Tahu Sama Tahu

Aku bersama teman-teman dari Lamongan pergi ke SMA-SMA di sana untuk megadakan acara sosialisasi. Mengenalkan dunia perkuliahan pada calon pengemban amanah negeri. Dari kota ke desa kami coba kunjungi. Bukan tugas kuliah, tapi ini inisiatif dari hati. Bukan untuk promosi, namun untuk memberikan wawasan dan motivasi. Bukan juga berniat pamer, melainkan mencoba untuk berbagi.

Teringat satu mata kuliah yang menjelaskan sebab kegagalan pasar adalah asymmetric information*. Ketidakmerataan informasi akan menimbulkan kerugian tersendiri, salah satunya dijelaskan dalam model adverse selection. Dalam model adverse selection, ketidaktahuan suatu pihak akan informasi dalam pasar cenderung membuatnya menyingkir dari transaksi walaupun sebenarnya menguntungkannya.

Misal, di sebuah pasar mobil bekas tidak banyak konsumen yang mengetahui kondisi barang sebenarnya dan harga semestinya. Mereka berpikir bahwa banyak penjual yang akan mengambill keuntungan lebih atas ketidakmerataan informasi itu. Padahal kenyataannya belum tentu demikian, banyak yang masih menjual mobil berkualitas dan masih sesuai harga. Tentunya dengan keterbatasan informasi konsumen sulit membedakan. Hal ini akan mendorong konsumen enggan membeli di pasar mobil bekas. Pada akhirnya pasar kurang laku, orang enggan menjual mobil bekas berkualitas di sana, dan pasar hanya akan dihuni oleh barang yang tidak berkualitas.

Mungkin ini berkaitan dengan apa yang kuhadapi saat itu. Di kampung halamanku, lulusan SMA/SMK tak banyak yang benar-benar berniat melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Sebagian besar lebih memilih untuk bekerja ataupun menikah. Toh kalaupun ada yang ingin kuliah, itupun tak ingin jauh merantau. Ada momok tersendiri untuk memperjuangkan mimpi mereka berkuliah di universitas papan atas. Hal ini mengakibatkan input Universitas ternama didominasi oleh pemain itu-itu saja. Sementara daerah yang semestinya membutuhkan para sarjana berkualitas untuk mengembangkannya justru malah dibanjiri lamaran pekerja buruh. Tak heran bila ketimpangan antar daerah semakin menjadi-jadi.

Tak banyak yang mengetahui bahwa pendidikan berkualitas itu juga bisa didapat dengan biaya rendah. Banyak yang berpikir bahwa perlu modal besar untuk bisa mengenakan jaket almamater bergengsi. Banyak yang menutup mata dan telinga seraya serempak berkata, "m-a-h-a-l". Memang benar pepatah Jawa yang berbunyi, "Jer basuki mawa bea, segala sesuatu itu butuh modal". Tapi Nol besar bila modal itu diartikan secara finansial. Justru tekadlah yang seharusnya menjadi modal utama. Banyak sekali kesempatan beasiswa sekarang ini. Tinggal bagaimana usaha kita dalam mengejarnya.

Jauh. Inilah alasan kedua yang sering mereka lontarkan, j-a-u-h. Terlepas dari orang tua, meninggalkan kampung halaman, bertemu orang yang sama sekali baru, seakan masuk dunia antah berantah yang sebenarnya hanyalah sama. Meminjam ucapan Imam Syafi'i, "Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran."

Susah, ini yang ketiga. Rasanya sulit sekali untuk tergerak berbuat lebih demi mengejar yang tak pasti. Malas sekali untuk mengenyahkan kata s-u-s-a-h dan menggantinya dengan, "pasti bisa!". Namun tak seharusnya tantangan berat membuat kita menyerah sebelum bertranding. Memang terkadang usaha tidak menghasilkan apa yang kita inginkan. Tetapi yang jelas tak ada kesia-siaan dalam setiap usaha. Salah seorang temanku berusaha meyakinkan, "Urusan masuk atau enggak itu belakangan, yang penting kita usaha dulu!"

Analisis cost and benefeit harus dipertimbangkan secara matang dan tak berat sebelah. Keputusan yang diambil berdampak pada masa depan. Aku dan teman-teman memang tak bisa memberi apa-apa dalam sosialisasi itu. Tak ada jaminan yang bisa kami pastikan dan tak ada kepastian yang bisa kami janjikan. Kami hanya ingin mensimetriskan informasi - berharap tak ada adverse selection yang akan memperburuk keadaan. Setidaknya kalian semua tahu sama tahu.

DSC_0149 DSC_0135 DSC_0113.

 

sumber: Parkin, Michael. 2011. Economics. New York : Pearson

Comments

  1. keren bro! bangga punya temen kyk lu ^^

    ReplyDelete
  2. Duh, anak ekonomi sih ya jadi nulis aja arahnya ke sana. But excited write :))

    ReplyDelete
  3. Amiiinn amiiinn. Calon mentri lo~
    Inget, jangan mau jadi kader OTB ya sahabat

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Laksana Hujan

"Baik Baik Saja"

Hai Kamu