7 cm

Basah, namun tak sebutir air hujan pun yang jatuh. Gerah, tapi cahaya bulan tentu tak bisa menyengat. Asin, sengaja atau tidak, terkadang kau pun pernah merasakannya bukan? Berhimpitan dengan banyak orang dalam kendaraan umum memang tak terlalu nyaman. Tapi sepertinya lelah ini membuatku tak berdaya untuk memprotes situasi. Apalagi senja itu aku cukup senang mendapatkan banyak inspirasi.

Deru kendaraan mengerang tanpa henti. Bunyi nada F yang dikeluarkan klakson saling bersahutan. Sayangnya ketiadaan harmoni menjadikan itu semua sekedar kebisingan. Kukira jalan ini sudah cukup lebar. Tapi tetap saja besi-besi ini masih harus merayap. Dengan jumlah mobil sebanyak ini, mungkin sedikit sangsi jika Indonesia dikatakan sebagai negara miskin. Ah, tak perlulah aku meributkan urusan yang tak pernah kumengerti ini. Kuperhatikan bulan gompal di atas sana. Tak seindah seperti yang digambarkan puisi. Hampir membentuk sabit, melengkung seperti senyum yang kulihat sore itu. Senyum yang mengembang 7 cm.

***


Tak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama dalam mendapatkan pendidikan. Saat ada seorang siswa menyalakan laptop di kelas ber-AC untuk mengerjakan tugas, saat itu pula ada yang mengais sampah – berharap mendapatkan buku tulis yang menyisakan halaman kosong. Di satu sisi terdapat seorang anak yang hendak mengikuti kompetisi di kancah internasional, di sisi lain ada yang berkompetisi mencari pelanggan di pasar tradisional. Mungkin tak ideal, tapi bukan berarti Allah tak adil. Hanya mungkin kita belum mengerti bagaimana menyikapi keadilan tersebut. Meminjam istilah Anis Baswedan, “Mendidik adalah tugas setiap orang terdidik”, sudah seharusnya kita (yang merasa terdidik) mengambil peran untuk mengikis ketimpangan di dunia pendidikan itu.

Melalui program sosial yang diselenggarakan lembaga eksekutif di kampusku, aku menemukan wadah yang tepat. Bekerjasama dengan sebuah lembaga nonprofit yang merintis sekolah di terminal Depok, kami membuka kelas bimbingan untuk persiapan dalam menghadapi Ujian Nasional dan ujian masuk perguruan tinggi. Mereka yang mengikuti program ini adalah anak-anak di sekitar terminal depok yang mempunyai mimpi untuk diperjuangkan.

Mungkin di sana statusku sebagai pengajar, tapi justru aku yang banyak belajar dari mereka. Lebih dari sekedar teman berbagi, mereka adalah inspirasi. Anak-anak itu, saat pagi mereka bekerja untuk menyambung hidup. Kegiatan mereka bermacam-macam mulai dari pedagang asongan, penjaga toko, pelayan rumah makan, karyawan usaha sound-system dan berbagai kegiatan lainnya, asalkan itu halal dan dapat menutupi kebutuhan pokok mereka. Setelah lelah bekerja mereka masih menyisakan semangat untuk belajar di sore hari. Alih-alih beristirahat, mereka lebih memilih untuk menimba ilmu. Tentu aku malu bila memasang wajah suntuk setelah seharian kuliah.

Aku bukan tipe orang yang handal sebagai pengajar. Selain penguasaan ilmu yang hanya seadanya, kemampuanku dalam mentransfer ilmu juga tak begitu lancar. Tapi tak seharusnya itu  menjadi alasan untuk menolak berbagi, sekali lagi, karena mendidik adalah tugas tiap orang terdidik. Aku yang telah mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak ini sudah seharusnya mengambil peran. Toh, sebagai mahasiswa tahun pertama, aku masih punya banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan.

Jangan tanya soal fasilitas. Di sini kami belajar serba pas-pasan. Masih beruntung kami punya ruang kelas yang terbuat dari peti kemas. Soal bangku, ubin putih itu sudah cukup empuk. Asalkan bersih dan rapi, semua jadi terasa nyaman. Papan tulis yang bergelombang, ventilasi yang kurang efekktif, lampu yang sering padam mendadak, semua itu tak mempengaruhi semangat mereka untuk belajar.
“Saya ingin jadi guru ka. Biar saya bisa ngajar banyak orang seperti kakak. Nanti yang saya ajar bisa ngajar banyak orang lain. Jadi yang makin pinter tambah banyak.”

Seperti itulah jawaban seorang anak yang kutanyai mimpinya. Sederhana namun penuh makna. Tentu dia belum mempelajari teori multiplier effect ataupun domino effect.Tapi dia sedikit memahami pentingnya usaha berkesinambungan dalam mengatasi permasalahan dunia pendidikan. Di balik senyum 7 cm-nya itu ia menyimpan banyak harapan. Memang klise, tapi aku tak pernah meragukan senyuman itu.

Comments

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu