19 Tahun

autumn_flower_by_eugeniea-d5ftjrh


Kuperhatikan lekat-lekat bunga yang gugur itu. Lima centimeter per detik. Terjatuh pasrah pada tarikan gravitasi. Kelopak bunga itu benar-benar terlepas meninggalkan tangkainya. Keindahan mahkota telah pergi, meninggalkan kebermanfaatan pada seonggok bakal buah. Dan di dalam buah itu tersimpan janji kehidupan baru dari sebuah biji. Setiap kehidupan memiliki pola  tersendiri dan waktulah yang akan menggariskan pola itu.

Bagaimana denganku? Lahir-kecil-remaja-dewasa-tua, lalu mati? Bagaimana denganmu, teman-temamu, tetanggamu, atau saudaramu? Lahir-kecil-remaja-dewasa-tua, lalu mati? Perhatikan juga kisah orang-orang terdahulu. Apakah lahir-kecil-remaja-dewasa-tua, lalu mati?

Mati memang sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. tapi itu bukanlah tujuan, bukan akhir dari garis pola manusia. Karena justru ada kehidupan yang lebih kekal setelah kematian itu. Kehidupan yang sesungguhnya itu ditopang dari setiap fase sebelum kematian. Sekarang yang perlu dipertanyakan adalah bukan apa bentuk pola itu tapi bagaimana membentuk pola itu agar lebih bermakna. Bukan sekedar Lahir-kecil-remaja-dewasa-tua, lalu mati.

Sembilan belas tahun sudah aku menjalani fase kehidupan di dunia. Entah berapa lagi waktu yang tersisa. Tak ada yang mengerti kapan hembusan nafas berhenti. Ya Allah, maafkan aku atas setiap kesempatan yang terlewat, atas waktu yang tersia-siakan, atas dosa yang mengkotori kesucian firahku sebagai manusia. Boleh jadi menjadi bunga yang gugur akan jauh lebih baik. Tapi tak seharusnya aku menyesal atas kehidupan. Sebelum seonggok daging pun terbentuk, dulu aku telah berjanji untuk mengemban amanah berat ini.

Sungguh tak sampai 19 tahun bagi Usamah bin Zaid untuk menjadi orang yang luar biasa. Di usianya yang masih belia itu, ia diamanahi menjadi panglima perang – memimpin pasukan muslim menghadapi pasukan Ramawi. Ia memiliki keberanian yang luar biasa. Ia menggariskan pola yang indah baik sebelum pergi, dan memastikan sukses panen setelahnya. Di umur 10 tahun ia hendak mengikuti perang Uhud namun ditolak karena terlalu muda. Alih-alih menyerah, saat berusia 15 tahun ia mencoba kembali dan akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan pasukan mujahid di perang Khandaq. Rasulullah begitu mempercayainya. Ketika terdengar desus keraguan di kalangan sahabat, Rasulullah dengan tegas bersabda,

“Saya mendengar pembicaraan mengenai pengangkatan Usamah, demi Allah, seandainya kalian menyangsikan kepemimpinannya, berarti kalian menyangsikan juga kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah, Zaid sangat pantas memegang kepemimpinan, begitu juga dengan putranya, Usamah. Kalau ayahnya sangat saya kasihi, maka putranya pun demikian. Mereka adalah orang yang baik. Hendaklah kalian memandang baik mereka berdua. Mereka juga adalah sebaik-baik manusia di antara kalian.”

Jangankan untuk menjadi seorang panglima perang seperti sang Hibb Rasulullah (jantung-hati Rasulullah), meluruskan niatku untuk berjihad di jalan-Nya pun masih sangat sulit. Sembilan belas tahun sudah kepengecutan itu terus menggerogoti dan entah kapan dan di mana titik balik itu datang. Ketika musim berbuah telah tiba, aku masih sibuk berusaha memekarkan bunga.

Sebenarnya tak ada yang spesial dengan hari ini (10 April). Tak perlu ada yang dirayakan, tak perlu ada tepuk gembira. Tapi, tetap kuucapkan terima kasih untuk seluruh doa yang terucap, harapan yang tersampaikan, serta dukungan yang begitu luar biasa. Semoga semua itu menembus langit bagai lemparan koin yang kedua sisinya bertuliskan kata amin. Bukan cuma untukku, tapi juga  berbalik untukmu. Tak perlu menunggu tanggal tertentu untuk saling mendoakan, bukan? Mari terus saling mendoakan. Demi menggariskan pola yang indah, untuk panen buah yang lebih baik, untuk janji kehidupan sesudah mati.

Comments

  1. Saya rasa, bukan 'tak perlu', namun 'bagaimana' cara merayakan.
    Merenung-- akhirnya juga menjadi perayaan bagi tanya yang tak terjawab.

    Satu lagi --mungkin di luar topik--. Tidak semua bunga gugur dengan kecepatan lima sentimeter per detik, kecuali jika yang anda bicarakan di sini adalah bunga--yang merupakan awal sebuah pertemuan yang (jadi) tertunda karena laju dua kereta di ruang-waktu (nyaris) sama.

    ReplyDelete
  2. hmm... terima kasih untuk persepri 'raya' yang baru. mungkin egoisme saya yang mempersempit pemaknaan sebuah perayaan yang tak harus kasat mata.

    ya bunga yang itu, kebetulan waktu itu baru nonton filmnya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Memperjuangkan

Memahami Penaklukan Andalusia dengan Game Theory Sederhana

Laksana Hujan