga donor Internasional. Selama sehari penuh saya bersama Faiz ber-partner dengan salah satu anak Baseco, yakni Norvic Manola. Ia adalah seorang anak 11 tahun yang tinggal di sana, suka makan sayur, dan bercita cita menjadi polisi.

Seperti yang dikatakan Janice Leong dalam sambutannya, “now is time for you to dedicate your time and your love” seharian ini berbagi rasa dengan anak-anak Baseco. Ini saatnya mendengarkan gemuruh suara hati di Baseco.

Di sana kami melakukan banyak kegiatan, dan semuanya berkaitan dengan anak-anak. Kami belajar tentang keseimbangan kewajiban dan hak anak. Setelah itu kami bermain game sebagai aplikasinya. Kami juga menggambar imajinasi kami tentang anak. Saya, Faiz, dan Norvic masing-masing membuat satu karya.

Camera 360Camera 360

 

Camera 360Camera 360

Norvic tak banyak bicara. Ia cukup mengerti bahasa Ingrris ketika mendengarkan namun sulit untuk mengungkapkan. Dia lebih sering senyum-senyum sendiri ketika diajak bicara. Tapi kelihatan jelas kalau dia menikmati jalannya acara. Terlebih saat mengecat mural di tembok pagar bangunan. Dan di akhir acara kami membuat gelang persahabatan dengan tali yang kami anyam sendiri.

Melepas penat saat break sore, ada suara yang tak asing terderngar di telinga saya. Awalnya saya tak terlalu yakin. Tapi setelah mendengarkan dengan seksama, saya merasa terenyuh ketika tahu bahwa itu adalah gemuruh suara Adzan Baseco. Inilah adzan pertama yang saya dengar di Filipina. Bermodalkan alas koran, kami shalat ashar di sebuah ruang kosong.

Dalam sujud saya merasa bersyukur menjadi seorang anak yang beruntung - memiliki orang tua yang peduli, memiliki masa kecil yang bahagia, memiliki kesempatan mengenyam pendidikan, dan hidup dengan layak. Tak terbayang bila saat kecil saya harus bekerja demi hidangan di meja layaknya kebanyakan masyarakat di sana.

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini