4th USLS #1: Di Atas Bumi Temasek

Satu hal yang membuat ramadhan ini sama dengan tahun lalu adalah saya menghabiskan sebagiannya di luar tanah air tercinta. Tapi yang membuat beda adalah waktu, tempat, dan orangnya. Tahun lalu saya beserta keluarga menghabiskan 10 hari pertama Ramadhan di Arab Saudi. Sedangkan tahun ini saya beserta delegasi Indonesia menghabiskan 10 hari terakhir Ramadhan di Filipina. Saya menghadiri 4th University Scholar Leadership Symposium yang diselenggarakan Humanitarian Affair UK di Manila. Walaupun bukan hal yang luar biasa, tanpa bermaksud menyombongkan diri, saya pikir tak ada salahnya untuk berbagi kisah perjalanan 10 hari ini.

***


31 Juli 2103

Pagi sekali saya beranjak dari tempat tidur. Jangan tanya matahari, rona fajar pun masih sulit ditangkap mata. Denting sendok-piring memecah keheningan. Senang rasanya saya bisa sahur terlebih dahulu bersama keluarga. Setelah memastikan semua siap tanpa ada yang tertinggal, kami bertolak menuju bandara Juanda, Surabaya. Lamongan memang belum punya bandara sendiri. Mungkin suatu saat nanti.

Saat sudah di surabaya, kami ke kantor walsama dulu. Sebelumnya saya belum sempat menukar uang di Lamongan (di Lamongan tak tersedia peso). Saya berterima kasih kepada pakdhe Nadhir yang mau dititipi uang. Sekedar informasi, saat itu kurs rupiah memang dalam kondisi lemah. Untuk setiap satu peso berharga Rp 242. Sedangkan satu dollar Singapore Rp 8.050.

Saat menunggu di gate 9 keberangkatan internasional saya duduk sambil membaca buku. Di dekat saya ada rombongan ibu-ibu. Bukan bermaksud menguping, dari pembicaraan mereka yang cukup ramai saya tahu mereka adalah para TKW yang hendak menuju hongkong. Salah satu dari mereka sedang menelpon seseorang di rumah, sepertinya suami dan anaknya. Saya tak melihat wajahnya langsung, tapi saya tahu dia menangis dari pundaknya yang gemetar sesenggukan. Pasti sangatlah berat meniggalkan keluarga untuk waktu yang lama. Mungkin saya sedikit bisa merasakan hal yang sama karena sejak SMP saya telah bersekolah di luar kota dan jarang sekali bertemu orang tua. Tapi saya bersyukur dengan kondisi saya yang lebih beruntung.

Maskapai penerbangan yang saya naiki tidak langsung mengantarkan saya ke Manila. Saya harus transit terlebih dahulu ke Singapura selama 11 jam. Ya, sangat lama, tapi bukan alasan untuk menjamur – menunggu keberangkatan berikutnya. Banyak hal yang bisa dilakukan di sana. Dan hal pertama yang wajib dilakukan adalah shalat dhuhur di prayer room Changi.

DSC01542DSC01541

“Assalamu’alaikum, kaifa khaluk akhi?” Sapa saya pada seorang berwajah timur tengah di mushalla itu.

“Alaikum salam, alhamdulillah khair. Kamu apa kabar?”

Di Mushalla tersebut saya bertemu dengan rombongan muslim Banglades. Rupanya mereka telah tinggal di Indonesia sebelumnya. Selama empat bulan mereka menyusuri Kalimantan untuk berdakwah.

“Masya Allah. Ini dunia, sebentar. Akhirat lama. Ambil akhirat” dengan menggunakan gesture tubuh dan bahasa indonesia seadanya, ia memberiku nasihat hidup. Bagaimanapun kondisinya, baligghuni walau ayah. Sampaikanlah walau ayat.

Bandara Changi memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Bermodalkan buku panduan airport, saya bisa menikmati berbagai fasilitas yang disediakan secara cuma-cuma. Bermain game di entertainment desk, nonton film di movie teater, video chat di media center, nongkrong di sunlower garden, foto-foto di orchid garden, liat ikan di kolam koi, akses internet super mudah, dan bisa minum air sepuasnya.

DSC01545DSC01471DSC01483DSC01481

Belum greget rasanya kalau hanya bermain-main di dalam airport. Saya memutuskan untuk berpetualang di atas bumi Temasek ini.  Tak terlalu sulit bagi pemula untuk berwisata di sana. Saya hanya perlu memahami buku panduan MRT/LRT dan peta wisata.

Pertama, saya mengunjungi Asian civillations Musem. dari sana saya tahu bahwa sebelum diduduki Sir Stamford Raffles, Singapura pernah menjadi bagian dari Sriwijaya yang dikenal dengan nama Temasek. Setelah itu saya pergi ke merlion park, tempat mainstream tujuan kebanyakan turis.  Perjalanan  di lanjutkan ke bugis street. Saya membungkus nasi padang untuk berbuka di airport. Sedikit menyesal karena belum sempat ke Masjid Sultan yang merupakan masjid terbesar di Singapura.

DSC01535DSC01522

DSC01498 DSC01539

Saat balik menuju airport saya melihat hal menarik yang membuat saya tertegun. Makhluk itu sungguh cantik. Walaupun hanya sekelebat MRT lewat dan tak melihat langsung wajahnya, saya yakin dia punya hati yang cantik. Bagaimana tidak, dari sekian banyak orang yang ada di gerbong MRT, hanya dia yang menjaga hijabnya, dan hanya dia yang sedang berdiri memegang lembaran mu’jizat itu. Ia sedang membaca al-quran. Ya, gadis berjilbab putih itu membuat saya malu karena seharian ini belum nderes sama sekali.

Sekembalinya di Changi, saya berbuka puasa di sunflower garden sembari melihat pemandangan langit terbuka. Di atas sana pesawat sibuk lalu-lalang, seakan tak peduli di waktu inilah Allah memberikan salah satu dari dua janji kenikmatan bagi orang yang berpuasa. Satu untuk nikmat berbuka, satu lagi yang akan didapat di akherat. Dan saya berdoa agar masuk dalam orang yang beruntung bisa memperoleh nikmat tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

Memperjuangkan

Memahami Penaklukan Andalusia dengan Game Theory Sederhana