Saya Prihatin tweeps

sby

Dengan lebih dari 19,5  juta akun, Sebuah lembaga survey manyatakan Indonesia menjadi negara kelima pengguna twitter terbanyak di dunia. Tepat pada 13 April 2013 kemarin Bapak Presiden SBY menjadi satu pengguna resminya. Mengikuti jejak beberapa pemimpin dunia, orang nomer satu di Indonesia itu kini telah menjadi bagian dari net-citizen. Hal ini ramai diperbincangkan masyarakat dengan tanda tanya yang senada, Apa yang akan di-tweet Pak SBY?

Salah satu juru bicara staf kepresidenan menyatakan akun twitter tersebut berfungsi sebagai alat penampung aspirasi masyarakat. Perlu dipikirkan seberapa siap pak SBY menerima kritik dan kabar buruk untuk yang ekstrim sekalipun. Dan yang paling penting, bagaimana respon Pak Presiden sendiri dalam menanggapi tweet-tweet tersebut. Jika akun twitter @SBYudhoyono itu hanya mendengungkan keluh keprihatinan maka usaha penjaringan aspirasi tersebut akan menjadi kesia-siaan. Berapa kali pun kalimat itu di-retweet tak akan ada artinya jika sekedar prihatin tanpa ada aksi.

Indonesia belum mempunyai landasan hukum yang jelas untuk mengatur kicauan di media sosial. Seburuk apapun hujatan dan candaan yang dilontarkan masyarakat pada akun Pak SBY, masih belum ada aturan pasti yang bisa menjerat secara khusus. Sementara itu isu penghinaan atas presiden sedang hangat diperbincangkan. Akan lebih parah bila ada yang berhasil meng-hack akun dan merusak citra pemerintahan. Jikalau ada, semoga saja para hacker itu hanya ingin iseng memberikan sedikit tambahan khas twitter pada frase andalan Pak SBY, “Saya prihatin, tweeps”.

Cukup dua dengan kali matahari terbenam, akun tersebut telah mencapai 600.000 followers. Twitter kini telah menjadi ajang propaganda politik. Telah banyak para elit politik yang menggunakan twitter sebagai media pencitraan. Jumlah follower dapat menjadi indikator popularitas seseorang, walaupun memang hanya sebatas pada masyarakat yang melek teknologi dan informasi.

Namun, akan sangat tidak pantas bila Pak SBY beserta para elit politik lainnya hanya menebar citra melalui tweet-tweet yang kurang bermakna. Apalagi kalau itu hanya ditujukan untuk menumpuk jumlah pengikut. Jangan sampai twitter semakin mempermudah mereka untuk menebar janji yang sulit ditagih. Kiranya cukup bagi mereka berkicau tentang progres pemerintahan dan kebijakan strategis yang dijalankan.
"Halo Indonesia. Saya bergabung ke dunia twitter untuk ikut berbagi sapa, pandangan dan inspirasi. Salam kenal. *SBY*"

Begitulah bunyi tweet pertama Pak SBY. Salam sapa Bapak Presiden. Semoga tujuan penggunaan akun tersebut bisa dilaksanakan dengan baik. Tweet memang bisa dihapus. Tapi sekali kata terucap, mata dan telinga tak bisa memuntahkannya kembali.

Comments

  1. halo Piyan, saya sudah balas ya emailnya. atau mau dicopas di sini aja komentar saya untuk tulisannya? :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Memahami Penaklukan Andalusia dengan Game Theory Sederhana

Laksana Hujan