4th USLS #4: Menjadi Pinoy

3 agustus 2013

Sebelum sahur saya sempatkaan beberapa rakaat terlebih dahulu. Sayang jika 10 hari terakhir ramadhan ini dibiarkan begitu saja. Ngantuk? Pasti. Tapi mau tak mau harus memaksakan diri jika tak mau kembali bergulung di kasur. Bukan berarti harus keluar dari zona nyaman, tapi menyamankan diri dengan zona luar.

Masih sahur dengan lauk yang sama; sereal, telor, salad dan roti. Entah kenapa jadi teringat masakan ibu di rumah. Mungkin karena lidah pribumi, saya jauh lebih menikmati masakan tanah air ketimbang di negara manapun (belum kemana-mana sih sebenarnya).

Bicara soal makanan, para delegasi muslim tidak bisa mengikuti sesi break lunch karena puasa. Dan panitia tidak memfasilitasi pembungkusan. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya sengaja membawa box makanan kosong. Sangat disayangkan bila tak bisa mencincipi masakan Filipina. Setelah shalat dhuhur saya menemui seorang pelayan untuk minta dibungkuskan. Awalnya sedikit malu-malu, tapi dengan mental perut mahasiswa, saya beranikan diri saja. Toh, saya tidak mencuri. Untungnya mas-masnya melayani dengan ramah.

Setelah istirahat siang ada presentasi dari para delegasi untuk menjelaskan projek sosial yang akan dilakukan seusai rangkaian kegiatan 4th USLS.  Bermacam-macam ide diutarakan, mulai dari beasiswa pendidikan, pengentasan pengangguran, membuat jaringan kepedulian-sosial antar kampus, hingga pelatihan untuk nelayan. Menurut pendapat saya pribadi, ide/gagasan yang diajukan para peserta tidak terlalu mencengangkan, bahkan banyak yang cenderung biasa saja. Mungkin masih banyak kegiatan sosial di Indonesia lebih unik. Tapi yang harus saya acungi jempol adalah keberanian mereka dalam menyampaikan, kesungguhan mereka dalam menjalankan, serta optimisme mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Sebenarnya di hari ini juga ada tiga pembicara yang tak kalah serunya dibanding kemarin. Dua aktivis sosial dan satu motivator. Tapi ada baiknya tulisan kali ini diselingi hal menarik lainnya, seperti sedikit cuplikan kehidupan di Filipina.  Seperti di Indonesia, Filipina memiliki transportasi publik seperti becak yakni traysikad dan yang seperti angkot yakni jeepney. Karena bentuknya panjang, jeepney bisa memuat penumpang lebih banyak dari pada angkot.

DSC01558DSC_4498

Kalau dibuat jurnal, mungkin kita harus mencamtumkan akun prepaid expense karena kita harus membayar dahulu sebelum sampai tujuan. Cara membayarnya pun cukup unik, tidak langsung ke pa sopir. Kita bisa menyalurkan uang (8 php dekat, 15 php jauh) kita ke penumpang lain dengan bilang, “bayad (bayar)”. Kemudian penumpang itu akan menyalurkannya ke penumpang lain hingga sampai di tangan pak sopir. Setelah sampai tujuan kita bisa bilang "para po" ke sopir.

Selepas kegiatan di PICC, para delgasi di antar menuju Mall of Asia yang kabarnya mall terbesar di Asia. Rombongan teman-teman Indonesia langsung menuju restoran untuk berbuka. Saya hanya memesan nasi karena box saya penuh lauk yang harus segera dieksekusi. Tak butuh waktu lama ikan tuna saus spesial dan sayur tumis ludes habis dilahap masyarakat kelaparan ini.

1102463_606039262780973_67671474_o DSC_0192

Setelah itu kami berjalan-jalan menyusuri mall. Mall ini terdiri dari beberapa gedung. Tentunya tidak ke semua penjuru karena memang terlalu besar. sebenarnya saya tidak menemukan sesuatu yang spesial selain luasnya. Isinya tak jauh berbeda dengan mall-mall di Indonesia. Harga barang-barang di MoA juga tak jauh berbeda. Bahkan untuk pakaian seperti T-shirt cenderung lebih murah. Tidak terlalu lama kami menelusuri MoA karena kami harus segera kembali ke hotel untuk istirahat. Besok ada agenda kegiatan outdoor yang pasti butuh tenaga lebih.

Hari ini sepertinya kami mulai merasakan menjadi pinoy (sebutan orang Filipina). Kami sudah tahu rasanya tinggal, jalan-jalan, hingga makan. Tapi kurang greget kalau belum mencoba kendaraan khas Filipina. Akhirnya kami pulang naik jeepney. Kebetulan di dekat MoA ada terminal jeepney. Setelah membayar 15 peso, gas ditancapkan dan roda jeepney mulai berputar. Kira-kira 20 menit Jeepney berjalan, kami sudah memasuki wilayah pedro gil. Eurotel sudah di ujung mata. Kami sempat saling bertatapan sebentar sebelum teriak

“Para, po!”

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini