Ujian

Asap mengepul dari cangkir yang terisi penuh. Semerbak aroma kopi terendus - mengangkat kembali wajah yang tertunduk lesu, membuka lagi mata yang mulai redup. Malam itu sungguh melelahkan. Tapi sepertinya masih banyak materi kuliah yang belum kukejar. Sementara ujian esok hari tak mengijinkanku untuk bergulat dengan nyamannya kasur tidur. Ah, sering kali aku terjebak dalam moral hazard – terlena dengan hiruk pikuk kesibukan kampus yang membuatku tertatih-tatih dikejar waktu menjelang ujian.

Selalu ada ujian yang menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang. Dan tentunya ada ujian yang lebih penting dari sekedar lembaran soal kuis, UTS, ataupun UAS. Ya benar, ujian kehidupan dari-Nya.

storm-boat

Tak seperti di kampus, ujian yang satu ini bisa datang kapan saja. Siap tidak siap kita harus menghadapinya.
[Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah: 155)]

Kita tahu bahwa hidup tidak seperti bermain perahu di tengah danau yang tenang. Hidup sepereti pelayaran di lautan samudra luas yang seakan tak bertepi. Kapal yang kita kendarai bagai keimanan yang setiap saat menerima hantaman gelombang ombak dan badai ujian. Secara progresif ombak ujian tersebut datang menyesuaikan besar kapal keimanan. Walaupun demikian, Allah tidak akan mendatangkan ombak yang tak sanggup dihadapi kapal tersebut. Tinggal bagaimana kita pandai memanuver laju kapal. Kita sendiri yang menentukan apakah ingin terhempas ke lautan, terdampar karam, atau justru berselancar dengan indah dan berlabuh di dermaga surgawi-Nya

Dari ayat di atas, Allah memberikan kisi-kisi materi yang akan diujikan, yakni ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Tak perlu menyiapkan cheating sheet, dalam menghadapi ujian kita harus menyiapkan diri kita sendiri dengan kesabaran.

Rasa takut manusia berasal dari penilaiannya pada suatu materi. Semakin berharga dan dicintai suatu benda/seseorang, maka rasa takut akan kehilangan itu akan semakin besar. Ketika berhadapan dengan preman-preman, bukan wajah menyeramkan mereka yang membuat kita merinding. Tapi rasa takut akan badan yang disakiti atau harta yang akan diambil yang membuat kita bergemeletuk gigi. Begitu pula saat belajar, rasa takut ada untuk mempertahankan nilai yang baik. Sebenarnya rasa takut ini ada sebagai mekanisme pertahanan diri agar manusia tidak kehilangan hal yang berharga darinya. Tapi tak sebutir debu pun di dunia ini yang bukan milik-Nya. Tak seharusnya kita terlalu protektif - mempertahankan dengan segala cara atas apa yang sewaktu-waktu bisa kembali pada empu sejatinya.

Kelaparan (jasmani dan ruhani) membuat diri kita bernafsu menguasai sesuatu. Pengendalian diri yang buruk lapar akan berakibat pada egoisme. Apapun akan dilakukan untuk memuaskan perut yang kelaparan itu. Sedangkan harta, jiwa, dan buah-buahan menunjukkan kenikmatan duniawi yang menggoda diri.  Inilah simbol-simbol kesuksesan yang bisa mengkaramkan kapal kita.

Dan senjata yang paling ampuh untuk bisa memanuver kapal dari hantaman badai dan ombak adalah kesabaran. Dengan kesabaran kita bisa meredam rasa takut akan kehilangan hal yang berharga. Dengan kesabaran, perut kita terganjal dari rasa lapar (jasmani dan ruhani). Dengan kesabaran kita mempunyai kelapangan dada untuk menampung harta, jiwa, dan buah-buahan yang seakan-akan tak ada habisnya. Dan dengan kesabaran kabar baik akan berhembus mengantarkan kita berlabuh ke dermaga dengan tenang.

Tegukan kopi terakhir melewati tenggorokanku. Tidak sepanas sebelumnya, namun cukup untuk membakar semangatku. Tetap menjaga kondisi badan,  namun materi harus segera dituntaskan. Kuharap bukan hanya ujian esok hari yang bisa kukerjakan dengan lancar, tapi juga badai-ombak kehidupan dapat kulewati agar bisa berlabuh dengan tenang. Sehabis ber-isti’raj, kubaca do’a yang disarankan Rasulullah pada Abu Salamah ketika menghadapi musibah.
Ya Allah berilah daku pahala atas musibahku ini, dan gantikanlah buatku yang lebih baik darinya.

 

 

 

Sumber:

Tafsir Ibnu Katsir Juz 2, Al - baqarah: 155-157 (hal 51-59)

Tafsir online Al-Barru, Al - baqarah: 155

http://www.tafsir-albarru.com/al-baqarah/222-al-baqarah-ayat-155.html

 

gambar:

http://sdrobbwritesblog.wordpress.com

Comments

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Luka

Rembulan Malam Ini